Tags

, , , , ,

silkwormJudul: The Silkworm

Penulis: Robert Galbraith

Penerbit/Edisi: Mulholland Books (First North American Edition, 2014)

Halaman: 455p

Beli di: Kinokuniya Grand Indonesia (IDR 288k)

Setengah tahun sudah berlalu sejak kasus terkenal yang membuat nama Cormoran Strike melambung. Kini, pekerjaan berdatangan ke kantor detektifnya, membuat ia dan sang asisten, Robin, selalu sibuk.

Meski demikian, Strike merasa bosan, karena kebanyakan kasus yang ia hadapi berhubungan dengan perselingkuhan, suami yang tidak setia, istri yang menginginkan harta gono-gini lebih banyak, dan pekerjaan memata-matai yang tak kunjung habis.

Karena itulah Strike langsung tertarik saat Leonora Quine datang ke kantornya dan memintanya untuk menyelidiki keberadaan sang suami yang menghilang. Owen Quine adalah novelis yang terkenal sering melakukan tindakan dramatis, dan bukan pertama kalinya ia menghilang, sehingga Leonora tidak punya kecurigaan apapun.

Namun seiring penyelidikan Strike, ia menemukan hal-hal aneh yang menunjukkan Owen bukan sekadar menarik perhatian seperti biasanya. Apalagi sebelum menghilang, Owen baru menyelesaikan manuskrip novel (yang berjudul Bombyx Mori alias Silkworm) yang isinya merupakan kisah nyata tokoh-tokoh terkenal dengan segala rahasia gelap mereka.

Apakah ada yang mendendam pada Owen karena manuskrip tersebut?

Ketika mayat Owen ditemukan dalam keadaan mengenaskan, Strike tahu, kali ini dia menemukan lawan yang benar-benar sepadan.

Kisah kedua Cormoran Strike ini- meski detailnya lebih gory dan tidak biasa dibandingkan buku pertama- entah mengapa tidak bisa membuat saya benar-benar bisa menikmatinya. Ada beberapa hal yang terasa agak dipaksakan oleh Galbraith, termasuk bertebarannya red herring di sepanjang cerita yang malah akhirnya mengaburkan suspense kisah ini sendiri.

Satu hal yang agak kurang saya sukai, Galbraith seringkali mengatakan kalau Strike sudah tahu siapa pembunuhnya, atau Strike yakin dia bisa menjebak tersangka ini atau itu. Lalu Strike menceritakan semuanya pada Robin- tentu tanpa dikisahkan pada pembaca.

Gaya penceritaan seperti ini, terus terang saja, mengurangi kenikmatan sebuah buku misteri. Semacam antiklimaks dari ketegangan yang sudah dibangun. Instead of bertanya-tanya tentang apa yang Strike ketahui, saya malah merasa penuturan menuju kesimpulannya terlalu dipanjang-panjangkan.

Harusnya Galbraith bisa menggiring pembaca pelan-pelan ke arah pemikiran Strike (tanpa harus membocorkan kalau Strike sudah tahu ini dan itu) dan memberikan twist di bagian akhir yang bisa membuat pembaca terbengong-bengong, atau menepuk jidat sambil mengangguk-angguk puas. Inilah yang tidak saya dapatkan dari Silkworm.

Padahal, kalau mau dirunut-runut, semua buku Harry Potter (yang ditulis oleh sang pencipta Cormoran Strike) juga mengandung unsur misteri dan twist luar biasa cerdas di setiap endingnya. Satu hal yang -entah kenapa- kurang bisa dimaksimalkan oleh Galbraith aka Rowling di sini.

Yang cukup menghibur dari buku ini adalah pengembangan para karakter utama yang dibuat cukup believable. Strike menghadapi dilema berat karena mantan kekasihnya akan menikah, sementara Robin masih berkutat dengan ketidaksetujuan Matthew – tunangannya- akan pilihan kariernya.

Namun hubungan Strike dan Robin – yang tadinya digambarkan sebagai bos dan anak buah, semakin berkembang menjadi partner yang sederajat- mengingatkan saya pada serial jadul Moonlighting (yang diperankan oleh Bruce Willis dan Cybill Shepherd).

Satu hal lain yang masih tetap menjadi kekuatan Galbraith adalah penggambaran setting yang luar biasa vivid. Bagaimana Strike menelusuri kota London, mengunjungi pub demi pub dan bertemu dengan berbagai karakter dari dunia penerbitan buku yang sepertinya sangat nyaman untuk diangkat Galbraith dalam kisah ini.

Menarik juga membayangkan kemungkinan demi kemungkinan yang bisa terjadi di buku-buku selanjutnya, serta perkembangan kasus yang akan dihadapi oleh Cormoran dan Robin. Dan jangan khawatir, Rowling (ups, Galbraith) sudah menegaskan ada lebih dari 7 buku Strike yang akan terbit. Yeaaay!