Tags

, , , , , , , , , ,

GoTJudul: Game of Thrones

Penulis: George R.R. Martin

Penerbit: Bantam Books Mass Market Movie Tie-in Edition (2013)

Halaman: 835p

Beli di: Periplus Soekarno Hatta (156k)

Saya belum menjadi fans serial fenomenal Game of Thrones dan tidak mengerti kehebohan yang ditimbulkan oleh serial ini. Dan saya, being a stubborn hipster as always, selalu merasa sulit menyukai sesuatu yang sudah menjadi mainstream atau lebih dulu digilai orang-orang (Sherlock, cough cough).

Jadi, saya memutuskan untuk membaca novelnya terlebih dulu sebelum menonton serialnya. Dan saya menantang diri saya untuk membaca versi bahasa Inggrisnya, sekadar untuk mendapatkan feel asli dari tulisan Bapak fantasi George R.R. Martin.

And what a ride.

Saya dibawa masuk ke realm The Seven Kingdoms dengan tokoh-tokoh dan konfliknya yang serba rumit. Berawal dari perkenalan dengan keluarga Stark, penguasa Winterfell di daerah utara, saya diajak menemui mereka satu per satu, mulai dari Ned Stark si kepala keluarga, istrinya Lady Catelyn yang anggun, serta anak-anak mereka: Robb, Sansa, Arya, Bran dan Rickon. Plus, si anak Haram alias bastard, Jon Snow, yang juga tinggal dengan keluarga itu.

Suasana mulai memanas akibat kunjungan sang Raja dari King’s Landing, Robert Baratheon, beserta rombongannya, permaisuri cantik namun kejam, Cersei Lannister, juga kedua adik Cersei, Jaime yang penuh pesona, dan Tyrion si kerdil.

Robert meminta Ned untuk menjadi tangan kanannya, karena kematian Jon Arryn yang sebelumnya menduduki posisi itu. Dan di sinilah awal mula segala konflik, perpecahan, pertempuran yang diikuti oleh perang besar antar keluarga dan kelompok di kerajaan tersebut.

Masing-masing memiliki tujuan yang sama, ingin menguasai kerajaan dan menduduki posisi puncak. Game of Thrones sangat cocok menjadi judul kisah ini, karena inti dari segala kerumitan konflik di sini adalah tujuan akhir para karakter untuk duduk di Iron Throne, atau singgasana besi yang menjadi lambang kekuasaan tertinggi.

Keluarga Lannister dengan intrik-intriknya berusaha menjatuhkan sang raja Baratheon, sementara keluarga Stark dipicu amarahnya karena salah satu anggota keluarga mereka menjadi korban keganasan keluarga Lannister. Sementara itu, keturunan terakhir penguasa sebelumnya, yaitu Daenerys Targaryens, mulai mengumpulkan kekuatannya sendiri dari seberang dunia, untuk mengklaim kembali haknya sebagai penerus tahta kerajaan yang sudah direbut paksa dari keluarganya.

Dan ternyata, kekisruhan tidak hanya terjadi di dalam kerajaan, tapi juga di luar Wall, tembok yang membatasi realm ini dengan dunia seram di luar sana. Makhluk-makhluk yang disebut The Others tampaknya muncul kembali, padahal mereka dikabarkan sudah punah dari ribuan tahun yang lalu. Pertanda apakah ini?

Seru banget. Itulah kesan saya selama membaca 835 halaman novel ini. Memang awalnya saya harus memicu memori saya supaya dapat mengingat puluhan nama karakter‎ yang kadang mirip-mirip (mengingatkan saya dengan kisah The Lord of The Rings nya Tolkien yang juga banyak penggunaan nama yang mirip-mirip) sambil berusaha membayangkan realm ciptaan Martin. Namun tidak lama waktu yang saya butuhkan untuk bisa masuk ke dunia Game of Thrones. Pace nya yang cepat dan gaya bercerita Martin yang super mengalir membuat saya lupa kalau buku yang saya baca termasuk dalam genre high fantasy yang biasanya cukup membosankan untuk saya.

Satu hal yang amat saya sukai dari buku ini ialah pergantian karakter di tiap bab. Namun, karena tetap memakai sudut pandang orang ketiga, tidak ada yang membingungkan dari pergantian karakter ini di setiap babnya. Justru, saya merasa lebih bisa berempati dan memahami mereka satu per satu, sambil melihat konflik ruwet ini dari sudut pandang mereka masing-masing.

Dan sekarang, off to go to the bookstore to look for the second book please!🙂