Tags

, , , , , , , , ,

shrunken headJudul: Curiosity House: The Shrunken Head

Penulis: Lauren Oliver dan HC Chester

Penerbit: HarperCollins Children’s Books (First Edition 2015)

Halaman: 362p

Beli di: Gramedia Central Park Mall (IDR 178k)

Lauren Oliver biasanya selalu berhasil memikat saya lewat kisah-kisahnya yang imajinatif dan penuturannya yang menyenangkan. Dan saya langsung jatuh cinta dengan karyanya yang ditujukan untuk anak-anak, lewat Liesl & Po.

Ketika saya mendengar ada serial baru untuk anak yang ditulis oleh Oliver, kontan saya langsung penasaran. Apalagi settingnya sangat unik: Dumfrey’s Dime Museum of Freaks, Oddities, and Wonders. Semacam museum yang berisi hal-hal aneh. Termasuk sejumlah anak-anak yang memiliki keunikan masing-masing. Ada Philippa yang bisa membaca pikiran orang lain, Sam si anak super kuat, Thomas yang tubuhnya lentur seperti karet, dan sang pendatang baru, Max, si jago melempar pisau. Keempatnya tinggal di museum bersama karakter-karakter lain yang tak kalah unik, di bawah asuhan Mr. Dumfrey yang baik hati.

Masalah mulai muncul saat artefak paling berharga milik museum tersebut, kepala kerdil dari Amazon, hilang dicuri. Apalagi kabarnya kepala tersebut membawa banyak kutukan pada orang-orang yang memegangnya. Termasuk Museum Dumfrey yang mulai mendapat kesulitan demi kesulitan akibat hilangnya si kepala kerdil. Apakah kejadian buruk yang menimpa museum ini adalah bagian dari kutukan tersebut?

Keempat sekawan museum Dumfrey pun bertekad‎ untuk menemukan artefak misterius itu, dan mencegah tutupnya museum yang sudah mereka anggap seperti rumah. Namun penyelidikan Philippa, Sam, Thomas dan Max malah membawa mereka pada peristiwa-peristiwa yang jauh lebih misterius dan berbahaya: pembunuhan, dan rahasia kelam mereka masing-masing di masa lalu.

Buku model begini rasanya memang selalu menjadi favorit saya, sejak usia saya masih belasan tahun sampai sudah menginjak kepala tiga. Saya selalu kembali menjadi seperti anak-anak setiap membaca buku yang sarat akan misteri dan petualangan, serta dibumbui oleh kisah persahabatan.

Dan seperti biasa, Lauren Oliver tidak mengecewakan saya. Gaya penuturannya yang lincah, penuh detail namun tidak membosankan, masih tetap memikat. Ditambah lagi karakter dan setting unik yang membuat saya benar-benar kepingin menginjakkan kaki di Museum Dumfrey dan bertemu dengan anak-anak ini.

Kisah misterinya sendiri juga cukup seru, cukup pas dengan tone keseluruhan cerita, apalagi mengambil lokasi di kota New York yang tak pernah kehilangan pesona.

Lauren Oliver sendiri menyusun kisah Curiosity House berdasarkan ‎koleksi benda-benda unik dan antik milik H.C. Chester, kolektor terkenal yang sudah lama berkecimpung di bidang ini, dan memang terkenal karena kenyentrikannya.

Dan alangkah bahagianya saya saat tahu kalau buku ini merupakan buku pertama dari seri The Curiosity House. Yeay! Can’t wait for the next book(s)!

The second book of the series!

The second book of the series!