Tags

, , , , , , ,

glass castle1Judul: The Glass Castle

Penulis: Jeannette Walls

Penerbit/Edisi: Scribner (First trade paperback edition 2006)

Halaman: 288p

Beli di: Bukumoo (IDR 25k, bargain price!)

Yang membuat buku ini istimewa adalah kisahnya benar-benar terjadi, dan merupakan memoar sang penulis, Jeannette Walls, tentang masa kecilnya di tahun 1960-an hingga ia tumbuh besar dengan ayah alkoholik serta ibu yang sibuk dengan mimpi-mimpinya sendiri.

Jeannette, bersama ketiga saudaranya: Lori, Brian dan Maureen, harus berjuang bertahan hidup sejak usia kecil. Jeannette sudah memasak sendiri sejak berumur tiga tahun (yang menyebabkan ia masuk rumah sakit karena luka bakar parah), dan bersama Brian, Jeannette terbiasa mengorek-ngorek tempat sampah untuk mencari makanan yang masih layak untuk disantap. Hidup mereka biasanya nomaden- berpindah-pindah setiap kali ayah mereka menemui masalah di tempat tinggal mereka yang terakhir, mulai dari di daerah padang pasir Arizona sampai ke kota kecil di West Virginia.

Ironisnya, ayah mereka, Rex Walls, sebenarnya merupakan orang yang cerdas, karismatik dan penuh impian besar. Sayangnya, sifat-sifat positif ini langsung menghilang bila Rex sudah dikuasai oleh minuman keras. Kecanduan inilah yang menjadi masalah besar keluarga mereka- selain memang Rex adalah tipikal orang yang selalu ingin mencari cara-cara cepat untuk kaya, bukannya merintis karir dengan sabar melalui bakatnya yang luar biasa. Cita-citanya adalah membangun The Glass Castle- rumah masa depan yang akan menjadi tempat tinggal keluarga Walls.

Sementara itu, Rose Mary, ibu Jeannette, tumbuh besar di bawah asuhan ibu yang otoriter dan menghambat cita-citanya untuk menjadi seorang seniman. Rose Mary bertekad tidak akan membesarkan anak-anaknya dengan cara yang sama. Namun, cara yang ditempuhnya sangat ekstrim: ia malah menghindari kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu, dan menganggap hal terbaik bagi anak-anaknya adalah mengurus hidup mereka sendiri sejak sangat kecil.

Saat remaja, kejadian demi kejadian membuat Jeannette berjanji tidak akan pernah hidup seperti kedua orang tuanya. Ia bertekad untuk keluar dari kemiskinan dan rasa lapar, dan membawa saudara-saudaranya untuk mencari kehidupan baru di kota New York.

Rasanya sepanjang membaca buku ini saya ingin melempar Rex dan Rose Mary dengan buah dan telur busuk. Mereka adalah orang tua beruntung yang memiliki anak-anak cerdas, imajinatif, dan positif, namun menyia-nyiakan segalanya hanya karena mereka terlalu egois sebagai orang tua. Ya, mereka mungkin punya trauma dengan masa kecil masing-masing, tapi itu bukan alasan untuk menjadi orang tua brengsek bagi anak-anak mereka.

Jeannette Walls adalah seorang pencerita yang sangat hebat. Kisah ini berhasil membuat saya ketawa ngakak, meneteskan air mata, sampai emosi tinggi yang menyebabkan saya melempar buku ini satu kali saking sebalnya.

Kalimat-kalimat Jeannette mengalir dengan indah, menggambarkan kekacauan dan ketakutannya, serta dilemanya karena ia sebenarnya sangat mencintai ayahnya. Hubungan Jeannette dengan saudara-saudaranya- terutama Brian- juga sangat menyentuh.

Adegan paling membuat sedih adalah saat Jeannette dan Brian berkeliling ke rumah-rumah kosong untuk mencari sisa makanan, menemukan sederet makanan kaleng di salah satu rumah, namun ketika dibuka isinya meledak saking sudah tersimpan sangat lama dan membusuk.

Yang juga heartbreaking adalah saat Jeannette pelan-pelan terpaksa menyadari bahwa ayahnya hanyalah manusia biasa. Kekaguman masa kecilnya terhadap Rex selalu menutupi kenyataan kalau ayahnya hanyalah seorang pemabuk dengan mimpi terlalu tinggi. Namun seiring bertambah dewasa, kekagumannya mulai meluntur, dan kenyataan pahit pun menyergapnya.

Kisah ini membuka mata saya bahwa kemiskinan masih merajalela- bahkan di negara adidaya seperti Amerika- namun kesempatan untuk berjuang selalu ada, terbukti dari Jeannette Walls yang kini telah menguukuhkan dirinya sebagai seorang penulis sukses. Kisah inspiratif ini berhasil dituturkan Jeannette dengan hidup, namun tanpa unsur drama yang berlebihan.

Ps: saya memberi 5 bintang untuk buku ini ๐Ÿ™‚

โ€œMom always said people worried too much about their children. Suffering when you’re young is good for you, she said. It immunized your body and your soul, and that was why she ignored us kids when we cried. Fussing over children who cry only encouraged them, she told us. That’s positive reinforcement for negative behavior.โ€

โ€œMom told us we would have to go shoplifting.
Isn’t that a sin?” I asked Mom.
Not exactly,” Mom said. “God doesn’t mind you bending the rules a little if you have a good reason. It’s sort of like justifiable homicide. This is justifiable pilfering.โ€

jeannette wallsJeannette Walls adalah seorang penulis, sebelumnya bekerja sebagai jurnalis di MSNBC.com. Kini tinggal di Virginia bersama suaminya, jurnalis John Taylor. Buku memoarnya, The Glass Castle, bertahan di New York Times bestseller list selama 100 minggu.

 

 

Submitted for:

Posbar Tema Buku Masalah Remaja/Keluarga bulan Juli 2014

Posbar Tema Buku Masalah Remaja/Keluarga bulan Juli 2014