Tags

, , , , , , ,

winter dreamsJudul: Winter Dreams

Penulis: Maggie Tiojakin

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2011)

Halaman: 291p

Gift from: Yes24 Indonesia

Ketika hubungan dengan ayahnya semakin memburuk, Nicky F Rompa menuruti saran ibunya untuk pergi sejenak ke Amerika Serikat dan tinggal bersama seorang kerabat jauh di kota Boston. Meski awalnya diterima baik oleh Tante Riesma dan suaminya Frank, suatu kesalahpahaman membuat Nicky terpaksa keluar dari rumah tersebut, dan terlunta-lunta menentukan nasibnya sendiri.

Ia sempat menumpang di rumah keluarga pacarnya, hingga akhirnya memutuskan untuk mencari apartemen sendiri. Berbagai pekerjaan juga disambanginya, dan ketika visanya sudah habis, Nicky terpaksa memiliki status sebagai imigran ilegal, sama seperti ribuan orang lainnya yang mencari mimpi di Amerika.Di tengah status sebagai masyarakat kelas dua, Nicky kerap kali bertanya-tanya apa yang sebenarnya ia cari dalam hidupnya.

Ini adalah sebuah kisah sederhana tentang pencarian mimpi dan jati diri, yang disampaikan dengan gaya yang indah, melalui karakter yang believable, dan setting yang meyakinkan. Kekuatan utama Maggie (yang karyanya baru kubaca pertama kali ini) menurutku adalah bisa membuat pembaca merasa relate dengan mudah pada karakter-karakternya. Misalnya saja ketakutan Nicky yang berada dalam suatu void zone- kekosongan, kedataran hidup, ketika tidak ada satu tujuan yang benar-benar menggugah hatinya- namun juga kekhawatirannya akan menjadi “nothing”- tidak diingat siapa-siapa, tidak menyumbangkan apapun. Is it better to be “nothing” in America- or is it the same everywhere?

American dreams sebenarnya merupakan satu tema yang tidak asing, namun tetap menarik untuk diulas. Aku ingat dengan sepupuku, yang pergi ke Amerika memboyong keluarganya karena pekerjaan menuntutnya untuk ditempatkan di kantor pusat di Chicago selama 2 tahun. Setelah 2 tahun lewat, mereka memutuskan untuk tetap tinggal di sana- meski itu berarti harus diberhentikan dari pekerjaan sebelumnya, dan berusaha mencari jalan sendiri untuk bisa mendapatkan green card.

Sementara itu, salah seorang om-ku, malah mendapatkan undian green card dari kedutaan AS, dan memutuskan untuk meninggalkan semua yang dimilikinya- dari mulai rumah sampai karier perbankan- dan membawa keluarganya untuk starting over di Amerika. Bahkan green card tidak membuat segalanya menjadi mudah, karen ia harus rela menukar jabatannya sebagai manager di salah satu bank swasta di Jakarta- dengan pekerjaan kasar seperti cleaning service di klinik atau kasir di supermarket. American dreams- will you ever achieve it?

Kekuatan Maggie yang lain terletak pada penggunaan settingnya- yang benar-benar dieksplor secara detail. Tidak seperti buku-buku kebanyakan sekarang ini yang menjadikan setting luar negeri sebagai tempelan pemikat belaka (bahkan sengaja meng-copy paste artikel internet untuk deskripsinya), Maggie berhasil membawa pembaca seutuhnya merasakan seluk beluk kota Boston (dan beberapa tempat lain di sekitarnya), termasuk mencicipi cuacanya, harumnya, penduduknya, dengan sangat meyakinkan.

Penuturan Maggie- kesederhanaan kisah yang dibalut kekuatan emosi dan deskripsi detail- mengingatkanku akan gaya Jhumpa Lahiri- sedikit bittersweet dan heartbreaking dengan nuansa suram -namun tidak sampai membuat pembaca depresi, karena masih bisa merasakan keindahannya. It’s a nice, compact ride, with no nonsense and unnecessary turns. I can’t wait to enjoy her other works.

Submitted for posting bareng Blogger Buku Indonesia bulan Agustus dengan tema Sastra Indonesia.