Tags

, , , , ,

station eleven1Judul: Station Eleven

Penulis: Emily St.John Mendel

Penerbit: Picador (2014)

Halaman: 333p

Beli di: Kinokuniya Nge Ann City (SGD 19.94)- thanks @thatharetha!

Cerita tentang post-apocalypse selalu bisa membuat saya merinding, ngeri, stress, tapi juga… menikmati. Semacam memenuhi kebutuhan masochistic saya :p Namun tentu saja tidak semua kisah menjadi masuk akal, berkesan, dan brilian. Tapi untungnya, Station Eleven berhasil memenuhi harapan saya.

Kisah diawali di sebuah teater di Toronto, saat aktor terkenal Arthur Leander meninggal mendadak di atas panggung ketika memerankan drama King Lear. Di malam yang sama, virus flu mematikan mulai menyebar ke seluruh dunia, dan beserta dengannya- dimulailah apa yang dikenal sebagai akhir zaman.

Dua puluh tahun berselang, segelintir orang yang bertahan hidup (baik karena mengisolasikan diri dari dunia luar saat wabah flu menyerang, atau karena memiliki kekebalan tubuh luar biasa) berusaha memulai kembali peradaban manusia yang telah runtuh. Salah satu kelompok tersebut menamakan diri mereka The Travelling Symphony, yang rutin berkeliling benua Amerika Utara untuk mementaskan drama Shakespeare di permukiman penduduk yang mereka lewati. Dan meski bertahan hidup merupakan prioritas manusia yang tersisa, Travelling Symphony memiliki moto tambahan: Because survival is insufficient.

Tanpa internet, tanpa iPod, tanpa TV dan film yang merekam semua peninggalan buatan manusia- seni dan budaya sudah nyaris punah. Peninggalan manusia hampir hilang, dan dengan modal seadanya, mengais-ngais sejumput sisa budaya yang tertinggal, Travelling Symphony bertekad menyebarluaskan apa yang mereka miliki ke generasi berikut- yang lahir setelah peradaban runtuh.

Kirsten, aktris anggota kelompok Travelling Symphony yang nyaris tidak ingat apa-apa tentang masa sebelum wabah flu, menemukan komik berjudul Station Eleven yang membuatnya berpikir tentang kehidupan manusia di masa lalu, tentang seni, keindahan, mimpi dan segala hal yang melampaui kehidupannya saat ini. Yang membuatnya berharap bahwa ada kesempatan kedua bagi manusia untuk membangun kembali peradabannya.

Namun keinginan Kirsten- dan kelompoknya- terancam oleh kehadiran seorang nabi, yang ditakuti oleh sebagian besar orang karena bisa meramalkan nasib peradaban manusia- dan nabi ini akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah peradaban kembali dibangun. Karena menurutnya, akhir dunia adalah takdir manusia.

Station Eleven merupakan sebuah kisah rumit tentang akhir peradaban manusia- yang dibalut unsur fantasi namun terasa amat dekat dengan realita saat ini. Buku ini adalah jenis buku yang mengharuskan kita untuk berpikir, bagaimana bila kejadian ini benar-benar menimpa kita? Sejauh mana ribuan tahun peradaban akan bertahan dari akhir dunia? Apa yang akan terjadi dengan lagu, film, buku, lukisan, pemikiran, teknologi, yang sudah susah payah diciptakan oleh manusia?

Station Eleven ditulis dengan alur maju-mundur (sebelum dan sesudah peradaban runtuh)- dengan mengedepankan tokoh yang berbeda-beda di setiap babnya, yang nantinya akan terhubung satu sama lain, dan pada akhirnya membentuk satu kesatuan puzzle yang utuh (agak mengingatkan saya dengan buku Cloud Atlas-nya David Mitchell).

Station Eleven berbeda dari buku dystopia atau post apocalyptic lainnya karena -bukannya fokus pada bagaimana cara bertahan hidup- namun membuat kita berpikir satu langkah lebih jauh, tentang apa yang akan kita tinggalkan untuk generasi masa depan. Apakah peradaban yang kita ciptakan saat ini dapat bertahan? Apakah worth it untuk ditinggalkan?

Because you may realize too, that survival is insufficient.

Advertisements