Tags

, , , , , , ,

dead man folly1Judul: Dead Man’s Folly

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Ny. Suwarni A.S.

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2013)

Halaman: 304p

Beli di: Gramedia Plaza Semanggi (IDR 45k)

Kisah berawal dari permintaan Ariadne Oliver, penulis terkenal yang juga teman Hercule Poirot, agar Poirot datang ke Nasse House, sebuah rumah besar di daerah Devon, untuk menolongnya dalam suatu peristiwa yang aneh. Mrs. Oliver berada di Nasse House karena diminta membantu merancang permainan Pelacakan Pembunuhan sebagai bagian dari acara keramaian yang akan berlangsung disana.

Meski agak jengkel karena menganggap Mrs. Oliver mengada-ada, Poirot akhirnya percaya bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres, ketika anak perempuan yang ditugaskan menjadi “korban pembunuhan” dalam permainan tersebut, ternyata benar-benar terbunuh. Hal ini masih diikuti pula dengan menghilangnya Lady Stubbs, sang nyonya rumah yang memiliki kelainan mental, serta kemunculan sepupu jauh keluarga yang misterius. Ada rahasia apa sebenarnya di Nasse House?

Cover GPU jaman dulu yang serem banget

Cover GPU jaman dulu yang serem banget

Dead Man’s Folly yang diterjemahkan menjadi “Kubur Berkubah” ini sebenarnya bukan buku Poirot favoritku. Ceritanya masih senada dengan Pesta Halowe’en yang juga menampilkan Mrs.Oliver, namun Halowe’en memiliki setting yang lebih menarik. Tapi duet Poirot dan Ariadne Oliver selalu menyegarkan, mungkin karena sifat mereka yang serba bertolak belakang (Poirot dengan metodenya, Mrs. Oliver dengan firasatnya) dan memiliki momen-momen hangat yang memorable.

Di kisah ini, Poirot didampingi juga oleh Inspektur Bland, yang meski tidak selincah Inspektur Japp atau sebijak Inspektur Battle, masih cukup bisa disukai. Tokoh-tokoh dalam buku ini juga khas Agatha Christie: sekretaris yang cemburu, tuan tanah yang sedikit tolol, istri yang lebih muda, serta wanita tua yang misterius dan terperangkap di masa lalu. Menarik, dengan setting Nasse yang merupakan daerah pedesaan Inggris, lengkap dengan sungai serta hutan kecil yang mudah dibayangkan.

Suka versi cover yang ini!

Suka versi cover yang ini!

Aku menyukai “red herring” alias pengalih perhatian yang diberikan Christie disini, dan twist yang gemilang di akhir buku. Meski Poirot kurang digambarkan dengan ceria (mungkin karena suasana pedesaan yang berlumpur tak cocok dengan kumis dan sepatu kulitnya), tapi tentu saja akhirnya dialah yang tertawa paling akhir.

By the way, permainan Pelacakan Pembunuhan ini sebenernya seru banget ya untuk acara kumpul-kumpul. Aku ingat waktu masih kerja di Fairtrade dan kita ada workshop di Srilanka, salah satu acaranya adalah permainan Murder Treasure Hunt ini. Dengan setting hotel tua di kota kuno Bandarawella, permainannya emang spooky dan seru banget. A great idea for your next gathering!

Bisa lihat beberapa ide di sini, atau sini. Atau, undang aja Mrs Oliver ke acaramu😀

Submitted for:

Agatha Christie Button Meme 1