Tags

, , , , , , ,

watsons birminghamJudul: The Watsons Go To Birmingham – 1963

Penulis: Christopher Paul Curtis

Penerbit: Scholastic (1998)

Halaman: 210p

Beli di: Lulu (IDR 20k, bargain book!)

Usia kelayakan baca: 8 yo and up

Perkenalkan keluarga Watson, yang tinggal di kota Flint di Michigan, Amerika Serikat, dan sering disebut-sebut sebagai keluarga aneh karena sering sekali ada insiden tak terduga muncul di keluarga itu.

Kenny,sang narator kita, berumur 10 tahun dan sangat cerdas untuk anak seusianya- fakta yang membuatnya menjadi bulan-bulanan di sekolah, termasuk dari kakaknya yang menyebalkan, Byron. Byron adalah kebalikan Kenny, bandel, pemberontak dan selalu saja mendapatkan masalah. Adik perempuan mereka, Joeta, adalah anak kecil manis yang entah kenapa selalu saja membela Byron. Momma mereka berasal dari kota Birmingham di Alabama yang hangat, dan selalu menyesali keputusannya untuk hidup di Flint yang dingin (terutama saat winter), sehingga ia selalu membungkus anak-anaknya dengan tumpukan baju eskimo yang menjadi bahan tertawaan orang-orang sekitar. Sedangkan Dad sebenarnya ayah yang baik, tapi selera humor dan keisengannya kadang amat keterlaluan.

Berbagai kejadian kocak dan aneh yang dialami keluarga kulit hitam ini diceritakan oleh Kenny dengan gaya lugu. Hingga akhirnya, suatu insiden yang cukup serius dan melibatkan Byron membuat Momma dan Dad mengambil keputusan drastis: membawa Byron ke Birmingham untuk tinggal bersama nenek mereka yang terkenal super galak.

Dan tahun 1963 itu, berangkatlah keluarga Watson ke Birmingham, melintasi negara-negara bagian di tengah benua Amerika, hingga tiba di kota tersebut. Namun kehadiran mereka bertepatan dengan peristiwa mengerikan yang menjadi puncak konflik antara penduduk kulit putih dan kulit hitam. Peristiwa yang akan mengubah hidup Kenny selamanya.

Membaca buku historical fiction untuk middle grade itu ada plus dan minusnya. Plusnya, kisah yang ada lebih simple dan tidak terlalu berat. Tapi minusnya, banyak detail yang terlewat dan penggambaran peristiwanya biasanya tidak menjadi plot utama di dalam buku.

Hal ini juga yang kurasakan saat membaca Watsons Go To Birmingham. Ekspektasiku adalah peristiwa pengeboman gereja kulit hitam di Birmingham ini akan menjadi fokus utama cerita- setidaknya sejak bagian tengah buku. Tapi ternyata, peristiwa ini hanya dibahas di bagian ujung buku, dengan ending yang seolah agak terburu-buru. Yang lebih banyak dibahas adalah kehidupan sehari-hari keluarga Watson, bagaimana Kenny berusaha untuk fit in di sekolah dan di rumah, dan bagaimana peran keluarga dalam kehidupannya.

Sayangnya, isu tentang masalah rasial, pertentangan kulit putih dan kulit hitam, serta puncak konflik di Birmingham tidak dibahas lebih mendalam. Mungkin karena target pembaca usia muda, makanya sang penulis pun akhirnya memperlunak tone keseluruhan buku.

Advertisements