Tags

, , , , , ,

clockworkorange1Judul: A Clockwork Orange

Penulis: Anthony Burgess

Penerbit: Penguin Books (1972)

Halaman: 149p

Beli di: Homerian Shop (IDR 75k)

Membaca buku-buku dystopia selalu membuatku bersyukur hidup di dunia kita, yang meskipun sulit, masih bisa dibilang tertahankan. Setidaknya, lebih baik daripada dunia yang diciptakan oleh Anthony Burgess dalam bukunya yang fenomenal, A Clockwork Orange.

Pemuda berusia 15 tahun yang bernama Alex mengepalai sebuah geng yang kerjanya melakukan hal-hal yang melanggar hukum (hanya saja, hukum tidak terlalu berarti banyak di dunia tersebut). Mereka menghabiskan malam-malam mereka dengan berkelahi, menyerang orang-orang yang lemah, merampok toko, mendobrak masuk ke rumah orang, bahkan membunuh dan memperkosa. Mereka, bersama banyak geng pemuda lainnya, seolah kebal hukum dan berkuasa terutama di malam hari.

Suatu malam, Alex terjebak dalam situasi sulit saat polisi memergokinya melakukan suatu pelanggaran berat, yang menyebabkannya harus menanggung hukuman penjara. Di penjara, Alex menjadi kelinci percobaan untuk suatu jenis terapi baru yang dikembangkan oleh pemerintah. Terapi ini bertujuan untuk menghilangkan setiap keinginan jahat dari diri manusia, dan memaksanya menjadi orang yang tidak punya hasrat untuk berbuat sesuatu yang melanggar hukum. Namun saat Alex keluar dari penjara, ia menyadari kalau pemaksaan ini justru membuatnya sangat vulnerable, terutama dari dendam bekas-bekas musuhnya dulu.

Membaca buku ini mengingatkanku pada buku Fahrenheit 451, kisahnya singkat, sederhana, namun sulit untuk dicerna. Banyak sekali adegan sadis dalam Clockwork Orange yang menggambarkan kebrutalan Alex dan teman-temannya yang seolah tak tersentuh hukum. Hal ini dipersulit juga dengan bahasa yang diciptakan Anthony Burgess sepanjang novel ini, yaitu bahasa “nadsat”, semacam bahasa “prokem” atau “alay” yang digunakan remaja saat itu.

“Yarbles, great bolshy yarblockos to you. What you done then you had no right. I’ll meet you with chain or nozh or britva any time, not having you aiming tolchocks at me reasonless”

……
“Droogs, aren’t we? It isn’t right droogs should behave thiswise. See, there are some loose-lipped malchicks over there smecking at us” (p69)

Bahasa ini awalnya sangat mengganggu, susah dimengerti dan diikuti. Namun setelah beberapa saat, you can’t help but follow the language. Gaya bicara Alex dan teman-temannya semakin masuk akal, dan bahkan aku merasa sedikit kehilangan saat buku ini berakhir.
Membahas tentang kekerasan, dan pilihan untuk menjadi jahat atau baik, buku ini mengajak kita berpikir tentang pentingnya memiliki freewill. Apakah lebih baik menjadi orang yang baik karena memang tidak ada pilihan? Atau menjadi jahat karena kita tahu segala konsekuensinya? Anthony Burgess telah melahirkan suatu karya yang tidak saja fenomenal, tapi tetap relevan bahkan lebih dari 40 tahun setelah buku ini ditulis.

Submitted for Posting Bareng Blogger Buku Indonesia bulan September 2013, tema dystopia.

Advertisements