Tags

, , , , , , ,

queen attoliaJudul: The Queen of Attolia

Penulis: Megan Whalen Turner

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2011)

Halaman: 368p

Beli di: Pesta Buku Gramedia Citiwalk (IDR 48k, disc 25%)

Usia kelayakan baca: 8 y.o. and up

Setelah dikecewakan oleh buku pertama yang herannya bisa mendapatkan penghargaan Newbery, aku memutuskan untuk lanjut ke buku kedua, dengan jaminan “it will get better” dari beberapa orang yang sudah membaca buku ini.

Kisah di buku kedua berlangsung setelah Eugenides, si pencuri dari Eddis, berhasil mencuri Hadiah Hamiathes dari wilayah Attolia di buku pertama. Ratu Attolia semakin jengkel dengan Euginedes karena pencuri itu sering menggodanya dengan berkeliaran di istana Attolia tanpa berhasil ditangkap. Namun suatu hari, keberuntungan Eugenides menipis, dan Ratu Attolia berhasil menangkapnya – dan memulai perang besar antara Eddis dan Attolia. Situasi bertambah rumit karena ada pihak-pihak yang ingin mendapatkan keuntungan dari perang ini, dan berusaha menyusup masuk dengan segala cara. Di tengah perang yang berkecamuk, Euginides dipaksa untuk melihat ke dalam hatinya, dan mengambil keputusan besar yang akan mengubah hidupnya.

Buku kedua ini, syukurlah, memang lebih baik dari buku pertama. Aku mulai bisa menangkap ide besar Megan Turner yang dipuja-puji oleh para reviewer (terutama reviewer luar negeri). Kombinasi cerita fantasi yang diselipkan dengan intrik politik, perang dan bahkan sedikit romans, memang berpotensi menghasilkan serial yang menarik.

Di buku ini, fokus pada karakter Euginedes dan Ratu Attolia juga terasa pas, karena pembaca diajak untuk mengenal lebih dalam karakter mereka, yang untungnya bisa menarik simpati dengan cukup mudah. Aku mulai menyukai Euginedes dan bahkan peduli pada Ratu Attolia. Namun tetap saja, masih ada beberapa hal yang mengganjal untukku.

Salah satunya adalah deskripsi realm Attolia-Eddis-Sounis yang masih terasa buram, terutama untuk memahami strategi perang masing-masing kerajaan yang mengandalkan berbagai jalan sempit rahasia, teluk tersembunyi dan serangan laut. Deskripsi setting yang mendetail sepertinya menjadi kekuatan utama Turner (sejak buku pertama), tapi sekaligus juga merupakan kelemahannya.

Menilik review penuh pujian dari reviewer luar negeri, aku jadi curiga kalau ganjalan ini bersumber dari penerjemahan yang kurang baik. Deskripsi yang ada malah jadi membingungkan dan membosankan, bahkan di adegan perang yang paling seru sekalipun. Seolah si penerjemah hanya berputar-putar saja di satu tempat. Alangkah bagusnya kalau buku ini juga dilengkapi oleh peta yang setidaknya akan sedikit menutupi kekurangan pada terjemahan.

Mari kita lihat apakah buku ketiga berhasil mengubah pendapatku 🙂

Submitted for:

Come join the event!

Come join the event!

Advertisements