Tags

, , , , , , , , ,

Name of the RoseJudul: The Name of The Rose

Penulis: Umberto Eco

Penerbit/Edisi: Harcourt Books (1st Harvest ed., 1994)

Halaman: 536p

Beli di: Better World Books (USD 3,98 – bargain price!)

Saat itu tahun 1327,masa-masa suram untuk kaum Katolik, karena banyaknya perselisihan yang terjadi antar Ordo, dengan Paus dan Kerajaan di Italia. Korupsi dan perang moral kerap terjadi, para pejabat saling tuduh menuduh satu sama lain, merasa dirinya yang paling benar, dan sibuk melindungi kepentingan masing-masing.

Salah satu yang terkena imbas paling besar adalah Ordo Franciscan, yang karena aliran kepercayaannya tentang makna kemiskinan bertentangan dengan Paus, mendapat tuduhan sebagai ordo yang menganut aliran sesat.

Brother William of Baskerville, mantan penyelidik yang terkenal, ditugaskan untuk mengkaji masalah ini lebih dalam, sekaligus mengatur pertemuan antar pihak-pihak yang bersengketa. Pertemuan tersebut berlangsung di sebuah abbey (seminari) di pedalaman Italia.

William tiba di abbey tersebut, didampingi oleh asistennya, Adso, pendeta muda dari Jerman. Namun yang menunggu mereka di sana ternyata benar-benar di luar perkiraan.

Tujuh pendeta terbunuh berturut-turut selama mereka berada di sana, memaksa William untuk mengeluarkan seluruh kemampuan penyelidiknya untuk memecahkan kasus tersebut- tanpa memperkeruh suasana yang sudah runyam. Apakah pembunuhan ini berhubungan dengan perselisihan antar Ordo yang sedang berlangsung? Atau hanya kebetulan semata, yang dimanfaatkan seseorang demi kepentingan pribadinya?

Sesuai dengan tema posting bareng BBI bulan ini, saya memilih buku yang diterbitkan pertama kali di tahun kelahiran saya (ketauan deeeh umurnya :p). Dan menurut list yang saya temukan di Goodreads, kebetulan buku The Name of The Rose adalah salah satu buku yang paling populer yang terbit di tahun 1980.

Membaca review orang-orang lain, saya mengambil kesimpulan kalau buku ini menuai dua pendapat: jenius, atau menyebalkan😀 Saya sendiri berada di tengah-tengah.

Beberapa hal yang saya sangat suka dari buku ini:

1. Karakter William (yang sedikit mengingatkan saya dengan Sherlock Holmes) dengan logika, metode deduksi serta kecerdikannya yang luar biasa, namun tetap humble dan tidak arogan seperti Sherlock😀 yang juga saya suka adalah kontemplasi William, yang mewakili kaum religius namun tidak menutup diri terhadap sains dan kemungkinan-kemungkinan lain di kehidupan.

2. Adso, sang narator. Kenaifannya menjadikan cerita ini tidak sekaku yang saya duga. Narasinya detail, dan meski diselingi banyak fakta sejarah serta informasi yang kadang terasa overwhelming, namun mengandung unsur humor yang membuat saya banyak tersenyum di antara kerutan dahi.

3. Setting– Eco (ini pertama kali saya membaca buku Eco) benar-benar piawai menciptakan setting yang sangat mudah untuk dibayangkan. Suasana abbey yang muram, misterius dan dipenuhi aura gothic, membawa saya seolah benar-benar berada di sana. Saya juga suka cara Eco membagi buku ini ke dalam sub bab yang disesuaikan dengan waktu yang dianut oleh para pendeta di seminari: matins artinya ibadah jam 2.30 pagi, Lauds adalah saat fajar menjelang, Vespers adalah saat matahari terbenam, dan seterusnya. Meski awalnya agak membingungkan, namun pembagian ini membuat saya akhirnya bisa merasakan lebih nyata ritme kehidupan para pendeta di seminari, dan menghargai kesederhanaan pola hidup mereka.

Satu lagi yang kreatif dari Eco adalah cara ia membuat sub-judul dari tiap bab sehingga terdengar menarik sekaligus memiliki unsur humor yang kadang sarkastik.
Misalnya:

“In which, though the chapter is short, old Alinardo says very interesting things about the labyrinth and about the way to enter it”

Atau ini:
“In which Adso, distraught, confesses to William and meditates on the function of woman in the plan of creation, but the he discovers the corpse of a man”

4. Books!- The Name of The Rose sebenarnya bisa dikategorikan sebagai buku tentang buku, meski dibalut dengan beragam kisah sejarah, isu religius dan politik, serta misteri. Salah satu tempat penyelidikan William dan Adso adalah di perpustakaan abbey yang tersembunyi, yang dirancang menyerupai labirin, dan menyembunyikan buku misterius yang diduga ada kaitannya dengan pembunuhan yang terjadi. Tapi memang agak disayangkan karena topik buku ini agak tenggelam oleh banyaknya isu yang ingin diangkat oleh Eco.

Sedangkan beberapa hal yang saya kurang suka dari buku ini:

1. Not enjoyable. Meski plotnya cerdas, kisahnya sebenarnya menarik dengan setting yang unik, saya tidak bisa bilang kalau saya menikmati buku ini. Empat bintang yang saya berikan lebih untuk menyatakan kekaguman saya atas kecerdasan dan persistensi Eco dalam menulis buku ini, tapi buku ini jenis buku yang saya tidak merasa ingin membaca ulang di kemudian hari.

2.Fakta sejarah terlalu padat. Iya, memang Eco sendiri mengakui kalau unsur misteri buku ini sebenarnya hanya sekadar “jebakan betmen”. Kenapa? Karena sesungguhnya buku ini berisi hal-hal padat seperti kisah sejarah umat Katolik sampai ke filosofi ketuhanan dan makna Alkitab. Berat deh, pokoknya. Dan segala jenis fakta dirangkum dengan sangat padat oleh Eco, sehingga kadang rasanya kita bukan sedang membaca novel fiksi😀

3. Kalimat terlalu panjang. Ini masih bersangkutan dengan poin no.2. Akibat keasyikkan Eco merangkai kata yang seolah tak ada habisnya, kadang saya sampai harus mengulang lagi membaca suatu kalimat karena sudah lupa atau tidak mengerti apa sebenarnya maksud Eco dalam kalimat tersebut. Intinya, sabar-sabarlah membaca buku ini. Di tengah hujan kata dan kalimat yang super panjang, ada juga kok memorable quote yang masih bisa dinikmati🙂

Name of The Rose sudah diadaptasi menjadi film pada tahun 1986, dengan Sean Connery sebagai William, dan Christian Slater (!!!!) sebagai Adso. I should look for the movie!

Aaahhh Christian Slater!! Very 80s :) Source

Aaahhh Christian Slater!! Very 80s🙂 Source

Submitted for:

Posbar Tema Buku Tahun Lahir bulan Oktober 2014

Posbar Tema Buku Tahun Lahir bulan Oktober 2014

 

Category: Older Than You

Category: Older Than You