Tags

, , , , , ,

istana blablaJudul: Istana BlaBlaBla

Penulis: Wisnu Nugroho

Ilustrator: Didie SW

Penerbit: Noura Books cetakan ke-1 (Juli 2014)

Halaman: 276p

Beli di: BukaBuku (IDR49,300)

Saya beruntung mengenal Wisnu Nugroho, yang akrab dipanggil Inu, ketika masih bekerja sebagai wartawan. Inu adalah jurnalis Kompas yang lama menempati pos di Istana Presiden, sejak SBY menjabat tahun 2004. Ketika Inu menerbitkan tetralogi Pak Beye-nya, saya langsung bersemangat membaca tulisannya, yang salah satunya pernah saya review di sini.

Buku terbarunya, Istana BlaBlaBla, masih berkisar seputar pengalamannya meliput berita di istana. Namun bukan isu politik serius yang ia bahas, melainkan segala printilan dan kisah-kisah di balik layar yang masih jarang diketahui oleh orang luar seperti saya.

Beberapa cerita menarik yang jadi favorit saya misalnya saat septic tank istana meluap akibat kebanyakan rapat yang digelar di istana, lalu adanya suara-suara misterius setiap tengah malam di salah satu bagian istana, sayembara berburu kucing yang merajalela berkeliaran di dalam kompleks istana, juga saat para menteri dan pejabat membungkus sepatu mereka dengan kresek hitam setiap acara buka puasa, supaya tidak ketahuan memakai merek import yang mahal harganya.

Wisnu bisa menjabarkan kejadian-kejadian kecil menjadi seolah luar biasa penting, yang memang cocok dengan gaya pemerintahan SBY: mementingkan hal-hal tak penting 🙂 Sindiran tajam namun kocak menjadi ciri khas Wisnu yang bertebaran di sepanjang buku. Tentang SBY yang gemar merombak kabinetnya, yang selalu berusaha menghapuskan KKN namun akhirnya menciptakan jabatan-jabatan baru bagi para kerabatnya, juga tentang SBY yang hobi membentuk berbagai jenis “tim” dan “komite” yang seringkali berbenturan dengan tugas para anggota resmi kabinet.

Sifat SBY yang seringkali jaim, reaktif menanggapi keluhan rakyat dan berita negatif di luar sana, serta kecenderungannya untuk melebih-lebihkan yang tidak perlu, digambarkan dengan sangat pas oleh Wisnu yang memang cukup lama menyaksikan sendiri keseharian presiden ke-6 kita ini.

Yang agak saya sayangkan di buku ini adalah layoutnya yang kadang agak mubazir. Saya suka ilustrasi Didie SW yang bisa mengimbangi kekocakan gaya menulis Inu, namun ada beberapa halaman yang mubazir karena hanya menampilkan kutipan atau potongan bab yang bersangkutan.

Menurut saya, kutipan semacam ini kurang perlu, apalagi kalau menghabiskan satu halaman penuh. Selain mubazir, juga agak mengganggu kenikmatan membaca, karena kerap memotong di tengah-tengah bab yang sedang seru. Kutipan atau teaser yang dirasa perlu untuk majalah atau koran, kurang pas untuk buku semacam ini, yang isinya sudah terasa menggigit tanpa perlu ditambahi teaser di bagian tengah. Menurut saya, lebih baik halaman yang bersangkutan dibuat untuk tambahan ilustrasi saja 🙂 Namun secara keseluruhan, buku ini tetap menyenangkan. Dan tujuan Inu memang tercapai:

“Karena banyaknya hal tidak penting, terjaganya hal-hal penting selama dua periode Pak Beye tidak perlu dikhawatirkan. Bukankah hal-hal penting akan tetap menjadi penting ketika banyak didapati hal-hal tidak penting? Seperti eksistensi orang suci yang terjaga karena hadirnya para pendosa”.

Submitted for:

Posbar Tema Buku Baru Indonesia 2014 bulan Agustus 2014

Posbar Tema Buku Baru Indonesia 2014 bulan Agustus 2014

Advertisements