Tags

, , , , , , ,

poirot short storiesJudul: Hercule Poirot The Complete Short Stories

Penulis: Agatha Christie

Penerbit: HarperCollinsPublishers (1999)

Halaman: 864p

Beli di: Abe Books (£ 5)

Untuk yang rajin membaca blog ini (pernyataan yang sedikit GR), pasti familiar dengan fangirling saya terhadap tokoh detektif favorit sepanjang masa, Hercule Poirot. Iya, meski dunia sedang tergila-gila dengan Sherlock (versi Cumberbatch tentu), saya tetap setia pada detektif perfeksionis berkumis lebat dengan kepala berbentuk telur ini.

Makanya buku yang berisi kumpulan cerita pendek dengan tokoh Poirot ini merupakan harta karun bagi saya. Bayangkan, ke-51 cerpen Poirot lengkap ada di sini. Hampir semua memang pernah dimuat dalam novel Agatha Christie terdahulu, seperti Poirot Early Cases, Poirot Investigates atau Labour of Hercules. Tapi tetap saja, membaca ulang keseluruhan kisah pendek Poirot memiliki sensasi tersendiri buat saya, apalagi cerita-cerita dalam buku ini disusun berdasarkan tahun penulisan dan tahun terbit aslinya.

Penyusunan yang berbasis kronologis dan historis ini merupakan daya tarik utama The Complete Short Stories, karena kita dapat mengamati tokoh Poirot sejak pertama kali diciptakan oleh Agatha Christie, sampai kisah pendeknya yang terakhir. Selain mencermati perkembangan tokoh Poirot dan berbagai kasus yang dihadapinya, kita juga akan dibuat terpesona oleh perkembangan gaya menulis Agatha Christie sendiri.

Awalnya, terlihat Christie sangat terinspirasi dengan gaya penulisan Conan Doyle dalam buku-buku Sherlock. Dimulai dari narasi Hastings (yang tak dapat dipungkiri mengingatkan saya dengan Watson), gaya deduksi Poirot, serta kemunculan Inspektur Japp (Lestrade!), semuanya berkiblat pada gaya klasik kisah detektif di Era Victoria.

Namun, semakin ke belakang, Christie juga lebih berani berekspresi- tidak hanya dari jenis-jenis kasus yang ditangani Poirot, namun juga dari gaya penceritaan serta karakter pendamping yang berevolusi. Salah satunya adalah Miss Lemon, sekretaris seperti mesin efektif tanpa imajinasi, yang menjadi asisten Poirot saat Hastings sudah tersingkir ke Amerika Selatan. Atau juga kisah-kisah dalam Labour of Hercules, yang bermain-main dengan simbol mitologi Yunani di dunia modern.

Saya sendiri lebih suka kisah-kisah awal buku ini saat Hastings menjadi Narator, namun memang setelah membaca beberapa kisah berturut-turut, gaya penuturannya menjadi monoton. Mungkin karena itulah Christie juga bosan dengan Hastings dan menyingkirkannya untuk sementara.

Saya juga suka dengan beberapa setting eksotik yang dipakai Christie di sini, misalnya di Timur Tengah atau bahkan pegunungan Swiss. Tidak sedetail yang ditampilkan di novel-novelnya, namun tetap memberi kesan yang berbeda.

Christie sendiri mengakui kalau ia pernah menyesali keputusannya menciptakan tokoh detektif seperti Poirot, yang terlalu tua bahkan setelah kemunculannya yang pertama. Namun apapun penyesalannya, Christie tetap bertahan dengan Poirot sampai akhir 🙂

Satu lagi ciri Khas Christie yang dituangkannya dalam kisah-kisah Poirot adalah plot penuh melodrama dan romansa kehidupan, satu hal yang kurang bisa ditemui dalam kisah-kisah Sherlock Holmes. Mungkin karena Chrstie adalah penulis perempuan yang haus drama, maka kasus-kasus yang dihadapi Poirot rata-rata bersifat personal, penuh dengan bumbu kehidupan dan sifat manusia yang beraneka ragam.

Inilah beberapa kisah favorit saya dalam buku ini:

  1. The Chocolate Box: kegagalan Poirot yang pertama dan terakhir, kisah unik yang menurutnya menjadi pelajaran penting dalam kariernya. Senang rasanya melihat Poirot yang sombong sesekali harus mengakui kelemahannya.
  1. The Adventure of the Egyptian Tomb: berlatar belakang kutukan piramida Mesir, ditambah gaya bercerita Hastings yang penuh drama, menjadikan kasus ini sebagai salah satu yang paling juicy dalam sejarah kisah-kisah Poirot.
  1. The Mystery of the Spanish Chest: tanpa Hastings yang penuh imajinasi, Poirot berusaha memecahkan kasus sensasional yang melibatkan cinta dan dendam ini, dengan bantuan asistennya yang seperti robot, Miss Lemon.
  1. The Third-Floor Flat: kisah yang tak terduga-duga dialami oleh sekelompok anak muda dalam sebuah bangunan flat. Keterlibatan Poirot yang hanya di bagian akhir juga merupakan kejutan yang luar biasa.
  1. Four-and-Twenty Blackbirds: sederhana namun mengena, Poirot berhasil memecahkan kasus yang berawal dari kisah biasa di sebuah restoran. Hanya karena instingnya!

Lucunya, ada beberapa cerpen dalam buku ini yang mengingatkan saya dengan novel-novel Poirot berikutnya. Mungkin memang Christie mengembangkan plot novelnya dari kisah pendek yang sudah lebih dulu ditulisnya. Seperti The Plymouth Express yang mengingatkan saya dengan Mystery of Blue Train, ‎Problem at Sea sedikit mengingatkan dengan Murder on the Nile, dan Triangle at Rhodes membuat saya berpikir tentang Evil Under The Sun.

Hampir dua minggu waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan buku ini, tapi saat-saat bersama Poirot membuatnya menjadi worth it 🙂

Baca juga fangirling saya terhadap Papa Poirot di sini.