Tags

, , , , , , , , , ,

PulangJudul: Pulang

Penulis: Leila S Chudori

Penerbit: KPG (2013)

Halaman: 457p

Beli di: Kompas Gramedia Fair 2013 (IDR 70k, disc 20%)

Awal berkuasanya Orde Baru, September 1965, semua orang Indonesia yang terlibat dengan PKI dan sekitarnya terkena imbas, ditangkap atau melarikan diri. Dimas Suryo, wartawan yang sebenarnya punya posisi netral namun sedang dikirim ke Santiago, Cili, untuk sebuah acara, akhirnya terkatung-katung tak bisa pulang. Bersama 3 orang temannya, Nugroho, Tjai dan Risjaf- Dimas terdampar di Paris, membuka restoran Indonesia yang malah menjadi hits. Dimas juga bertemu dengan Vivienne Deveraux, mahasiswi Prancis yang akhirnya menjadi pasangan hidupnya.

Tahun 1998, era Orde Baru sedang di ujung tanduk. Lintang Utara, anak perempuan Dimas sedang membuat tugas akhir kuliahnya tentang politik Indonesia, tanah air yang tak pernah ia kenal karena ia tidak boleh menginjakkan kaki di sana akibat status eksil politik ayahnya. Namun nasib baik menghampiri Lintang saat ia berhasil mendapatkan visa ke Indonesia. Tapi kehadirannya di saat Indonesia siap berubah wujud, memaksanya mengenal negara itu dari sisi yang lain.

My thoughts:

Tema tentang eksil politik

Saya memiliki pengalaman pribadi mengenal beberapa eksil politik di Belanda, yang hingga saat ini tetap memutuskan untuk menetap di negara itu karena terlalu lama merasa kecewa dengan Indonesia. Dimas Suryo dan teman-temannya mengingatkan saya pada Pak Mien di Leiden dan kawan-kawannya sesama eksil politik, yang banyak memberikan saya pengetahuan baru tentang tanah air kita ini. Betapa peristiwa 1965 mengubah nasib banyak orang, dan betapa pahitnya mencintai negara sendiri namun hanya bertepuk sebelah tangan.

With Pak Mien dan temen2 PPI Belanda, jadi mengenang masa lalu ceritanya :)

With Pak Mien dan temen2 PPI Belanda, jadi mengenang masa lalu ceritanya 🙂

Namun sejujurnya, saya berharap lebih dengan isu eksil politik yang diangkat dalam buku ini. Menurut saya, Leila terlalu banyak berkutat pada drama melankoli dan kisah romans yang terkubur, sehingga lupa menjelaskan latar belakang lebih detail masing-masing tokoh dalam buku ini. Padahal banyak sekali- baik drama pribadi maupun kisah politik- yang masih bisa digali di sini.

Fokus utama kisah cinta Dimas Suryo – yang nantinya juga berlanjut dengan kisah cinta Lintang Utara – terlalu mendapat porsi besar di sini, mengalahkan kecintaan Dimas pada Indonesia. Padahal yang patut dicermati justru adalah bagaimana para eksil politik ini berada dalam dilema tak berkesudahan – membenci sekaligus mencintai tanah air yang tak terjangkau ini.

Too much romance

Uhum, untuk sebuah buku yang memenangkan penghargaan Khatulistiwa Literary Award tahun 2013, rasanya memang nuansa romans di buku ini terlalu kental. Padahal premisnya sih sudah sangat menarik, sayang juga Leila terlalu memfokuskan cerita layaknya romansa remaja 😀 Tapi mungkin ini salah satu trik untuk menarik pembaca dari segmen yang lebih luas. Terbukti dari beberapa review para pencinta romans yang sempat saya baca, rata-rata menilai positif buku ini.

Tidak konsisten

Ada beberapa ketidakkonsistenan yang cukup mengganggu saya sepanjang membaca buku ini. Salah satunya adalah gaya bahasa Leila, yang mungkin sedikit mengacu pada gaya bahasa zaman dulu, sehingga banyak menggunakan percampuran kata aku dan saya di dalam satu kalimat. Menurut saya, ini adalah salah satu flaw yang cukup amatir, terutama untuk buku sastra sekelas Pulang. Menggunakan kata saya dan aku di dalam satu kalimat atau satu paragraf bukan saja tidak konsisten, tapi juga merusak gaya bahasa keseluruhan buku. Beberapa saat Lintang menggunakan kata “aku” dengan ayahnya, menunjukkan hubungan yang akrab dan hangat, namun di kalimat selanjutnya, kembali kata “saya” yang muncul, menghadirkan suasana yang kaku dan berjarak.

Selain itu, ketidakkonsistenan juga sempat saya temukan dalam setting waktu yang melompat-lompat, namun kurang jelas. Misalnya, disebutkan kalau saat bertemu dengan Vivienne bulan Mei 1968, Dimas sedang memegang surat dari tanah air tentang tertangkapnya salah satu kawannya, Hananto di Jakarta. Namun belakangan, tanggal di surat itu tertulis Jakarta, Agustus 1968. Tidak jelas apa saya melewatkan suatu detail penting di sini, jeda yang tak nampak, tapi buat saya, ketidakkonsistenan semacam ini cukup mengganggu.

Atau kesalahan kecil semacam kalimat yang menyatakan kalau Lintang pertama kalinya mencoba naik sepeda motor di Jakarta saat dibonceng Mita di tengah kerusuhan Mei, namun sebelumnya saat Lintang baru tiba di Jakarta, disebutkan ia naik ojek ke kantor Alam di Jakarta Pusat. Kesalahan kecil, namun seharusnya tidak perlu terjadi di buku selevel pemenang KLA.

Overall?

Secara keseluruhan, buku Pulang sangat saya rekomendasikan untuk pembaca yang masih awam dengan dunia sastra Indonesia. Buku ini mengangkat topik yang cukup serius, dengan penyampaian yang ringan dan mudah dipahami. Perkenalan yang menarik dengan karya-karya nominasi KLA yang biasanya terbilang berat dan cukup membuat pusing kepala.

Namun untuk yang berharap lebih, mungkin Pulang hanya bisa diibaratkan sebagai snack di sore hari, selingan yang menghibur tapi kurang mengenyangkan.

Submitted for:

Posbar Tema Buku KLA bulan Mei 2014

Posbar Tema Buku KLA bulan Mei 2014