Tags

, , , , , , , ,

known worldJudul: The Known World

Penulis: Edward P Jones

Penerbit: Serambi (2006)

Halaman: 653p

Pinjam dari: Helvry

Bersetting di sebuah kota kecil di Virginia akhir abad ke-19, Edward P Jones mengangkat sebuah tema yang jarang diketahui orang banyak: perbudakan terhadap orang kulit hitam oleh keluarga kulit hitam.

Henry Townsend, sang tuan tanah kulit hitam sebenarnya terlahir sebagai budak yang melayani tuannya yang berkulit putih, William Robbins. Namun ayah Henry, Augustus yang juga budak Mr. Robbins, membeli kemerdekaannya sendiri, dan memerdekakan Henry serta ibunya Mildred. Dengan bantuan Robbins, Henry berhasil menjadi salah satu dari segelintir tuan tanah berkulit hitam di Virginia, dan bersama istrinya Caldonia, membawahi puluhan budak kulit hitam yang mengelola pertanian mereka.

Namun setelah Henry meninggal, kekacauan mulai melanda keluarga dan pertanian mereka. Beberapa budak menghilang, seorang kepala budak jatuh cinta pada Caldonia, orang tua Henry tercerai-berai, dan perasaan panik orang-orang kulit putih terhadap pemberontakan para budak (yang nantinya akan memicu Perang Saudara Amerika), membuat suasana terasa gelisah, tidak pasti, dan menimbulkan tragedi-tragedi menyedihkan yang sebagian menghilang ditelan padatnya kisah sejarah negara tersebut.

The Known World hanya merupakan sepenggal kisah kecil dari sejarah Amerika Serikat yang panjang dan kaya, namun disampaikan dengan sangat kuat. Plotnya yang sebenarnya sederhana disajikan dengan banyak selipan subplot lain, terutama tentang kehidupan satu per satu para budak kulit hitam. Awalnya ini merupakan hal yang menarik, namun lama kelamaan padatnya cerita membuatku cenderung merasa lelah. Belum lagi nama-nama yang begitu banyak, kadang hanya muncul sekali di sepanjang buku, sehingga susah untuk diingat dan dimengerti relevansinya terhadap keseluruhan cerita.

Ada bagian-bagian yang terasa sangat menyentuh, terutama yang menyangkut perlakuan orang-orang kulit putih terhadap orang kulit hitam – bagaimana diskriminasi masih sangat kental, bahkan bagi para kulit hitam yang sudah merdeka. Para budak tak lebih dari sekadar barang belaka, yang diperjualbelikan dengan bebas, dipukuli dan dihukum, bahkan diculik dari tengah jalanan untuk dijual.

Namun selebihnya, banyak subplot yang terasa terlalu trivial dan memusingkan bagiku. Ibarat masakan, The Known World merupakan hidangan yang kaya bumbu- saking kayanya malah jadi terasa berlebihan. Gaya penceritaan Jones mengingatkanku akan Salman Rushdie dalam Midnight Children- maju mundur sesuka hati, kadang menyelipkan satu fakta penting tentang seorang tokoh dan nasibnya di masa depan, tanpa menjelaskan seberapa penting arti subplot tersebut, membuat kita melupakannya, kemudian memunculkannya kembali di bagian belakang buku, saat tokoh tersebut sudah tenggelam di balik puluhan kisah tokoh lainnya.

Membaca buku ini membutuhkan kesabaran tersendiri untuk membolak balik halaman sambil mengingat-ingat. Sebenarnya akan lebih menyenangkan kalau Jones mengemas kisah yang menarik ini dengan gaya yang lebih ringan, misalnya fokus pada satu tokoh tertentu, misalnya seorang budak kulit hitam, dan menjadikannya protagonis yang bisa relate dengan pembaca. Tapi, kalau begitu, mungkin buku ini hanya menjadi sekadar buku biasa yang tidak akan memperoleh penghargaan Pulitzer!

Edward P Jones lahir di Washington, DC dan menempuh pendidikan di University of Virginia. Buku-bukunya kebanyakn bercerita tentang perjuangan kaum kulit hitam di Amerika Serikat, baik di era abad ke-20 seperti di buku pertamanya, The Lost City, maupun saat perbudakan masih marak seperti di The Known World, yang memperoleh penghargaan Pulitzer untuk fiksi di tahun 2005.

Posting ini disubmit untuk posting bareng Blogger Buku Indonesia bulan Juli dengan tema historical fiction. Makasih buat Helvry yang sudah rela meminjami bukunya, hasil berkunjung dan mengubek-ngubek perpustakaan pribadinya yang bikin ngiler!

Advertisements