Tags

, , , , , , , , ,

koleksi kasus sherlockJudul: Koleksi Kasus Sherlock Holmes

Penulis: Arthur Conan Doyle

Penerjemah: Dra. Daisy Dianasari

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2012)

Halaman: 368p

Beli di: Gramedia Trans Studio Mall Bandung (IDR 38k)

Buku ini berisi 12 kasus detektif legendaris Sherlock Holmes, yang selama ini tersimpan rapat dalam kotak timah Dr. Watson yang diamankan di bank. Kasus-kasus ini berasal dari berbagai periode, mulai saat Holmes masih aktif sampai sudah pensiun.

Beberapa di antara kasus-kasus ini memang sengaja ditutup rapat sebelumnya, karena melibatkan tokoh-tokoh terkemuka, seperti misalnya Kasus Klien Penting, dimana Holmes dituntut untuk mencegah pernikahan puteri bangsawan dengan seorang bajingan pembunuh (yang merupakan salah satu lawannya yang paling tangguh!). Atau Kasus Batu Mazarin, saat Holmes diminta untuk menemukan batu permata kerajaan yang dicuri.

Bila di buku-buku sebelumnya kasus-kasus Holmes dikisahkan oleh Dr. Watson sebagai narator, di buku ini ada tiga kasus yang menghadirkan sudut pandang berbeda: dua kasus dikisahkan sendiri oleh Holmes, dan satu kasus menggunakan sudut pandang orang ketiga.

Kasus Prajurit Berwajah Pucat ditulis Holmes karena ia ingin menjawab tantangan Dr. Watson untuk menulis sendiri kisahnya, akibat kritiknya yang terus menerus terhadap tulisan Watson. Ternyata, Holmes mengakui kalau menulis tentang kasusnya memang susah-susah gampang😀

Sementara itu di Misteri Surai Singa, Holmes menjadi narator dalam sebuah kasus yang ditanganinya setelah ia pensiun dan hidup di daerah pedesaan Sussex. Ending kasus ini benar-benar di luar dugaan dan menyimpan kejutan yang tak disangka-sangka.

Favorit saya di buku ini adalah Petualangan Tiga Garrideb, yang merupakan kasus klasik ala Conan Doyle, di mana Holmes dan Watson sama-sama berperan penting dalam pemecahan misteri yang mereka hadapi, yaitu membantu pencarian satu orang bernama langka, Garrideb. Hubungan Holmes dan Watson juga digambarkan dengan pas di sini, dan bahkan Holmes menunjukkan rasa sayang yang jarang sekali ia umbar. Coba simak penuturan Watson di bawah ini:

“Walaupun aku terluka- bahkan kalaupun terluka parah aku benar-benar rela, karena aku merasakan betapa setia dan penuh kasihnya sahabatku yang berwajah dingin itu terhadap diriku. Matanya yang besar dan keras menyipit sesaat, dan bibirnya yang kaku gemetaran. Baru sekali inilah aku melihat kehebatan hatinya sebagaimana hebatnya otaknya. Selama bertahun-tahun menemaninya beraksi, baru kali inilah aku menyaksikan luapan perasaannya.” (P 186)

Mau tak mau, kalimat Watson itu mengingatkan saya akan film seri Sherlock produksi BBC, yang menggambarkan dengan sangat tepat hubungan antara Holmes dan Watson melalui para pemerannya, Benedict Cumberbatch dan Martin Freeman.

Buku ini adalah buku terakhir serial original Sherlock Holmes karya Conan Doyle. Setelahnya memang banyak buku-buku adaptasi, spin off dan fan fiction yang ditulis mengenai detektif paling terkenal ini. Saya sendiri agak menyesal tidak membaca serialnya secara berurutan, dan bertekad untuk mengumpulkan semuanya. Ternyata, Conan Doyle – meskipun belum sesukses Agatha Christie- berhasil memikat saya melalui kisah-kisahnya🙂

Submitted for:

aname-1