Tags

, , , , , ,

maggieJudul: The Meaning of Maggie

Penulis: Megan Jean Sovern

Penerbit: Chronicle Books (2015)

Halaman: 220p

Beli di: Barnes and Noble Washington DC (USD 6.99)

Maggie Mayfield kini berumur 11 tahun dan dunia seolah berada dalam genggamannya. Cita-citanya sebagai presiden Amerika Serikat didukung oleh nilai-nilainya yang selalu A, guru-guru yang menyukainya, dan segudang rencananya untuk kuliah di universitas terbaik.

Namun hidupnya menjadi jungkir balik saat penyakit ayahnya semakin parah, sehingga ibunya harus bekerja sebagai pencari nafkah utama, sementara ayahnya tinggal di rumah, di kursi rodanya. Belum lagi kakak-kakak Maggie yang semakin menyebalkan, dengan segala kegenitan masa remaja mereka.

Maggie merasa dikucilkan karena sepertinya semua orang mengetahui lebih banyak tentang penyakit ayahnya, dan menyembunyikan fakta-fakta penting dari hidupnya. Maggie bertekad untuk mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang penyakit bernama Multiple Sclerosis itu, dan menambah sebuah cita-cita penting yang harus bisa dicapainya: memperbaiki ayahnya.

The Meaning of Maggie merupakan kisah keluarga berbalut sicklit dengan target pembaca middle grade. Sebuah perpaduan yang biasanya langsung membuat saya terkesima.

Namun ada sesuatu yang missing dari buku ini. Jangan salah, saya menyukai “suara” Maggie, yang dituangkan dalam bentuk “memoir” dalam buku ini. Kekocakannya yang merupakan gabungan sifat lugu, sok tahu namun humoris, cukup menyenangkan untuk diikuti. Tapi, ada beberapa bagian yang agak “kering”, humor yang terlalu “remaja”, dan plot yang agak menggantung, terutama karena saya berharap buku sicklit untuk middle grade ini bisa menyampaikan lebih detail tentang penyakit MS yang menjadi topik kisah Maggie.Ternyata sampai bagian akhir, tidak ada pencerahan tentang penyakit ini, juga apa penyebabnya dan bagaimana harus memperlakukan penderitanya. Semacam meraba-raba jadinya di sepanjang buku, padahal untuk buku anak, semestinya ada penjelasan yang lebih eksplisit untuk menghindari kesalahpahaman.

Selain itu, setting kisah yang menggunakan tahun 80an tidak terlalu terasa di buku ini, kecuali kenyataan kalau Maggie harus mengobrak abrik ensiklopedia dan bukannya mengetik di Google saat mencari fakta-fakta tentang penyakit MS. Tapi di luar itu, rasanya saya tidak menemukan relevansi setting 80an dalam buku ini- tidak seperti saya membaca Tell The Wolves I’m Home, misalnya.

Menurut saya buku ini menjadi serba nanggung- baik dari plot, karakter maupun setting. Sayang sebenarnya, karena premisnya sudah sangat menarik, dan covernya cantik banget!!