Tags

, , , , , ,

age of miraclesJudul: The Age of Miracles (Yang Pernah Ada)

Penulis: Karen Thompson Walker

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2013)

Penerjemah: Cindy Kristanto

Halaman: 344p

Beli di: Gramedia Grand Indonesia (IDR 55k)

The Scary Plot
Banyak hal dalam hidup yang diterima begitu saja oleh kita, manusia, tanpa pernah benar-benar bersyukur. Salah satunya adalah kenyataan bahwa bumi berputar pada porosnya selama 24 jam dengan kecepatan yang tetap, memberikan sinar mentari hangat di pagi hari dan bulan yang sendu di waktu malam.

Dalam kisah post apocalyptic ini, Karen Thompson Walker menawarkan sebuah skenario yang mengerikan: bagaimana bila rotasi bumi semakin melambat tanpa sebab yang jelas, dan satu hari pun memanjang menjadi 26 jam, 30 jam dan bahkan 70 jam? Gaya gravitasi berubah, lingkungan hidup mulai sekarat, tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik di bawah sinar mentari yang menyengat, yang diselingi dengan kegelapan panjang. Orang-orang pun harus menyesuaikan diri: tetap berpegang pada waktu yang lama, atau mengikuti pola waktu yang baru? Bagaimana rasanya pergi sekolah ketika kegelapan merajalela, atau mencoba tidur dengan sinar matahari yang terik mengintip dari balik tirai jendela?

Di tengah situasi yang serba tidak pasti ini, Julia yang berusia 11 tahun berusaha untuk memahami perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidupnya. Bukan saja dari lingkungan sekitar, tapi juga dari kehidupan pribadinya. Orang tuanya yang semakin menjauh satu sama lain, sahabatnya yang seolah tidak ingin mengenalnya lagi, dan bahkan kedekatannya dengan seorang anak laki-laki yang membuatnya melihat dunia dengan cara berbeda. Di tengah ketidakpastian ini, rotasi bumi semakin melambat, dan Julia bertanya-tanya sampai kapan ia bisa bertahan.

My Thoughts
Membaca buku dengan genre dystopia atau post apocalyptic mungkin lebih mengerikan dibandingkan membaca buku tentang hantu atau makhluk jadi-jadian. Karena semuanya begitu real, begitu nyata dan sangat mungkin terjadi. Termasuk kisah dalam buku ini.

Perubahan bumi yang tak bisa dijelaskan oleh science, dan usaha manusia untuk bertahan hidup, dipaparkan oleh Karen Thompson Walker dengan sangat meyakinkan. Perubahan yang terjadi tidak langsung bersifat drastis,membuatnya terasa semakin dekat dengan hidup sehari-hari. Udara yang semakin panas, orang-orang yang bepergian untuk mencari kehidupan yang lebih baik, teman dan keluarga yang menjauh. Semuanya meninggalkan kesan yang mencekam tanpa harus terlihat berlebihan.

Walker juga dengan lihai memasukkan segala problema remaja dalam kisah ini, yang terlihat kontras dan trivial dibandingkan dengan masalah kelangsungan hidup umat manusia, namun toh terasa sangat pas sebagai subplot pendukung. Bagaimanapun, Julia yang introvert hanyalah seorang remaja normal (walaupun kalau melihat dari masalah pribadi yang dihadapinya dan teman-temannya, aku cenderung berharap usia mereka dibuat sedikit lebih tua, mungkin 14 atau 15 tahun, karena terasa terlalu dewasa untuk usia 11 tahun).

Karakter Julia yang mudah untuk disukai, ditambah ending cerita yang terasa sangat believable, menambah poin plus buku ini. Terjemahannya terbilang enak dibaca, tidak ada keluhan yang bisa kuungkapkan di sepanjang buku.

The Debut Verdict
The Age of Miracles sedikit mengingatkanku dengan serial Life As We Knew It, menggambarkan ketidakberdayaan dan ketidaktahuan manusia tentang bumi dan alam semesta. We’re very insignificant compare to the great universe. Buku yang merupakan debut Karen Thompson Walker ini mampu membuat kita berpikir ulang tentang kehidupan dan betapa kita seringkali lupa untuk bersyukur. Nuansa kelam di sepanjang buku sangat mendukung keseluruhan cerita, mampu membuatku speechless saat menutup lembar terakhir. A very recommended debut, and I do hope Walker will write more in the future.

Masih mengherankan bagiku betapa sedikitnya yang benar-benar kita ketahui…. Kita menunjukkan segala bentuk keajaiban… Namun, yang tidak diketahui tetap lebih besar daripada yang diketahui (p 330-331)

Karen Thompson Walker lahir dan besar di San Diego, California, yang juga menjadi setting buku pertamanya ini. Lulus dari UCLA, Walker sempat bekerja di sebuah surat kabar di San Diego, sebelum akhirnya melanjutkan studi ke Columbia University. Saat bekerja sebagai editor di Simon & Schuster, Walker mulai menulis buku debutnya. Saat ini Walker tinggal bersama suaminya di Brooklyn, NY.

This post is submitted for Posting Bareng Blogger Buku Indonesia bulan Oktober 2013 dengan tema Buku Debut.