Tags

, , , , , ,

memoirs imaginary friendJudul: Memoirs of an Imaginary Friend

Penulis: Matthew Green

Penerbit: Sphere (2012)

Halaman: 458p

Beli di: Book Depository (USD 5,79, bargain price!)

Saya selalu tertarik dengan buku-buku bertema special need children. Seringkali buku-buku yang memiliki tokoh anak-anak dengan autisme atau asperger memiliki pesan moral yang memorable, juga biasanya dipenuhi adegan-adegan yang menyentuh.

Karena itu saya cukup berharap banyak dengan buku Memoirs of an Imaginary Friend. Narator kisah ini adalah Budo, sesosok teman khayalan dari anak bernama Max. Max yang berumur 8 tahun adalah anak dengan autisme, yang cerdas nanun belum memiliki kematangan mental seperti anak-anak seusianya.

Budo sendiri bentuknya menyerupai anak laki-laki biasa, sedikit berbeda dari imaginary friends lain yang biasanya berbentuk aneh-aneh, sesuai khayalan anak-anak yang menciptakan mereka. Yang juga membuat Budo istimewa adalah umurnya yang termasuk panjang untuk ukuran imaginary friends. Sudah 5 tahun Budo hidup di dunia Max, jauh lebih lama dibandingkan umur rata-rata teman khayalan lainnya. Budo membantu Max untuk berusaha mengerti dunia sekitar yang terasa mengerikan, membantu Max berusaha fit in dengan kehidupannya di sekolah dan di rumah.

Ada beberapa orang yang kurang Budo sukai dalam hidup Max, salah satunya adalah Mrs. Patterson, paraprofesional (semacam terapis) yang bekerja di sekolah Max. Suatu hari, kecurigaan Budo terbukti saat Max lenyap tanpa jejak, dan jelas-jelas Mrs. Patterson terlibat dalam kejadian itu. Satu-satunya jalan untuk Budo bisa menolong Max adalah dengan meminta bantuan sesama teman khayalan yang sangat ia takuti. Apakah Budo bisa mengatasi ketakutannya- bukan hanya untuk menyelamatkan Max, tapi juga menyelamatkan eksistensinya sebagai teman khayalan Max?

Beberapa review menyebut buku ini sebagai gabungan buku Room dan Curious Incident of a Dog in the Night Time. Saya menyukai kedua buku tersebut, tapi sejujurnya kisah Budo ini terasa setengah matang untuk saya.

Sebagai narator, Budo kurang konsisten, kadang polos seperti anak kecil, kadang mendadak jadi sangat matang dan bijaksana. Saya juga agak kurang sreg dengan banyaknya “aturan main” tentang teman khayalan yang diciptakan oleh Matthew Green dalam buku ini. Ada yang bisa menembus dinding, ada yang hanya bisa terpaku diam. Ada yang bodoh dan ada yang kelewat cerdas. Terlalu banyak inkonsistensi yang membuat saya kurang bisa relate dengan para tokoh teman khayalan di buku ini- padahal salah satu hal yang ingin ditonjolkan adalah konsep imaginary friends yang bukan sekadar imajiner.

Saya juga tidak merasakan kekuatan emosi kisah ini, terutama menyangkut hubungan Max dan Budo. Relationship mereka terasa kaku, padahal saya telanjur berharap banyak untuk kisah persahabatan yang menyentuh hati.

Entah karena memang mood saya juga kurang tepat saat membaca buku ini, yang pasti saya tidak mendapatkan kepuasan setelah menamatkannya. Something is truly missing even though I can’t really say what it is.

Submitted for:

Category: Blame It On Blogger

Category: Blame It On Blogger