Tags

, , , , ,

singgahJudul: Singgah

Penulis: Jia Effendie, Taufan Gio, Alvin Agastia Zirtaf, Yuska Vonita, Adellia Rosa, Dian Harigelita, Anggun Prameswari, Aditia Yudis, Bernard Batubara, Putra Perdana, Artasya Sudirman

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2013)

Halaman: 232p

Pinjam dari: Ferina

“Karena hidup adalah persinggahan.”

Tiga belas cerita pendek dalam buku ini memiliki satu benang merah: tema tentang persinggahan. Ada yang mengambil setting di bandara, terminal, stasiun maupun pelabuhan, di mana orang-orang bertemu dan berpisah, mengalami perjumpaan singkat namun penuh makna, atau berada di persimpangan jalan hidupnya.

Seperti layaknya kumpulan cerpen, beberapa kisah di buku ini terasa lebih berkesan bagiku dibandingkan yang lain, beberapa lebih kusukai dan beberapa ada yang kurang sesuai dengan seleraku. Salah satu favoritku adalah Dermaga Semesta karya Taufan Gio. Bercerita tentang seorang laki-laki yang melakukan napak tilas perjalanan terakhir kekasihnya yang sudah tiada, hingga berlabuh di sebuah dermaga. Kesan melankoli sangat terasa dalam cerita ini, dan setting pulau kecil dengan dermaganya benar-benar menunjang aura mellow tersebut.

Satu lagi yang cukup berkesan buatku adalah kisah berjudul Menunggu Dini dari Alvin Agastia Zirtaf, tentang seorang bapak tua yang menunggu istrinya yang tak kunjung datang di stasiun Jogja. Tak perlu firasat tajam untuk menebak akhir cerita yang sudah pasti tak kalah sedih ini. Dan meski endingnya cukup predictable, tapi penuturan kisah ini masih cukup enak untuk diikuti.

Entah kenapa, sebagian besar cerita dalam buku ini memang bernuansa kelam, sad ending, dan heartbreaking. Apa memang persinggahan identik dengan kesan mellow ya?

Satu dari segelintir kisah yang masih memiliki ending optimistik adalah Moksha, karya Yuska Vonita (yang juga anggota BBI, yeay, proud of you!). Yuska menghadirkan cerita yang kental dengan nuansa India- di mana seorang gadis keturunan India sedang bergumul antara mengikuti tradisi keluarga atau kata hatinya. Aku suka ide cerita ini, dan endingnya juga menyenangkan, ditambah dengan banyak pengetahuan baru tentang tradisi dan budaya India. Namun berbagai istilah khas India yang dipakai disini terasa agak terlalu banyak menurutku. Meski dilengkapi catatan kaki sehingga tetap bisa dimengerti artinya, tapi terasa sedikit mengganggu kenikmatan kisah ini, seperti saus yang menutupi rasa hidangan yang sebenarnya sudah terasa lezat. Tapi kisah ini termasuk favoritku juga, dan no worries, aku yakin masih akan banyak karya Yuska yang bisa kunikmati ke depannya🙂

Kebanyakan cerita dalam buku ini memiliki unsur drama yang kental, namun ada juga beberapa yang mencoba tampil beda- seperti Para Hantu & Jejak-jejak di Atas Pasir (Adellia Rosa)- kisah tentang sepasang anak kembar yang berusaha menghilangkan kesedihan masa lalu dan diceritakan dengan gaya ala fairy tale. Ada juga Koper (Putra Perdana) yang memiliki pace cepat dan sangat bernuansa action, namun entah mengapa terasa terlalu familiar dan bergaya ala Holywood banget.

Secara keseluruhan, Singgah merupakan kumpulan cerpen yang masih enak untuk dinikmati, meski tidak semuanya sesuai dengan seleraku (kisah Jantung-nya Jia Effendie, misalnya, yang menjadi cerpen pembuka buku ini, terlalu absurd menurut seleraku dan sedikit melenceng dari tone keseluruhan buku). Tapi membaca buku ini membuatku cukup optimis dengan masa depan sastra Indonesia. Mudah-mudahan akan lebih banyak antalogi bermutu karya penulis lokal di masa mendatang. Oiya, satu lagi, aku suka desain covernya yang berwarna cokelat hangat🙂