Tags

, , , , , , ,

amsterdamJudul: Amsterdam

Penulis: Ian McEwan

Penerbit: Nan A. Talese (1999)

Halaman: 193p

Beli di: Shopping Jogja (IDR 15k, bargain price!)

What’s it about?
Dua sahabat, Clive Linley dan Vernon Halliday, sama-sama pernah menjadi kekasih (dan selingkuhan) Molly Lane di masa lalu. Kini mereka telah menjadi orang-orang yang berhasil di profesinya. Clive adalah komposer musik terkenal- yang sedang menulis musik untuk acara nasional tahun baru di London. Sedangkan Vernon merupakan editor di sebuah surat kabar- yang penjualannya sedang mengalami penurunan drastis dan butuh ide-idenya yang tidak konvensional.

Keduanya bertemu lagi di sebuah bulan Februari yang dingin, di pemakaman Molly yang meninggal karena sakit. Meninggalnya Molly (yang saat hidupnya dikenal sangat bersemangat dan “hidup”) membuat mereka berpikir ulang tentang kehidupan, kematian dan kesendirian- serta memicu mereka untuk membuat sebuah perjanjian yang akan mengubah arti persahabatan mereka.

Suatu rahasia dari mantan kekasih Molly yang lain, politikus terkenal Julian Garmony, memaksa kedua sahabat ini untuk menguji moral mereka, kesetiaan mereka satu sama lain, dan mendesak mereka untuk mengambil keputusan yang akan mengubah segalanya. Ancaman juga datang dari George, suami Molly yang menyimpan dendam pada para pria tersebut. Dan di Amsterdam-lah puncak segala drama ini, yang mengakhiri segalanya.

What’s so intriguing?
Amsterdam adalah karya pertama Ian McEwan yang pernah kucicipi, meski sebelumnya aku pernah menonton film yang diadaptasi dari novelnya, Atonement. Penulis ini sepertinya memiliki kecenderungan untuk mengangkat tema-tema yang tidak biasa, hubungan personal yang dalam waktu singkat bisa berekskalasi menjadi seperti neraka.

McEwan sangat piawai menggambarkan detail karakternya, terutama sisi profesi Clive dan Vernon. Bagaimana proses kreatif seorang komposer yang sedang bekerja mencari ide, dideskripsikan dengan menarik, sama menariknya dengan intrik-intrik wartawan di surat kabar. McEwan juga mampu menyusun kisah layaknya seorang insinyur merancang sebuah gedung. Mulai dari pondasi hingga ke detail-detail yang terlihat tidak penting, namun menyimpan arti yang krusial di akhir cerita. Cukup sulit bagiku untuk mereview buku ini tanpa membocorkan beberapa spoiler kecil yang akan menyumbangkan twist di akhir kisah.

Satu-satunya yang kurang digali menurutku adalaj karakter Molly yang sebenarnya merupakan sentral cerita. Apakah memang McEwan sengaja melakukan hal ini untuk menjaga aura misterius sang kekasih semua orang tersebut, aku tidak begitu yakin.

Is it Man Booker’s worthy?
Buku ini kubaca dalam rangka baca bareng Blogger Buku Indonesia dengan tema pemenang/finalis Man Booker’s Prize. Dan sejujurnya, Amsterdam bukanlah tipe buku yang bisa membuat orang langsung menjudge-nya sebagai buku yang layak menang berbagai penghargaan.

Tidak seperti Life of Pi, misalnya, yang begitu indah dan memiliki pesan-pesan filosofis yang gamblang. Amsterdam merupakan buku dengan pesan-pesan moral tersembunyi, yang dibalut kisah penuh tensi yang terbangun perlahan-lahan, menyisakan kejutan yang sedikit absurd di bagian akhir buku.

Dalam sekali baca, terus terang aku tidak melihat di mana kekuatan buku ini sehingga bisa dianugerahi Man Booker’s Prize tahun 1998. Namun setelah direnungkan beberapa kali, barulah terlihat kecerdikan Ian McEwan, sang arsitek andal yang karyanya mungkin tidak mentereng, tapi akan berdiri kokoh selama puluhan tahun.

Trivia

Ian McEwan sudah dinominasikan sebanyak 6 kali untuk Man Booker’s Prize. Satu kali menang, empat kali shortlisted dan satu kali longlisted.

McEwan juga pernah dinominasikan untuk Man Booker International Prize tahun 2005 dan 2007.

Submitted for Posting Bareng BBI bulan Oktober 2013 dengan tema Man Booker’s Prize Books.

 

Advertisements