Tags

, , , , , , , , ,

Judul: Are You There, God? It’s Me, Margaret

Penulis: Judy Blume

Penerbit: Macmillan Children’s Books (1998)

Halaman: 152p

Beli di: Bras Basah (nitip Dewi, SGD 2,90, bargain!)

Plot
Margaret dan keluarganya baru pindah ke Farbrook, kota kecil di New Jersey. Tempat tersebut sangat berbeda dari New York, rumah mereka sebelumnya, dan Margaret sangat takut ia tidak bisa menyesuaikan diri di sana. Lebih dari segalanya, Margaret hanya ingin menjadi anak usia 11 tahun yang normal, yang bisa memakai bra dan mendapat menstruasi tepat waktu. Tapi hal tersebut seolah tak kunjung datang.

Belum lagi kenyataan kalau Margaret tidak memeluk agama apapun, karena kedua orang tuanya membesarkannya dalam kultur agnostik. Margaret sibuk mencari Tuhan, dari mulai pergi ke sinagoga bersama neneknya yang orang Yahudi, ke gereja ikut teman-temannya, bahkan mencoba pengakuan dosa di gereja Katolik. Namun Margaret merasa paling dekat dengan Tuhan saat ia sedang mengobrol secara pribadi denganNya. Tapi apakah itu normal?

Then
Terakhir kali saya membaca buku ini adalah sekitar 20 tahun yang lalu, dan saat itu yang saya baca adalah versi terjemahan Gramedia. Saat itu, saya merasa sangat relate dengan Margaret- terutama karena kami sama-sama khawatir tidak akan tumbuh menjadi remaja perempuan yang normal. Dan dari segi tersebut, saya rasa buku ini akan tetap relevan untuk anak-anak perempuan dari segala tempat dan zaman- meski kisahnya cenderung sederhana dan tidak sesophisticated buku-buku middle grade/ young adult masa kini.

Karakter yang ada di sekeliling Margaret pun rasanya akan tetap bisa dijumpai saat ini, seperti Nancy yang mewakili teman satu geng yang sok tahu, Laura yang merepresentasikan gadis-gadis bertubuh besar yang selalu menjadi bahan olok-olok di kelas, atau Mr. Benedict, guru laki-laki muda yang gugup berhadapan dengan sekelompok pre-teens.

Now

Sekarang, saya kembali membaca buku ini setelah menjadi orang tua. Dan kesannya, tentu saja berbeda. Saya baru menyadari beberapa hal yang dulu sepertinya saya take it for granted.

Salah satu yang mencolok adalah isu mencari Tuhan/agama yang menjadi ini cerita. Mungkin, dulu saking fokusnya saya dengan masalah Margaret yang ingin cepat-cepat pakai bra, saya sampai tidak memperhatikan isu agama ini. Dan menurut saya, ini adalah isu yang cukup serius untuk ukuran buku anak/young adult. Sebenarnya saya nggak keberatan dengan isu ini, karena cukup menjadi eye opener juga, apalagi di jaman sekarang. Yang saya kurang suka adalah sikap orang tua Margaret yang digambarkan bermusuhan dengan kakek-nenek Margaret karena pernikahan mereka tidak disetujui. Apalagi mereka mempengaruhi Margaret untuk memiliki sikap bermusuhan yang sama. Hmmm… as a parent, I could say that I don’t agree with their attitude.

Hal lain yang juga saya sadari adalah terjemahan buku Gramedia yang dulu saya baca, entah kenapa terasa sangat ketinggalan jaman. Kali ini, saya membaca versi bahasa Inggrisnya, yang memang diterbitkan lebih lama daripada versi terjemahan Gramedia. Tapi anehnya, versi bahasa Inggrisnya ini tidak terasa terlalu jadul, malah bisa tetap relevan dengan kehidupan anak-anak jaman sekarang. Saya ingat, dulu di versi Gramedia, diceritakan saat Margaret pertama kali belajar memakai pembalut, dan disebutkan ada kait-kait yang harus dipasang, sampai-sampai saya bingung sendiri membayangkannya. Apa itu pembalut jaman dulu ya? Ternyata, waktu saya baca versi bahasa Inggrisnya, tidak disebutkan tentang kait sama sekali. Justru pembalut yang dipakai adalah model dengan perekat seperti yang kebanyakan dijual saat ini.

Cover versi Gramedia, jadul🙂

Perjalanan saya menyusuri kisah Margaret ini cukup menyenangkan. Dan seandainya saya punya anak perempuan, buku ini akan saya jadikan bacaan wajibnya🙂

Submitted for:

aname-1

Category: Walking Down the Memory Lane

Category: Walking Down the Memory Lane