Tags

, , , , , ,

catch22Judul: Catch-22

Penulis: Joseph Heller

Penerbit: Vintage (1994)

Halaman: 519p

Beli di: Pesta Buku Jakarta 2012 (IDR 90k)

Bila mencari buku bertema perang yang mengharukan, penuh drama dan pesan moral, please stay away from this book! Karena Catch-22 justru membahas betapa absurd dan tidak bergunanya sebuah perang, dan betapa banyak hal-hal tidak penting termasuk birokrasi yang terlibat di dalamnya.

Yosarian adalah anggota skuadron angkatan udara Amerika Serikat yang ditempatkan di Pianosa, daerah pesisir di Italia saat Perang Dunia II. Sebagai seorang kapten yang bertugas mengebom wilayah musuh, Yosarian harus menyelesaikan sejumlah misi tertentu sebelum boleh pulang ke Amerika. Namun setiap kali ia berhasil menyelesaikan target yang ditentukan, pemimpin pasukan, Kolonel Cathcart selalu menambah jumlah misi yang harus dilakukan, meski sebenarnya tidak ada lagi musuh yang perlu ditaklukkan, karena pihak Sekutu sudah memenangkan perang tersebut.

Demikianlah kejadian itu terus berulang-ulang, sehingga Yosarian dan teman-temannya terperangkap dalam suatu perang tak berarti yang membahayakan jiwa dan mengancam nyawa mereka melayang tanpa alasan yang masuk akal. Lebih parah lagi, sistem birokrasi administrasi ketentaraan sangatlah panjang, sehingga tidak ada jalan untuk melawan ketidakadilan ini. Para petinggi (termasuk Kolonel Cathcart) mengambil keputusan yang membahayakan pasukannya tanpa peduli siapa mereka dan apa yang sedang diperjuangkan oleh negara. Yang mereka pikirkan hanyalah kenaikan pangkat dan kekuasaan. Screw patriotism!

Satu-satunya cara Yosarian dipulangkan adalah mengaku ia mengalami gangguan kejiwaan. Namun ia terjebak dalam satu peraturan bernama Catch-22: siapapun yang mengaku gila, berarti orang tersebut masih dalam keadaan yang waras sehingga bisa menyadari dirinya gila. Dan bila ia dalam keadaan waras, berarti ia tidak berhak dipulangkan. Lingkaran setan bernama Catch-22 ini menghambat Yosarian dan teman-temannya sehingga mereka seperti kucing-kucing yang terkepung gerombolan anjing yang terus menggonggong di sekeliling mereka. There’s no way out!

Catch-22, mungkin dalam bahasa Indonesia bisa dipadankan dengan istilah “bagai makan buah simalakama”, maju kena, mundur kena. Tidak ada jalan keluar, pasti yang terburuklah yang akan terjadi. Buku ini menunjukkan dengan cerdas bobroknya sistem birokrasi pemerintah, terutama saat berlangsung perang. Perang menjadi ajang gila kekuasaan, bukannya membela negara, sehingga menghilangkan makna patriotisme itu sendiri. Menghilangkan nyawa orang dengan sia-sia, dan hal itu dilegalkan! Sungguh absurd sekali.

Dialog-dialog dalam buku ini sangat witty, kadang terlampau aneh untuk bisa diikuti. Mungkin itu pula sebabnya Catch-22 disebut-sebut sebagai salah satu buku terbaik abad ini – namun sekaligus juga menjadi salah satu yang paling dibenci. Kalau menurut penulisnya, Joseph Heller, orang menyukai Catch-22 dengan alasan yang sama ketika orang-orang lain membencinya.

Aku sendiri merasa buku ini cukup sulit untuk diikuti, terutama karena karakternya yang sangat banyak dan quirky, dialognya yang aneh-aneh, serta penulisannya yang tidak urut secara kronologis, sehingga pembaca harus menebak-nebak apakah kejadian ini berlangsung sebelum atau setelah yang itu? Namun segala puzzle dan teka-teki aneh yang tak berurutan tersebut akhirnya menjadi keping yang lengkap di akhir kisah. And that truly showed Heller was really a genius!

Joseph Heller, lahir di Coney Island, New York, 1 Mei 1923. Sempat masuk ke pasukan Angkatan Udara AS saat Perang Dunia II, dan ditempatkan di pesisir Italia. Pengalamannya inilah yang ia gunakan ketika menulis Catch-22. Heller menuntut ilmu di University of Southern California, NYU, dan Columbia University, serta sempat mendapat beasiswa Fulbright (huhuy!) di Oxford, Inggris. Heller meninggal 12 Desember 1999 dalam usia 76 tahun.

Submitted for posting bersama Blogger Buku Indonesia bulan Agustus dengan tema perang.