Tags

, ,

Agatha Christie Button Meme 1Masih merupakan bagian dari event Agatha Christie Read-Along & Challenge yang dihost oleh Mbak Maria, postingan kali ini menjawab tantangan challenge yang pertama, yaitu menganalisis karakter dari buku yang sudah kita baca. Challenge ini disponsori oleh @bacaklasik dan hadiahnya keren bangeeeet 🙂

Karakter yang akan dianalisis kali ini kuambil dari buku Dead Man’s Folly yang juga menampilkan Hercule Poirot. Berhubung Poirot sudah dikupas habis-habisan di salah satu postingan dulu, maka kali ini sepertinya giliran Ariadne Oliver, sang penulis kondang yang juga teman baik Poirot, untuk diberikan panggung kehormatan 😀

WHY HER?

Ariadne Oliver adalah sosok yang kemunculannya selalu membuat kisah-kisah petualangan Poirot semakin menarik. Berprofesi sebagai penulis, Mrs. Oliver disebut-sebut sebagai alter ego Agatha Christie, yang memiliki beberapa sifat yang sama dengan penciptanya. Sangat menarik melihat kehidupan seorang penulis dari sudut pandang Mrs. Oliver, terutama saat ia mendampingi Poirot memecahkan berbagai kasus.

WHO IS SHE?

Zoe Wanamaker memerankan Mrs.Oliver di adaptasi terbaru Cards on The Table (2005)

Zoe Wanamaker memerankan Mrs.Oliver di adaptasi terbaru Cards on The Table (2005)

Ariadne Oliver adalah penulis kisah detektif terkenal yang beberapa kali muncul mendampingi Poirot memecahkan kasus-kasusnya. Mrs. Oliver sukses menjadi penulis bestseller karena serial buku misterinya yang menampilkan detektif asal Finlandia, Sven Hjerson. Meski buku-bukunya dinilai brilian, Mrs. Oliver sendiri bukanlah detektif andal di dunia nyata. Ia selalu salah menebak pelaku kejahatan dalam kasus yang dihadapinya bersama Poirot, dan bertahan pada “firasat wanita” dalam menjawab pertanyaan Poirot (satu hal yang sangat dibenci sang detektif berkumis).

Kemunculan Mrs. Oliver tidak seintens Kapten Hastings, sidekick utama Hercule Poirot sekaligus sahabatnya yang terlama, tetapi Mrs. Oliver seringkali membawa warna tersendiri dalam kisah-kisah Poirot, terutama memberikan sentuhan feminin di beberapa cerita. Perannya pun seringkali terbilang penting, karena membawa kasus-kasus yang menarik ke hadapan Poirot. Dalam Dead Man’s Folly, misalnya, Mrs. Oliver mengundang Poirot datang ke Nasse House untuk membantunya dalam suatu perkara yang “tidak beres”, meski sebenarnya belum terjadi apa-apa. Tapi instingnya itu (meski dicemooh Poirot awalnya) ternyata benar, dan Poirot menghadapi salah satu kasus pembunuhan yang paling pelik.

Mrs. Oliver digambarkan sebagai wanita yang agak “maskulin”, dengan bahu yang lebar

Complete Mrs.Oliver- masuk wishlist!

Complete Mrs.Oliver- masuk wishlist!

dan rambut kelabu yang selalu berantakan. Rambutnya ini juga merupakan salah satu ciri khasnya, karena selalu berubah-ubah mengikuti mode. Di Dead Man’s Folly, Mrs. Oliver digambarkan sedang menerapkan model rambut palsu dengan keriting-keriting panjang. Mrs. Oliver mengakui, rambutnya ini membuatnya susah dikenali, dan ia lebih suka seperti itu, karena meski seorang penulis terkenal, Mrs. Oliver membenci segala hal yang menyangkut publisitas, termasuk dikenali oleh para penggemarnya, atau hadir di jamuan makan para penulis. Sepertinya hal ini juga sesuai dengan sifat Agatha Christie, yang dikenal introvert meski menyandang status penulis legendaris.

Satu hal yang juga menarik adalah, meski Mrs. Oliver bisa menciptakan plot kisah misteri yang keren, tapi dia tidak bisa menuangkan pola pikirnya dengan terstruktur dalam kata-kata, sehingga seringkali ia malah dianggap linglung, atau sedikit kacau. Terbukti saat ia menjelaskan permainan Pelacakan Pembunuhan yang disusunnya dalam Dead Man’s Folly, Poirot tidak bisa mengerti sedikitpun tentang kisah tersebut, dan menggambarkannya sebagai “kabut yang tak tertembus”. Namun, setelah permainan berlangsung, ternyata petunjuk demi petunjuk dapat diikuti oleh setidaknya satu orang peserta yang berhasil menyelesaikan permainan sampai akhir. Kekacauan pikiran Mrs. Oliver ini sepertinya terjadi karena daya imajinasinya yang sangat tinggi.Ini sepertinya juga cocok dengan apa yang dialami Agatha Christie dalam hidupnya.

‘I am not and never shall be a good conversationalist…I can’t say what I mean easily – I can write it better.’ – Agatha Christie

 

WHAT DO I LIKE/DISLIKE ABOUT HER?

Mrs. Oliver is very likable because she seemed really human. Karakternya yang serba kontradiktif dengan Poirot: berantakan, impulsif, emosional dan kacau, justru seringkali memberikan nuansa yang menyegarkan di sepanjang buku. Dalam Dead Man’s Folly, Mrs. Oliver merasa bersalah karena gadis yang berperan sebagai korban dalam permainan Pelacakan Pembunuhan yang dirancangnya, ternyata benar-benar terbunuh. Di sini, sisi kewanitaannya sangat tersentuh karena ia merasa bertanggung jawab terhadap keselamatan gadis tersebut – meski tentu saja tragedi itu bukan salahnya sama sekali.

Sedangkan karakter Mrs. Oliver yang tidak begitu kusukai adalah kekeraskepalaannya. Meski terkadang lucu, tapi kalau Mrs. Oliver sudah keukeuh dengan suatu hal, termasuk memaksakan pendapatnya pada Poirot, rasanya menyebalkan juga 😀 Meski seringkali firasatnya ternyata memang benar (seperti di Dead Man’s Folly, saat ia memaksa Poirot untuk datang), yang membuatnya semakin merasa bangga! Tapi kekerasan Mrs. Oliver ini menjadi penyeimbang yang baik bagi Poirot yang memiliki ego super besar.

 

WHERE DID SHE APPEAR?

Ariadne Oliver muncul dalam 7 buah novel (6 di antaranya bersama Hercule Poirot) dan 2 buah cerita pendek. Kisah pertamanya bersama Poirot dapat dibaca dalam buku Cards on The Table. Sedangkan satu-satunya novel panjang Mrs. Oliver tanpa kehadiran Poirot, The Pale Horse, malah disebut-sebut sebagai salah satu karya Agatha Christie sepanjang masa.

The Pale Horse- belum baca nih!

The Pale Horse- belum baca nih!

Christie sendiri mengaku menciptakan karakter Ariadne Oliver karena ia mulai bosan dengan Hastings sebagai sidekick Poirot, yang memang sempat disingkirkannya ke Argentina setelah menikah. Mrs. Oliver juga menjadi sarana Christie untuk membuka sudut pandangnya sebagai seorang penulis – tanpa harus mengatasnamakan dirinya sendiri. Christie sempat juga “curcol” melalui Mrs. Oliver, antara lain tentang fans yang suka mengkritik fakta-fakta yang dipaparkan dalam buku karangan Mrs. Oliver. Ternyata, kejadian fans mengkritik ini benar-benar dialami Agatha Christie saat ia salah menyebutkan satu fakta di buku Death in the Clouds 🙂

SOME TIDBITS

Beberapa fakta unyu tentang Ariadne Oliver:

1. Kegemarannya akan apel sudah melegenda, dan ia biasa membawa apel ke mana-mana, sampai akhirnya di buku Halowe’en Party, Mrs. Oliver menghadapi pembunuhan yang berhubungan dengan apel, dan akhirnya merasa muak dengan buah tersebut.

2. Kebiasannya mengubah gaya rambut sangat menarik. Selain keriting panjang di Dead Man’s Folly, Mrs. Oliver pernah mencoba beberapa gaya rambut lain seperti wig yang disusun tinggi, serta bermacam-macam jenis topi.

3. Satu lagi kesamaan Ariadne Oliver dengan Agatha Christie adalah ketidaksukaan mereka akan karakter detektif yang mereka ciptakan. Mrs. Oliver mengaku tidak tahan dengan Sven Hjerson dan tidak mengerti mengapa menciptakan orang Finlandia sebagai tokoh utama. Sementara Christie juga dikenal tidak menyukai Poirot dan sempat menyesal mengapa harus terjebak dengan karakter yang menyebalkan itu.

4. Ariadne Oliver pertama kali muncul bukan dalam novel Poirot, melainkan dalam sebuah cerita pendek di buku Parker Pyne Investigates.

Tulisan ini dibuat berdasarkan kompilasi dari berbagai sumber, antara lain http://www.poirot.us/oliver.php dan http://10littleindians.wikia.com/wiki/Ariadne_Oliver

Advertisements