Tags

, , , , , , ,

kill-mockingbirdJudul: To Kill a Mockingbird

Penulis: Harper Lee

Penerbit: Warner Books Edition (1982,first published in 1960)

Halaman: 281p

Gift from a friend πŸ™‚

Saat kehebohan tentang ditemukannya manuskrip prekuel (atau sekuel, masih diperdebatkan mana yang lebih tepat) dari buku To Kill a Mockingbird (TKaM), saya merasa inilah saat yang tepat untuk membaca ulang salah satu buku favorit sepanjang masa ini sebelum membaca prekuelnya tersebut.

Sudah agak lama sejak terakhir saya membaca TKaM, dan saya hanya ingat samar-samar kesan saya terhadap kisah satu-satunya yang ditulis oleh Harper Lee (sebelum ditemukannya manuskrip yang membuat heboh dunia baru-baru ini). Yang pasti, buku ini adalah satu dari segelintir buku yang sukses mendapatkan bintang 5 dari saya, dan saya penasaran apakah kesan saya setelah membaca ulang buku ini masih sama dengan kesan saya terdahulu, saat menganugerahkan bintang 5 pada si TKaM?

Narator TKAM adalah Scout (nama sebenarnya Jeanne Louise), anak perempuan berumur 6 tahun yang tinggal di kota kecil Maycomb di Alabama. Kisah ini terjadi di tahun 50-an, saat segregasi masih terlihat jelas antara penduduk kulit putih dan kulit hitam, terutama di negara bagian Amerika Serikat daerah Selatan.

Hidup Scout berkisar antara sekolah (yang dibencinya), libur musim panas bersama kakaknya, Jem, dan teman mereka Dill, Calpurnia (pengurus rumah tangga berkulit hitam yang sudah seperti Ibu bagi Scout dan Jem), Atticus Finch, ayah mereka yang seorang pengacara, serta misteri tetangga sebelah rumahnya, Boo Radley yang penuh rahasia dan tak pernah menampakkan batang hidungnya.

Namun dunia Scout terasa jungkir balik saat ayahnya ditunjuk menjadi pembela tertuduh kasus perkosaan seorang perempuan kulit putih yang menghebohkan kota mereka. Yang membuat kasus ini tidak biasa adalah tertuduh kasus ini yang merupakan pemuda kulit hitam, Tom Robinson, dan kepercayaan Atticus bahwa Tom tidak bersalah.

Selama menangani kasus ini, Atticus menerima banyak ancaman dan kecaman dari masyarakat Maycomb, terutama yang keluarga Ewell yang anaknya menjadi “korban” Tom Robinson. Baik Jem maupun Scout mau tak mau merasakan perubahan ini pada hidup mereka juga, mulai dari ejekan teman sekelas sampai ancaman dari orang yang tidak mereka kenal.

TKaM adalah kisah klasik tentang kehidupan, keadilan, kemanusiaan dan bagaimana kita menyikapi semua hal tersebut. Yang membuat kisah ini tidak sekadar kisah yang preachy adalah kelihaian Harper Lee mengolah cerita ini dari sudut pandang Scout, yang charming, polos, namun cerdas. Kekonyolan yang dilakukan Scout bersama Jem dan Dill adalah bagian favorit saya dalam buku ini. Namun di tengah itu semua, tetap terselip pesan yang cukup serius mengenai rasisme, diskriminasi, dan hak asasi manusia.

Alasan kedua mengapa buku ini sangat lovable adalah karena sosok Atticus yang super duper idola sekali. Benar-benar ayah ideal, yang mendidik kedua anaknya dengan cara-caranya sendiri, yang meski terkesan terlalu liberal bagi masyarakat Maycomb, namun bisa menjadi pelajaran sendiri, terutama buat saya yang saat ini berstatus sebagai orang tua. Di balik keseriusannya, Atticus memiliki kelembutan hati dan selera humor yang menyenangkan, yang membuatnya lebih membumi dan tidak terlalu seperti “Dewa”.

The one and only Gregory Peck as Atticus Finch

The one and only Gregory Peck as Atticus Finch

Jadi, bagaimana kesan saya membaca buku ini setelah lebih dari 10 tahun berselang? Masihkan bintang 5 layak disematkan pada To Kill a Mockingbird?

Jawabannya, ya. Ya dan ya!

TKaM tetap merupakan buku klasik yang bisa saya nikmati, baik sebagai anak muda (ciye) di awal usia 20an dulu, sampai sekarang sudah menjadi ibu-ibu. Pelajaran yang didapat tetap sama, meski ada tambahan di sana sini. Kesan yang diperoleh pun masih sama: hangat, haru, sedih dan kagum. Pokoknya komplit.

Lalu bagaimana dengan kelanjutan buku ini? Apakah perasaan saya juga akan sama setelah membaca sekuel yang ditunggu-tunggu semua orang di dunia?

Nantikan review selanjutnya, ya πŸ™‚