Tags

, , , , , , ,

abaratJudul: Abarat

Penulis: Clive Barker

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2003)

Penerjemah: Sutanty Lesmana

Halaman: 440p

Beli di: Omunium Bandung (harganya lupa ;p)

Terakhir kali saya membaca buku ini adalah tahun 2003, lebih dari 10 tahun yang lalu, bahkan jauh sebelum Books to Share lahir ke dunia🙂

Saya sudah agak lupa kisahnya, namun satu yang paling berkesan adalah penggambaran Abarat sebagai sebuah kepulauan di dunia yang lain, di mana setiap pulau mewakili Jam tertentu, sehingga untuk tidur siang kita harus pergi ke Pulau Nonce, namun kalau ingin suasana sibuk jam 8 malam lebih baik kita berlayar ke Yebba Dim Day.

Berhubung buku ketiga, yang merupakan penghabisan dari serial ini, akhirnya baru diterbitkan oleh Gramedia, maka saya memutuskan untuk membaca ulang kisah Abarat dari bukunya yang pertama, untuk menyegarkan ingatan, sekaligus bertepatan dengan suasana bulan Halloween yang pas untuk dipenuhi oleh kisah-kisah horor.

Clive Barker mungkin adalah salah satu penulis dengan imajinasi paling liar, yang -tidak seperti JK Rowling atau CS Lewis misalnya- tak ragu-ragu untuk memasukkan unsur horor, kengerian, brutalisme dan kekejaman dalam kisah-kisahnya. Saya sendiri agak ragu apakah Abarat masuk ke dalam ranah kisah fantasi anak, karena penggambarannya yang kadang kelewat sadis, belum lagi ilustrasinya yang vivid dan bisa menghadirkan mimpi buruk.

Kisahnya berawal dari seorang anak perempuan bernama Candy Quackenbush yang ‎tinggal di kota kecil Chickentown di Minnesota. Candy yakin ada sesuatu yang lebih di luar sana selain kotanya yang dipenuhi oleh peternakan ayam, dan harapannya terpenuhi saat ia terdampar (setelah kejar-kejaran seru yang tak sepenuhnya ia mengerti) di Laut Izabella, yang membawanya ke kepulauan Abarat.

Dari awal, Abarat langsung memikat Candy, dan di dunia inilah Candy bertemu berbagai macam makhluk yang kelak akan menjadi sahabat-sahabatnya, mulai dari John Mischief yang berkepala banyak (masing-masing kepala mewakili satu kepribadian) sampai Malingo, geshrat (sejenis makhluk seperti kucing besar berbulu emas) mantan budak penyihir yang sangat setia pada Candy.

Namun di Abarat juga Candy -atas alasan yang dia belum tahu pasti- dikejar-kejar oleh musuh-musuh barunya, Christopher Carrion si Penguasa Kegelapan dengan neneknya yang sinting, Motter Motley, lalu ada Kaspar Wolfwinkell penyihir jahat yang kejam, dan beberapa suruhan Carrion yang semuanya merupakan makhluk-makhluk mengerikan.

Lewat petualangan-petualangannya di Abarat, Candy berusaha menyibakkan rahasia masa lalunya yang misterius, yang menjadikannya Candy Quackenbush yang sekarang ia kenal.

Buku pertama Abarat mungkin merupakan buku yang paling saya suka dari keseluruhan serial ini. Pasalnya, penggambaran dunia baru yang imajinatif ini benar-benar mudah untuk dibayangkan, dan membuat saya kepingin bisa berada di sana. Lewat buku pertama, kita diperkenalkan dengan sejumlah besar pulau di Abarat- yang semuanya memiliki ciri masing-masing yang unik. Peta dan penjelasan di bagian akhir buku juga membuat saya lebih mudah membayangkan setting cerita petualangan Candy.

Lalu, plotnya sendiri sangat padat – penuh dengan petualangan, pertemuan dengan karakter-karakter baru, twist di sana-sini dan suasana yang menegangkan. Singkatnya, semua unsur yang penting ada di sebuah kisah petualangan fantasi.

Semoga petualangan berikutnya masih tetap seru dan menegangkan!