Tags

, , , , , , , ,

a little lifeJudul: A Little Life

Penulis: Hanya Yanagihara

Penerbit: First Anchor Books Edition (2016)

Halaman: 814p

Beli di: Periplus (IDR 158k)

Bulan Maret ini, acara Posting Bareng BBI yang digagas Divisi Event emang seru banget, karena kita diajak untuk ngetweet proses membaca buku pilihan kita selama bulan ini, dan mereviewnya bersama-sama di tanggal 31 Maret.

Saya memilih buku A Little Life (Hanya Yanagihara), yang memang sudah membuat saya cukup penasaran akibat ratingnya yang luar biasa tinggi di Goodreads (di atas 4 bintang!), dan juga berbagai penghargaan dan nominasi yang disabetnya. Saya membeli buku ini dengan penuh perjuangan (karena ada system error saat pembayaran) di Periplus online, ketika ada diskon yang lumayan banget di sana.

Dan inilah sekelumit tweet saya di @pippopu yang diikutkan dalam #BBILagiBaca:

twit1

twit2twit3

 

 

 

 

 

 

 

 

twit4

twit5twit6

 

 

 

 

 

 

 

 

twit7

twit8

 

 

 

 

 

 

 

 

Maafkan picturenya yang berantakan, karena saya nggak berhasil embed chirpstory maupun storify ke wordpress ๐Ÿ˜„

A Little Life bercerita tentang hubungan antara empat sahabat yang dipertemukan saat mereka berbagi tempat tinggal ketika kuliah di sebuah universitas di daerah Boston. Persahabatan tersebut terus berlanjut setelah mereka lulus dan bertemu kembali di kota New York, menapaki jalan menuju masa depan yang tampak agak suram dan tak pasti.

Willem, yang paling ganteng di antara mereka, bercita-cita menjadi aktor dan terus berusaha mencari celah supaya bisa tampil di panggung Broadway, meski harus sambil bekerja menjadi pelayan restoran.

Malcolm, yang lahir dari keluarga kaya kulit hitam New York, bermimpi menjadi arsitek sukses, sekalipun tampaknya apa yang ia lakukan tidak pernah berhasil membanggakan ayahnya.

JB, artis berbakat yang paling cuek, ceplas ceplos dan apa adanya di antara keempat sahabat ini, bertekad akan menjadi pelukis yang paling dibicarakan di abad ini.

Dan Jude, yang vulnerable, yang paling introvert, yang memiliki masa lalu misterius- berusaha bertahan hidup di tengah luka-luka hatinya, mencari keamanan di antara para sahabatnya- dan tidak berniat sedikitpun membuka diri di depan mereka.

Awalnya, A Little Life tampak seperti kisah coming of age yang innocent, yang akan penuh dengan pelajaran hidup penuh warna di tengah semaraknya kota New York. Namun kesan tersebut langsung pupus setelah kita diajak masuk ke dalam hidup Jude.

Jude memang menjadi sentral cerita di buku ini, yang kehadirannya membentuk keseluruhan kisah perjalanan keempat sahabat tersebut. Meski awalnya kita diberi kesempatan untuk mengenal keempatnya dengan porsi yang cukup seimbang, tidak terlalu lama sampai saya menyadari kalau fokus cerita akan jatuh pada Jude dan Willem.

Sayang memang karena sebenarnya saya lebih suka dengan karakter Malcolm dan JB yang menurut saya justru lebih asyik untuk dieksplorasi ketimbang Jude dan Willem yang sebenarnya agak tipikal.

Satu hal yang membuat saya agak susah relate dengan buku ini adalah konsep waktu-nya yang terlalu fluid. Hanya Yanagihara tidak menyebutkan periode tertentu sebagai setting bukunya, sehingga agak susah membayangkan dengan akurat suasana yang terjadi saat itu. Meski banyak adegan yang mencerminkan era 80an, namun kontradiksi pemakaian handphone dan alat teknologi lainnya membuat aura vintage tersebut terasa kurang pas. Belum lagi format kisah yang maju-mundur dengan terlalu fluid tanpa ada batasan jelas antara masa lalu, masa kini, atau masa yang baru saja lewat, membuat saya kurang bisa menikmati cerita secara keseluruhan akibat sering diajak melompat-lompat saat dengan khusyuk merenungi satu momen tertentu.

Yang juga terasa kurang sreg bagi saya adalah believability para karakternya. Yes, mereka sangat mudah untuk diselami, karakter masing-masing pun digambarkan sangat kuat. Yang cuek, yang introvert, yang sosial, yang ramah, dan lain sebagainya. Tapi bahwa keempatnya digambarkan memiliki kesuksesan luar biasa- baik sebagai artis, aktor, arsitek maupun pengacara- kok kayaknya terlalu mengada-ngada. Terlalu tidak mungkin untuk terjadi di dunia nyata. Apalagi kerap diiringi dengan acara liburan ke Eropa, Asia sampai Afrika.

Yang paling tidak masuk akal menurut saya adalah Willem. Yang digambarkan sebagai aktor super terkenal sekelas Leonardo DiCaprio, namun tidak pernah ada paparazzi โ€Žmengikutinya, seaneh apapun hal yang sedang ia lakukan saat itu.

Lalu, saya juga kurang suka dengan bagaimana Jude digambarkan di sini. Ya, dia memang korban sexual abuse dan ya, dia memiliki luka batin yang luar biasa parah. Tapi masa sih dari sekian banyak sahabat dan orang-orang yang peduli padanya (termasuk dokternya sendiri) tidak ada yang mau mengakui bahwa ia memiliki kelainan mental yang perlu ditangani? Plus, Jude sendiri buat saya tak lebih dari karakter yang kerap disebut sebagai Mary Sue- meski ia adalah seorang laki-laki.

Lantas, setelah berkeluh kesah panjang lebar, kenapa saya masih memberikan bintang 4 untuk buku ini? *garukgarukkepala*

Well, yang pasti karena persistensi Hanya Yanagihara yang menurut saya patut diacungi jempol. Ia bertekad akan membahas isu-isu penting seperti sexual abuse, child abuse, discrimination, sexual orientation fluidity, sampai mental illness- dan ia benar-benar membahasnya, bahkan kadang terasa sampai sesak napas membacanya. Dan menurut saya, kekonsistenannya itu yang layak dihadiahi sebagai finalis National Book Award maupun Man Booker Prize.

Ditambah lagi, Hanya memang piawai memadukan setting- terutama kota New York yang sudah seperti halaman bermainnya sendiri. Dan menurut saya, ini saja sudah layak disemati sebuah bintang ๐Ÿ™‚

Apapun kekecewaan saya terhadap buku ini, saya tetap berpendapat kalau buku ini memang buku yang penting untuk dibaca. Memang tragis, vulgar, dan kadang terlalu pretensius. Tapi memang dunia seperti itu jugalah yang kita tinggali saat ini.

Submitted for:

Banner Posbar 2016

 

Advertisements