Tags

, , , , , , ,

lowland2Judul: The Lowland

Penulis: Jhumpa Lahiri

Penerbit/edisi: Bloomsbury Paperback Edition (2014)

Halaman: 406p

Beli di: Kinokuniya Nge Ann City (14,93 SGD) — thanks, Dad!

Subhash dan Udayan, kakak beradik yang usianya hanya berbeda satu tahun, sangat dekat satu sama lain hingga sering disangka kembar. Mereka tumbuh besar di pinggiran kota Calcutta,di sebuah rumah di Tollygunge, tidak jauh dari dataran rendah (lowland) yang sering banjir di musim hujan.

Semakin bertambah dewasa, Subhash dan Udayan memiliki pemikiran berbeda. Subhash menekuni karir sebagai peneliti, mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi doktoral di Rhode Island, Amerika. Sementara Udayan dibutakan oleh idealismenya, aktif dalam partai komunis yang disebut sebagai aliran Naxalites, dan ditentang oleh pemerintah India. Sebuah tragedi yang melibatkan Udayan akhirnya membawa Shubash kembali ke India, dan mengambil keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya, juga hubungannya dengan kedua orang tuanya.

Jhumpa Lahiri.

Nama yang sudah menjadi jaminan mutu, yang sudah membuat saya jatuh cinta sejak membaca Interpreter of Maladies. Dan tidaklah berlebihan kalau ekspektasi saya terhadap The Lowland menjulang setinggi langit, apalagi buku ini masuk ke dalam nominasi Man Booker Prize 2013.

The Lowland memiliki ciri khas Jhumpa Lahiri: pemilihan diksi yang cantik, deskripsi setting yang detail, drama keluarga yang dipenuhi tragedi. Ia membawa kita menelusuri Calcutta di tahun 60 dan 70an, lewat kondisi politik India yang tidak stabil, pemerintahan yang represif terhadap munculnya partai komunis baru.

Udayan mewakili generasi muda, pemberontak, idealis namun tidak realistis. Sementara itu, Shubash digambarkan sebagai wakil imigran Amerika yang mengejar American Dreams, kehidupan yang lebih baik meski belum tentu lebih membahagiakan. Karakter Shubash-lah yang lebih banyak mengundang simpati, keinginannya untuk membersihkan segala sampah yang ditinggalkan Udayan.

Namun di balik segala keindahan The Lowland, menurut saya buku ini masih terlalu flat. Kurang greget, kurang memberikan kesan yang mendalam seperti karya Lahiri sebelumnya. Mudah untuk melupakan Shubash dan Udayan beberapa saat setelah saya menutup buku ini.

Jhumpa Lahiri can do so much more with this book. Tempo yang terlalu lambat (meski terasa mellownya), karakter yang kurang kuat (meski masih bisa mengundang simpati), dan jalan cerita yang lurus-lurus saja, membuat buku ini masih berada di bawah ekspektasi saya. Ada sesuatu yang hilang- seperti sayuran yang kurang digarami.

Nexalites adalah aliran komunis (dikenal juga sebagai Maoist) yang berkiblat pada ajaran Mao Zedong di Cina. Obsesi mereka menggulingkan pemerintahan India di era 60-70an, namun selalu gagal karena tidak adanya gerakan revolusi yang berarti. Hingga kini, Nexalites masih bertahan hidup di hutan-hutan pedalaman di India, meski gaungnya sudah tidak terlalu terdengar.

Submitted for:

Posbar Tema Buku Sastra Asia bulan Juni 2014

Posbar Tema Buku Sastra Asia bulan Juni 2014