Tags

, , , , , , , ,

book clubJudul: The Book Club

Penulis: Mary Alice Monroe

Penerjemah: Deasy Ekawati

Penerbit: VioletBooks (2014)

Halaman: 453p

Beli di: Hobby Buku (IDR 72k Disc 20%)

Saya kadang agak malas membaca tentang drama perempuan alias women lit, kecuali yang benar-benar highly recommended. The Book Club, sebetulnya, bukan masuk kategori yang terlalu direkomendasikan. Tapi saya cukup tertarik karena premisnya yang mengangkat kisah persahabatan lima perempuan yang tergabung di sebuah klub membaca. It seems like my kind of book!

Kisah diawali dari Eve yang harus menerima kenyataan pahit saat suaminya meninggal dunia dengan mendadak. Eve, yang sudah terbiasa hidup nyaman sebagai ibu rumah tangga yang cukup berada, tiba-tiba seolah dijerumuskan ke dalam dunia baru yang keras. Dunia yang memaksanya untuk bekerja dan tidak mengandalkan suami untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sementara itu Annie, anggota klub buku yang paling liberal dan sukses sebagai pengacara perceraian, mendadak mendapat ilham kuat untuk segera memiliki anak- setelah menikah selama lima tahun dan sebelumnya tak pernah berniat memiliki keturunan. Ia berusaha dengan segala cara untuk membuktikan pada suaminya -dan juga seisi dunia- bahwa tidak ada yang mustahil baginya. Bahkan juga hamil di usia yang sudah di atas 40 tahun.

Doris adalah anggota klub membaca yang paling kaya raya- suami sukses, rumah besar warisan orang tua, anak-anak yang sempurna – seolah tak ada yang mengganggu pikirannya. Tapi ternyata di dalam hati, Doris menyimpan kekosongan, apalagi saat ia sadar suami dan anak-anaknya semakin menjauh dari hidupnya.

Sebenarnya, itulah inti kisah buku ini. Entah kenapa Monroe harus menambah dua karakter lagi yang seolah hanya tempelan belaka, karena kisah mereka seolah dipaksakan masuk ke dalam buku ini, padahal tidak ada porsi yang cukup untuk membahasnya. Mungkin sekadar ingin menambahkan unsur diversity? Karena Midge digambarkan sebagai seorang seniman yang hidup sendiri dan struggling dengan orientasi seksualnya, sedangkan Gabriella adalah wanita keturunan Hispanic yang suaminya baru saja di PHK.

Lucunya, justru sosok Midge dan Gabriella lah yang paling menarik perhatian saya, dan saya sangat menyayangkan keputusan Monroe untuk menganaktirikan mereka dan hanya fokus pada ketiga wanita kulit putih yang masalahnya merupakan stereotype ala film seri Desperate Housewives.

Saya tidak bisa bersimpati pada Eve dan Annie terutama, yang menurut saya hanyalah wanita-wanita kelas atas yang gemar mengasihani diri sendiri dan tidak bersyukur atas privilege yang sudah mereka terima bertahun-tahun. Masalah mereka, bila dibandingkan dengan masalah Midge dan Gabriella, adalah masalah tipikal perempuan Amerika yang sebenarnya bisa disajikan dengan lebih menarik dengan penggambaran yang lebih memikat dan tidak terlalu predictable.

Namun yang membuat saya paling kecewa adalah judul buku ini: The Book Club. Memang, setiap bab diawali dengan quote dari sebuah buku, biasanya buku yang sedang dibaca oleh Klub Buku dalam bulan tersebut. Namun beberapa di antaranya agak dipaksakan dan seperti (lagi-lagi) hanya tempelan belaka. Saya cukup suka dengan pembahasan Madame Bovary di salah satu bab (yang membuat saya lumayan penasaran ingin membaca buku tersebut), tapi selebihnya pembahasan tentang buku-buku ini seperti menghilang ke latar belakang. Padahal saya berharap penulis bisa menjalin topik tentang buku dengan permasalahan para wanita ini ke dalam suatu kisah yang lebih mengasyikkan.

Overall The Book Club adalah buku yang cukup decent, mungkin bisa dijadikan alternatif di saat senggang, atau saat kita membutuhkan selingan bacaan yang cukup ringan. Namun selain itu, rasanya biasa saja, malah agak cenderung hambar.