Tags

, , , , , , ,

why didnt they ask evansJudul: Why Didn’t They Ask Evans?

Penulis: Agatha Christie

Penerbit: Harper Signature Edition (2001), first published in 1934

Halaman: 361p

Beli di: MPH Changi Airport, Singapore (SGD 12.84)

Sejujurnya, saya selalu skeptis dengan buku Agatha Christie yang tidak mengusung tokoh Hercule Poirot. Tidak semuanya jelek tentu, tapi rata-rata jarang yang membuat saya sampai terkagum-kagum seperti kisah-kisah si detektif Belgia.

Why Didn’t They Ask Evans? – awalnya juga tidak terlalu menarik perhatian saya. Apalagi, tokoh utamanya bukan detektif yang sudah familiar (seperti Miss Marple, Parker Pyne atau Tommy and Tuppence). Jadi, wajar saja kalau berada di bawah radar penciuman saya terhadap buku-buku Agatha Christie.

Namun, ekspektasi yang rendah itu langsung berbalik menyerang saya, karena ternyata buku ini adalah salah satu buku paling menghibur dari Christie, dengan plot yang cerdas, kejutan demi kejutan tak terduga, dan chemistry antar karakternya yang benar-benar membuat saya betah mengikuti kisah mereka.

Cerita berawal dari Bobby Jones, anak seorang pendeta di sebuah desa kecil di Wales, yang tak sengaja menemukan sosok yang terjatuh dari tebing tempatnya main golf di suatu sore. Sosok tersebut sudah sekarat saat Bobby menghampirinya, namun sempat membisikkan sebuah kalimat misterius “Why didn’t they ask Evans?”

Bobby berpikir insiden ini sudah selesai saat sepasang suami istri mengidentifikasi laki-laki tersebut setelah ia meninggal, dan dokter menyatakan meninggalnya laki-laki itu adalah murni kecelakaan karena terjatuh dari tebing.

Namun beberapa kejadian lain yang mengancam Hidup Bobby menunjukkan padanya kalau masalah itu masih jauh dari selesai. Sepertinya Bobby menjadi saksi kunci yang ditakuti oleh orang-orang yang berada di balik peristiwa meninggalnya laki-laki misterius itu, dan berusaha disingkirkan oleh mereka.

Dibantu oleh temannya, Lady Francess alias Frankie, putri seorang bangsawan di desa mereka yang jauh dari sosok ideal seorang Lady, Bobby pun mulai menyelidiki latar belakang kejadian tersebut. Berusaha mencari tahu siapa sebenarnya sosok laki-laki yang meninggal (dibunuh?) itu, dan apa yang ia lakukan di desa mereka pada hari naas tersebut.  Namun Bobby dan Frankie- dengan segala gaya amatir mereka, harus siap beradu kecerdasan dengan dalang kejahatan tersebut, yang jauh lebih berpengalaman dari mereka.

Yang membuat saya amat menyukai kisah ini adalah chemistry antara Bobby dan Frankie- sebagai sahabat yang sepertinya terperangkap dalam zona pertemanan yang membuat resah 😀 Biasanya, kisah cinta Agatha Christie selalu bergaya melodramatis, dengan unsur era Victoria atau bahkan karakter-karakter tipikal ala romans terbitan Harlequin. Tapi di buku ini, dengan karakter yang sama-sama muda, cerdas namun naif, adu banter nya terasa sangat seimbang, ditambah lagi kejadian demi kejadian yang meski penuh nuansa ironi namun masih terasa kelucuannya.

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk para pencinta Agatha yang ingin mencicipi nuansa lain tulisannya, maupun para penikmat kisah romans cerdas yang masih ragu untuk‎ bersinggungan dengan karya Christie. Why Didn’t They Ask Evans adalah underdog yang tidak akan mengecewakan pembacanya- meski dimulai dengan ekspektasi yang rendah sekalipun.

Advertisements