Tags

, , , , , , ,

egypt gameJudul: The Egypt Game

Penulis: Zilpha Keatley Snyder

Penerbit: Atheneum Books for Young Readers (1995, first published 1967)

Pages: 215p

Beli di: Amazon (USD 7.49)

Awalnya April Hall sangat sebal saat ibunya yang artis Hollywood memaksanya pindah ke rumah Caroline, neneknya, yang terletak di kota kecil di California. Selain merasa disingkirkan oleh ibunya yang sibuk sendiri, April juga khawatir ia tidak akan mempunyai teman di kota kecil itu.

Namun ternyata, April bertemu dengan Melanie Ross, tetangganya di apartemen, dan adik laki-laki Melani, Marshall, yang berusia 4 tahun, dan lewat masa perkenalan yang singkat, ketiganya langsung memiliki kecocokan dan bermain bersama.

Puncak kegembiraan mereka hadir saat tanpa sengaja mereka menemukan sudut tak terpakai di belakang toko si Professor, penjual barang antik yang ditakuti oleh anak-anak di kota tersebut. Sudut itu sangat cocok untuk tempat permainan baru mereka, Egypt Game, di mana mereka melakukan segala ritual dan permainan menyangkut Mesir, yang menjadi obsesi baru mereka.

Tidak lama, kelompok mereka bertambah jumlahnya dan Egypt Game juga semakin bertambah seru. Berbagai permainan kreatif mereka ciptakan, mulai dari membuat kode tulisan hieroglyph rahasia sampai mencari jawaban pertanyaan dari Oracle.

Namun, tragedi menimpa lingkungan mereka saat ada seorang anak kecil terbunuh dan pembunuhnya dicurigai masih berkeliaran. Lebih mencekam lagi, saat mereka sadar kalau ada orang lain yang ikut campur dalam permainan mereka. Apakah si pembunuh mengincar mereka?

The Egypt Game selalu muncul dalam daftar rekomendasi bila saya mencari buku yang senada dengan The Westing Game. Mungkin karena keduanya sama-sama pernah meraih penghargaan Newbery, juga karena sama-sama merupakan buku anak dengan tema misteri, games, dan teka-teki, serta alur cerita yang unik.

Tapi sejujurnya, saya sendiri tidak terlalu merasakan keistimewaan The Egypt Game, apalagi kalau disandingkan dengan The Westing Game. Kisahnya agak terlalu datar menurut saya, dan meskipun diselingi dengan permainan ala Mesir dan misteri pembunuhan, plotnya kurang lincah dan malah agak tidak fokus -antara permainan dan budaya Mesir, misteri pembunuhan, sampai konflik persahabatan dan masalah keluarga. Terlalu banyak yang ingin diceritakan dalam buku ini, tapi jadinya hanya sepotong-potong. Untuk ukuran Newbery, agak terlalu plain.

Yang membuat saya cukup tertarik malah penokohannya. Meski ditulis di tahun 60-an, buku ini termasuk cukup diverse, karena karakternya berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, ada African-American, Asian-American (Chinese) dan Asian-American (Japanese), juga anak dari keluarga broken home. Saya cukup suka dengan karakter-karakter di buku ini yang untungnya tidak membosankan. Kata sang penulis, setting kisah ini memang terinspirasi dari saat ia tinggal di Berkeley, kota kecil di California yang terkenal karena universitasnya, dan penduduknya sangat diverse karena banyak mahasiswa dari berbagai tempat yang membawa keluarganya saat mereka mengambil studi S2 atau S3.

Saya juga suka dengan berbagai pengetahuan soal Mesir yang dikisahkan di buku ini, yang dijadikan permainan oleh April dan teman-temannya, meski tidak mengandung teka-teki menarik seperti di buku Westing Game. Namun lumayanlah, saya jadi tahu apa itu Oracle dan siapa dewa Set dan dewi Isis. Not bad for a children’s book šŸ™‚

 

 

Advertisements