Tags

, , , , , , , ,

we need to talkJudul: We Need To Talk About Kevin

Penulis: Lionel Shriver

Penerbit/Edisi: The Text Publishing Company, Paperback (2006)

Halaman: 468p

Beli di: @Balibooks (IDR 50k)

Untuk setiap orang tua, salah satu mimpi terburuk adalah mendapati anaknya menjadi seorang pembunuh massal, yang mengakibatkan kematian tujuh orang teman sekolahnya. Hal itulah yang harus ditanggung oleh Eva Khatchadourian, setelah anak laki-lakinya Kevin dipenjara akibat penembakan massal di sekolah yang dilakukannya.

Dua tahun setelah Kevin dipenjara, Eva mulai menulis surat pada suaminya, Franklin, menyusuri awal hubungan mereka, pernikahan dan masa kecil Kevin. Sebagai orang tua, Eva bertanya-tanya, What could’ve been wrong? What did she do to deserve this?

Apakah menjadikan Kevin si pembunuh merupakan hasil perbuatannya dan Franklin selama bertahun-tahun, pola parenting yang salah dan menjerumuskan? Ataukah Kevin memang sudah dilahirkan dengan hati yang dingin, moral yang beku, dan keinginan untuk merusak bahkan sejak kecil?

Eva mengingat-ingat pergumulannya saat memutuskan ingin memiliki anak, dilemanya memilih antara keluarga atau karier (Eva memiliki perusahaan buku panduan traveling sejenis Lonely Planet), dan peperangannya dengan Franklin tentang cara terbaik membesarkan Kevin. Franklin sangat mengakomodir Kevin sementara Eva selalu memiliki prasangka buruk terhadap anaknya. Manakah yang lebih baik? Mana yang berpengaruh fatal?

Buku ini adalah salah satu buku paling gelap, paling berat, dan paling membuat depresi yang pernah saya baca, terutama setelah berstatus sebagai orang tua. Hingga batas apa orang tua dapat menentukan masa depan anaknya? Hingga batas apa orang tua bisa disalahkan atas perilaku anaknya?

Kontemplasi Eva sepanjang buku ini terasa sangat real, di satu sisi saya bisa bersimpati padanya,meski di sisi lain saya menganggap beberapa hal memang merupakan kesalahannya. Tapi yang paling misterius adalah Kevin. Bagaimana rasanya memiliki anak yang tidak bisa kita percaya? Saya hanya bisa merinding bila memikirkan kejadian ini dapat menimpa siapa saja. Seorang anak yang berasal dari darah daging kita mendadak menjadi sosok yang asing dan menyeramkan.

Satu-satunya komplain saya adalah gaya bahasa Lionel Shiver yang terasa sangat sophisticated. Eva memang digambarkan sebagai perempuan yang snob, keturunan imigran Armenia yang berusaha melakukan pembuktian diri di Amerika, dan mungkin gaya bahasa ini disengaja untuk memperkuat karakter Eva, apalagi sepanjang buku ini yang digunakan adalah sudut pandang Eva melalui surat-suratnya pada Franklin. Namun tetap saja saya tidak bisa menikmatinya. Kalimat-kalimat yang terlalu panjang dengan vocab yang seolah dipadukan dari berbagai kamus membuat saya menjadi kurang sabar terhadap Eva dan sulit bersimpati dengannya.

Meski demikian, saya mengacungi jempol untuk issue berat yang diangkat oleh Lionel Shriver dalam buku ini, yang terasa sangat relevan khususnya di belahan dunia Amerika. Saya ingat, seorang kerabat yang sekarang tinggal di Amerika, mengaku selalu ketar-ketir kalau di sekolah anaknya sudah mulai ada “code red alert” yang biasanya terjadi kalau sudah ada kasus penembakan di sekolah lain. Sepertinya selain maraknya kasus bullying, ijin penggunaan senjata juga menjadi issue yang masih sering diperdebatkan.

Trivia

  • Di enam minggu pertama tahun 2014, tercatat sudah ada 13 kasus penembakan sekolah di Amerika Serikat. Sedangkan sejak Desember 2012, sudah ada 44 kasus penembakan dengan total korban meninggal sebanyak 28 orang, mayoritas dari mereka adalah siswa sekolah yang bersangkutan.
  • Yang mengerikan, sebagian besar dari kasus tersebut dilakukan oleh siswa yang berusia di bawah 18 tahun.
  • Penembakan di sekolah bukanlah hal baru di Amerika, karena sudah pernah terjadi sejak tahun 1927 di Bath Township, Michigan (dengan korban tewas mencapai 45 orang). Namun jumlah dan skalanya pun bertambah seiring perkembangan jaman, termasuk peraturan penggunaan senjata di Amerika Serikat yang dianggap semakin bebas.
  • We Need To Talk About Kevin sudah diangkat ke layar lebar tahun 2011, dengan Tilda Swinton sebagai Eva, dan Ezra Miller sebagai Kevin.
Ezra Miller looks so chilling as the twisted Kevin.

Ezra Miller looks so chilling as the twisted Kevin.

Submitted for:

aname-1

Advertisements