Tags

, , , , , , ,

people of the bookJudul: People of The Book

Penulis: Geraldine Brooks

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2015)

Penerjemah: Femmy Syahrani

Halaman: 504p,

Beli di: Hobby Buku (IDR 98k, Disc 20%)

Hanna Heath adalah seorang pakar konservasi buku langka, dan ia memperoleh pekerjaan yang paling menantang di tahun 1996, saat Haggadah (buku doa orang Yahudi) Sarajevo yang dianggap telah hilang saat perang berkecamuk di Bosnia, mendadak muncul kembali. Uniknya, buku tersebut telah diselamatkan oleh kepala pustakawan museum yang beragama Muslim, Ozren Karaman.

Saat menilik buku tersebut, Hanna terkesima dengan banyaknya artefak kecil yang tertinggal di dalamnya, dan yang akan membantunya untuk menelusuri sejarah panjang haggadah tersebut. Ada jejak berupa tetesan anggur, sehelai bulu misterius, setitik garam, serta lekukan bekas penjepit yang sudah hilang entah ke mana. Selain itu, terdapat juga pertanyaan tentang ilustrasi cantik yang menghiasi buku tersebut, suatu hal yang jarang ditemui dalam buku doa kaum Yahudi.

Dengan piawai, Geraldine Brooks membawa kita menyusuri jejak Haggadah Sarajevo, berjalan mundur ke belakang mulai dari saat buku tersebut menghilang di tengah Perang Dunia II yang melanda Bosnia, kemudian ke masa akhir abad ke 19 di Wina, saat haggadah dijlid ulang untuk terakhir kalinya. Ada juga masa di Venesia saat Inkuisisi Katolik membuat kehidupan umat Yahudi terancam, namun toh haggadah tersebut tetap bertahan, bahkan berhasil lolos sensor dari kelompok Inkuisitor. Lebih ke belakang lagi, di tahun 1400-an, kita diajak singgah ke Terragona di Spanyol, bertemu orang yang menuliskan teks haggadah, dan pada akhirnya, ke Sevilla untuk bertemu seniman yang membubuhkan ilustrasi indah di buku tersebut.

Perjalanan panjang ini tidak terasa membosankan karena Brooks berhasil memikat saya dengan beragam karakter yang kaya beserta latar belakang mereka, termasuk masalah dan tantangan yang dihadapi di tengah situasi sulit seperti Perang Dunia atau himpitan Inkuisitor Katolik. Dengan lihai, Brooks menyelipkan misteri dari setiap artefak kecil yang ditemukan Hanna ke dalam kisah sejarah haggadah, sehingga semua pertanyaan terjawab dengan rapi. Very convenient and convincing!

Satu hal yang mungkin bisa dibilang agak mengganggu buat saya adalah karakter Hanna sendiri. Sepertinya Brooks terlalu sibuk menghidupkan karakter dan plot sejarah di buku ini, sampai agak mengesampingkan karakter dan plot di masa kini. Saya tidak peduli dengan Hanna dan segala permasalahannya: dilema dengan kariernya, hubungan dengan ibunya (yang sangat menyebalkan), misteri masa lalunya, sampai kisah asmaranya. Bagi saya, semua itu hanya selintas lalu saja, transisi dari satu kisah sejarah haggadah ke kisah yang lain. Bahkan twist ending yang dihadirkan Brooks juga tidak terlalu berkesan untuk saya.

Brooks bukan penulis hisfic pertama yang terlalu sibuk dengan kisah sejarah hingga melupakan pengembangan karakter untuk settingan di masa kini. Saya mengalami kekecewaan yang sama saat membaca Sarah’s Key (Tatiana de Rosnay) serta The Virgin Blue (Tracy Chevalier). Untungnya, People of The Books masih sangat memikat hati saya dan sosok Hanna tidak terlalu mengganggu, sehingga saya masih sangat merekomendasikan buku ini bagi para pencinta fiksi sejarah, terutama yang menyangkut kisah tentang buku.