Tags

, , , , , ,

mountains echoedJudul: And The Mountains Echoed

Penulis: Khaled Hosseini

Penerbit: Riverhead Books (2013)

Pages: 404p

Gift from: The Boss! 😀

The Kite Runner dan A Thousand Splendid Suns adalah dua buku favoritku sepanjang masa (dan baru sadar kalau kedua buku itu belum pernah direview disini- have to do it soon), dan Khaled Hosseini resmi menjadi salah satu penulis favoritku. Tidak seperti beberapa penulis favoritku yang lain (Dan Brown, Mitch Albom, Sophie Kinsella) yang perlahan semakin monoton dan memudar, Hosseini mampu konsisten mempertahankan kualitas karyanya.

Meski masih memiliki tema dan tone yang sama, terutama setting di Afghanistan yang menjadi benang merah cerita, namun Hosseini bisa menangkap berbagai sudut pandang dan detail yang kerap kali berbeda dan menyegarkan. Tak terkecuali di buku terbarunya, And The Mountains Echoed, yang masih menyoroti kejamnya realita kemiskinan dan perang di belahan dunia tersebut.

Namun tak seperti dua buku sebelumnya yang lebih tragis dan melodramatis, di buku ini Hosseini menyuguhkan kisah yang lebih hangat, personal dan lebih menitikberatkan pada hubungan keluarga, sehingga tidak ada kesan pretensius sama sekali yang akan didapat oleh pembaca.

And The Mountains Echoed berkisah tentang beberapa keluarga yang benang-benang kehidupannya saling berjalin dan berbelit, bertemu dan berpisah di berbagai tempat, dari mulai San Francisco, Paris hingga Tinos, sebuah pulau kecil di Yunani. Namun titik tolaknya hanya satu: Kabul, Afghanistan.

Abdullah dan Pari adalah sepasang kakak beradik yang sangat dekat, namun kehidupan yang keras memaksa ayah mereka, Saboor, memisahkan kedua anak ini dan menyerahkan Pari ke sebuah keluarga kaya di Kabul yang tidak dikaruniai anak. Dari sinilah kisah bergulir, menceritakan lebih detail tentang Nabi, paman Abdullah dan Pari yang bekerja di keluarga tersebut, dan bagaimana hubungan personalnya dengan Nila, sang nyonya rumah yang tak pernah bahagia, dan suaminya Suleiman yang menyimpan sebuah rahasia besar. Tragedi dalam keluarga tersebut membuat Pari dibawa oleh ibu angkatnya ke Paris, memisahkannya semakin jauh dari akar keluarganya.

Hosseini mengisahkan dengan lihai keping-keping puzzle kehidupan tiap karakternya di buku ini, menambahkan sedikit bumbu drama di sana-sini, pandangan filosofis yang patut dipikirkan secara mendalam, dan pertanyaan mendasar tentang arti kehidupan dan kebahagiaan. Dan pada akhirnya keping-keping puzzle yang seolah berdiri sendiri itu mulai menyatu, menyisakan satu pertanyaan terakhir tentang apakah Pari dan Abdullah diberikan kesempatan untuk bertemu kembali?

Buku ini penuh dengan kisah tentang penyesalan, kesempatan kedua, dan tidak ada kata terlambat untuk mencari arti kehidupan. Akar keluarga tetap paling penting, dan sejauh apapun jarak fisik yang memisahkan, namun hati tetap mencari jalan untuk terus mengingat dan mencari.

Hosseini bereksperimen dengan menggunakan beberapa sudut pandang yang berlainan, percampuran antara orang pertama dan orang ketiga. Bagian favoritku adalah kisah tentang Nabi si supir yang bekerja pada keluarga kaya, dan hubungannya dengan Suleiman sang majikan. Sementara setting yang bervariasi juga terasa sangat hidup, membayangkan Paris yang gelap dengan Kabul yang hancur lebur dan San Francisco yang cerah, semuanya menambahkan pengalaman membaca yang luar biasa.

Dan meskipun banyak juga fans Hosseini yang mengaku kecewa dengan buku ini karena tidak sesuai ekspektasi, bagiku buku ini justru mengukuhkan reputasi Khaled Hosseini yang dapat menyentuh hati pembacanya tanpa harus menguras air mata mereka. And this book shows one more time, that Khaled Hosseini is indeed a natural born storyteller.

khaled hosseiniKhaled Hosseini lahir di Kabul, Afghanistan tahun 1965. Pada tahun 1976, ayahnya ditugaskan di Paris, membawa seluruh keluarga bersamanya. Saat mereka akan kembali ke Afghanistan, bersamaan dengan perang dan invasi yang mulai melanda negara tersebut. Keluarga Hosseini pun mengungsi ke Amerika Serikat dan menetap di San Jose. Khaled sendiri melanjutkan sekolah dan kuliah di jurusan kedokteran University of California, San Diego. Setelah lulus, Khaled sempat berpraktek sebelum akhirnya memutuskan menulis novel pertamanya, The Kite Runner, yang langsung menjadi best seller internasional – dan sejak itu ia menekuni kariernya sebagai penulis. Selain menulis, Khaled Hosseini merupakan Goodwill Envoy untuk UNHCR, dan aktif mendirikan The Khaled Hosseini Foundation.

PS: Thanks to my boss, who gave me this book after he’s back from pulang kampung to the US 😀