Tags

, , , , , , , , , , ,

edgar sawtelleJudul: The Story of Edgar Sawtelle

Penulis: David Wroblewski

Penerbit: Harper International Edition (2009)

Halaman: 611p

Beli di: Aksara, Pesta Buku Jakarta 2011 (IDR 50k, bargain price!)

Edgar Sawtelle lahir dan tumbuh besar di sebuah peternakan anjing di dekat hutan Chequamegon, Wisconsin. Sejak lahir, Edgar tidak bisa berbicara dan hanya berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Namun ia menikmati kehidupannya yang tenang bersama ayah dan ibunya, merawat dan melatih anjing-anjing mereka yang dikenal sebagai Sawtelle Dogs. Edgar juga bersahabat erat dengan salah satu anjing betina yang sudah menjadi teman setianya sejak kecil, Almondine.

Suatu hari, Claude, adik laki-laki ayahnya yang sudah lama pergi dari rumah, mendadak muncul kembali dalam kehidupan mereka. Dan kemunculannya ternyata membawa banyak tragedi dan misteri untuk Edgar. Ketika suatu kecelakaan terjadi, Edgar memutuskan untuk kabur dari rumah, membawa serta ketiga ekor anak anjing yang sedang ia latih, menyusuri hutan Chequamegon.

Edgar banyak belajar selama perjalanan itu, terutama untuk mengkonfrontasi ketakutannya, dan mengungkapkan kebenaran. Akankah Edgar berani pulang ke rumah untuk menghadapi resiko kehilangan hidupnya yang dulu?

Ketika BBI memutuskan untuk mengadakan posting bareng buku-buku Oprah, saya sangat excited, karena ternyata banyak buku di list Oprah yang ada di dalam timbunan saya 🙂 Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya mengambil keputusan untuk membaca buku Edgar Sawtelle ini, karena memang sudah cukup lama terkubur di dalam timbunan buku yang kian meninggi. Dan ternyata, saya cukup menyesali keputusan itu.

Kenapa?

To tell you the truth, I didn’t enjoy reading this book. Dan saya cukup kaget, karena menilik dari daftar buku-buku pilihan Oprah yang sudah saya baca, rata-rata mendapat rating 3-4 bintang dari saya. Dan sejujurnya, saya memang berharap lebih dari si Edgar Sawtelle. Apalagi ada premis kisah tentang anjing-anjing, yang merupakan topik yang selalu menarik bagi saya.

Penuturan yang lambat adalah salah satu alasan utama mengapa saya tidak bisa menikmati buku ini. Mungkin untuk menegaskan kesunyian dunia Edgar yang tanpa suara, David Wroblewski sengaja membuat kisah didominasi oleh narasi berkepanjangan dari sisi Edgar, meski tidak menggunakan sudut pandang orang pertama. Terkadang, untuk mendeskripsikan suatu tempat atau suasana, Wroblewski bisa menghabiskan satu halaman sendiri.

Sebenarnya banyak hal yang bisa membuat kisah ini menjadi menarik, salah satunya adalah detail saat Edgar melatih anjing-anjingnya. Proses bagaimana ia membuat mereka percaya, lalu menurut padanya, awalnya terasa menarik, mengingatkan saya pada acara TV Cesar Milan si ahli anjing. Tapi saat adegan ini diulang-ulang dengan deskripsi detail yang sama seolah baru pertama kali diceritakan, saya jadi merasa bosan dan kehilangan minat.

Wroblewski seakan-akan terjebak dalam keasyikannya menulis sepanjang dan selama mungkin, tanpa memperhatikan perasaan para pembaca. Buat saya, jumlah 611 halaman bukanlah kisah yang singkat. Namun bila menilik isi buku ini, sepertinya Wroblewski bisa memangkas setengah panjang buku tanpa kehilangan esensi yang berarti.

Kelemahan lain Wroblewski yang sangat suka dengan deskripsi tempat dan suasana adalah kurangnya penggambaran karakter yang kuat. Saya cukup kesulitan untuk merasa relate dengan Edgar sang protagonis, dan membenci Claude si antagonis. Buat saya, tidak ada bedanya siapa protagonis dan antagonis dalam kisah ini, saking tidak jelasnya karakterisasi yang digambarkan oleh Wroblewski. Kalau tujuannya ingin membuat pembaca menabak-nebak ke arah mana cerita akan dibawa, untuk kemudian memberikan twist besar di akhir cerita, bagi saya usaha Wroblewski ini gagal total. Yang ada, saya hanya bisa merasa kebingungan dengan inti keseluruhan cerita.

Kisah yang berpotensi penuh drama pun tidak berhasil mewujud dengan baik, karena terlalu banyak narasi bertele-tele yang digunakan. Bahkan endingnya pun tidak berhasil membuat saya terharu atau tersentuh atau apapun yang dimaksudkan oleh sang penulis.

Oprah’s Book Club pertama kali dibentuk oleh Oprah Winfrey tahun 1996, di mana ia memilih buku (biasanya novel) untuk didiskusikan dalam acara talk shownya. Sampai show tersebut berakhir tahun 2011, Oprah’s Book Club telah merekomendasikan 70 buah buku. The Story of Edgar Sawtelle adalah pilihan Oprah untuk bulan September 2008. Tahun 2012, Oprah kembali membentuk Oprah’s Book Club 2.0, di mana interaksinya dengan pembaca buku dilakukan melalui online. List lengkap buku pilihan Oprah bisa dilihat di sini.

Submitted for:

Posbar Tema Oprah's Book Club bulan Maret 2014

Posbar Tema Oprah’s Book Club bulan Maret 2014

aname-1

Category: It's Been There Forever

Category: It’s Been There Forever

 

Advertisements