Tags

, , , , ,

museum extraordinaryJudul: The Museum of Extraordinary Things

Penulis: Alice Hoffman

Penerbit: Simon & Schuster UK Ltd (2015)

Halaman: 368p

Beli di: Periplus Bandara Soetta (IDR 114k)

Saya selalu senang membaca kisah berlatar belakang sirkus, karnaval, pertunjukan, dan sejenisnya. Apalagi kalau tokoh-tokohnya adalah makhluk “tidak biasa” yang memang kerap ditemui di tempat-tempat tersebut.

Itulah salah satu alasan saya tertarik pada buku dengan cover cantik ini. Dan meski biasanya saya kurang semangat membaca buku yang kental nuansa romansanya, saya merelakan diri untuk tenggelam ke dalam kisah cinta di buku ini. Apalagi, masih menyambung dengan postingan saya tentang Ode to The Misfits kemarin, Coralie dan Eddie adalah pasangan yang tidak biasa, outcasts yang tidak belong di mana-mana.

Coralie tumbuh besar di Museum of Extraordinary Things yang dikelola oleh ayahnya, Profesor Sardie. Museum yang berisi benda-benda dan orang-orang “aneh” yang melawan alam ini terletak di Coney Island, di pinggiran kota New York. Kisah di buku ini mengambil setting tahun 1911, saat Coralie sudah berusia 18 tahun.

Selama hidupnya, Coralie selalu menurut kepada sang Professor, termasuk saat ia dijadikan salah satu atraksi di museum tersebut. Cora memang lahir dengan keunikan pada tangannya yang berselaput, dan kemampuan untuk berenang dan bertahan lama di dalam air, membuatnya menjelma menjadi gadis duyung yang pas untuk dipertunjukkan di dalam museum. Namun semakin ia dewasa, Cora semakin melihat ayahnya dari sudut pandang berbeda, bukan lagi profesor jenius yang berhasil menemukan makhluk-makhluk aneh, tapi seorang pria egois dan kejam yang akan berbuat apapun demi mencapai tujuannya. Dan Coralie semakin seram saat menyadari rencana jahat profesor untuk menyelamatkan museumnya dari ancaman kebangkrutan. Akankah ia terus menurut ayahnya? Atau ini saatnya untuk terbang mencari kehidupannya sendiri?

Eddie Cohen tinggal di Manhattan, imigran dari Ukraina yang datang ke New York saat desa mereka dihancurleburkan oleh kaum Cossack. Karena kecewa dengan ayahnya yang dianggapnya pengecut, Eddie lari dari rumah saat menjelang remaja, meninggalkan dunia yang dikenalnya, termasuk kepercayaan Orthodox yang seumur hidup dianut oleh keluarganya. Ia magang dengan seorang fotografer dan menjajaki kehidupannya yang baru, meski selalu merasa ada yang hilang dalam hatinya. Eddie sering menjadi kontributor untuk liputan kriminal di koran-koran, dan sebuah kasus menyangkut gadis yang hilang mempertemukannya dengan Coralie.

Yang saya suka dari buku ini, di setengah buku pertama, kita dibawa menyusuri kehidupan Coralie dan Eddie secara bergantian, mendengarkan suara mereka masing-masing berkisah tentang masa lalu dan mimpi terkelam mereka. Kisah cinta Eddie dan Coralie belum menjadi fokus di setengah awal buku, membuat saya bisa menyelami lebih dulu karakter dan kehidupan mereka, sehingga ketika tiba waktunya mereka bertemu, saya sudah siap untuk rooting for them.

Kisah cintanya sendiri agak tipikal kisah cinta para outcast, dengan sosok villain yang predictable dan adegan klimaks penyelamatan khas buku-buku romance jadul 😄 Tapi berhubung saya cukup suka dengan kedua karakter utama buku ini, segala unsur klise tadi bisa termaafkan 🙂

Banyak buku yang ingin mencoba membahas terlalu banyak hal, namun akhirnya malah kewalahan sendiri. Syukurlah, buku ini bukan termasuk jenis buku seperti itu. Alice Hoffman (ini pengalaman pertama saya membaca bukunya) berhasil membuat kisah mengalir tanpa terkesan berlebihan. Padahal isu yang diangkat cukup banyak: pergolakan kaum pekerja imigran yang menuntut hidup dan keadilan yang lebih baik, kesenjangan sosial antara orang kaya lama dan golongan pekerja, peristiwa sejarah seperti kebakaran pabrik Triangle Shirtwaist yang mengubah wajah kota New York, dan sejarah Coney Island itu sendiri. Ditambah lagi kisah cinta Eddie dan Coralie 🙂

Semua mendapat porsi yang pas, yang sesuai, dengan klimaks yang cukup membuat saya termangu-mangu dan tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang nasib Coney Island saat ini. Buku yang bagus selalu berhasil membuat saya ingin tahu lebih banyak tentang topik yang dibahas, dan menurut saya, Museum of Extraordinary Things berhasil menancapkan gaungnya dalam hati saya.

Submitted for:

Banner Posbar 2016

 

Advertisements