Tags

, , , , , ,

book of speculationJudul: The Book of Speculation

Penulis: Erika Swyler

Penerbit: Corvus (2015)

Halaman: 339p

Beli di: Kinokuniya Ngee Ann City (SGD 29.95)

Simon Watson hidup sendirian di rumah keluarganya di Long Island Sound. Rumah tersebut sudah menjadi milik keluarga selama bergenerasi-generasi, dan menyimpan banyak kisah tragedi yang kerap menghantui mereka. Terletak di tepi tebing yang menjorok ke laut, rumah itu sebenarnya sudah sangat berbahaya dan tidak layak ditempati, apalagi banyak bagian di dalam dan luarnya yang sudah bobrok dan perlu perbaikan segera, namun Simon terlalu bangkrut untuk bisa melakukan apapun. Pekerjaannya sebagai pustakawan memang tidak memberikan pemasukan yang cukup untuk itu.

Suatu hari di bulan Juni, Simon menerima sebuah buku misterius dari pedagang buku antik yang tak dikenal. Pedagang itu mengirim buku tersebut pada Simon karena membaca nama Verona Bonn -yang merupakan nenek Simon dari pihak ibunya- di dalam buku. Buku misterius tersebut berkisah tentang sepasang kekasih yang hidup di tengah sirkus keliling lebih dari dua abad yang lalu, dan bagaimana tragedi menimpa mereka, yang akhirnya diturunkan ke generasi berikutnya termasuk nenek dan ibu Simon.

Dari buku aneh itu juga Simon mengetahui fakta mengerikan tentang keluarganya, terutama yang menimpa kaum perempuan: banyak dari mereka yang meninggal karena tenggelam di tanggal 24 Juli. Termasuk ibunya sendiri!

Kekalutan Simon membuatnya bertekad untuk menyelamatkan adik perempuan satu-satunya, Enola, yang bekerja di sebuah karnaval, dan memastikan ia tidak akan mengalami kisah tragis yang sama. Apakah Simon bisa memutuskan kutukan turun-temurun ini?

The Book of Speculation adalah jenis buku juicy yang pastinya akan menarik perhatian setiap pencinta buku- temanya tentang buku antik, tragedi keluarga dan kutukan turun-temurun, serta profesi aneh yang digeluti para karakternya (pembaca kartu tarot, ikan duyung dalam sirkus, penyelam andal) tampak terlalu menarik untuk dilewatkan. Dan harapan saya memang cukup tinggi saat mulai membaca buku ini. Apalagi settingnya juga seru: rumah tua bobrok di pinggir tebing kota tepi pantai yang bisa runtuh sewaktu-waktu.

Yang juga tidak biasa adalah karakter utama kisah ini, Simon Watson, yang sekaligus menjadi narator. Biasanya cerita fiksi sejarah dengan tema keluarga seringkali didominasi oleh suara perempuan, namun Erika Swyler mendobrak tradisi ini dan mengganti naratornya dengan sosok laki-laki, meski sentral cerita tetap berkisah pada tokoh-tokoh perempuan di dalamnya.

Saya cukup suka tema yang disajikan buku ini, meski terus terang unsur supranaturalnya terlalu fantastis buat saya. Ramalan tarot dan kutukan turun-temurun bukan sesuatu yang saya percayai 100 persen, karenanya menurut saya kisah ini lebih seperti fantasi dibandingkan kisah sejarah ‎keluarga. Saya juga -seperti biasa- lebih menyukai plot kisah masa lalu nenek moyang Simon- yang mengawali segala kutukan ini- dibandingkan kisah Simon dan Enola di masa kini.

Dan sejujurnya saya berharap lebih pada Book of Speculation, sebutan untuk buku antik yang menjadi pusat segala cerita di sini. Saya berharap Simon menghabiskan waktu lebih banyak dengan buku ini, dibandingkan mengurus kisah cintanya dengan anak tetangga yang agak menyedihkan. Di beberapa bagian, bahkan saya ingin Simon tidak usah muncul dulu, karena saya lebih tertarik dengan kisah misterius si buku kuno, yang sampai akhir agak tidak jelas ujung pangkalnya.

The Book of Speculation ingin menggabungkan banyak sekali unsur: sejarah keluarga, kisah sirkus dan tarot, kutukan dan dendam, misteri, drama adik kakak dan percintaan. Namun seperti biasa, buku yang ingin bercerita terlalu banyak kadang malah membuat pembacanya kenyang sebelum waktunya, dan itulah yang saya rasakan saat membaca buku ini. Seru sih, tapi seringkali hal-hal yang saya harap akan dijawab oleh penulisnya, malah dikesampingkan untuk plot atau misteri baru yang dimaksud supaya membuat kisah lebih seru lagi.

Saya tetap merekomendasikan buku ini -terutama untuk pembaca yang haus akan unsur magis- tapi lebih baik dinikmati saja tanpa pretensi, tanpa harapan apa-apa selain ikut duduk dengan Simon meratapi rumahnya yang hampir runtuh.