Tags

, , , , , ,

The House of SilkJudul: The House of Silk

Penulis: Anthony Horowitz

Penerbit: Mulholland Books (mass market paperback 2011)

Halaman: 337p

Beli di: Kinokuniya Plaza Senayan (IDR84k)

Sebenarnya, aku bukan (atau belum) menjadi fans berat Sherlock Holmes (dan belum berkesempatan menonton serial barunya yang digilai hampir semua orang). Karenanya aku tidak terlalu familiar dengan gaya bercerita Conan Doyle. Yang aku tahu, kisah-kisah Holmes biasanya diceritakan dari sudut pandang sidekicknya, Dr. Watson, dan agak kaku, kurang elemen emosional, serta terlalu Holmes-centered. The House of Silk adalah sebuah karya dari seorang penulis yang ditunjuk langsung oleh Conan Doyle Estate untuk menulis novel Sherlock Holmes, dan menurut orang-orang, dari banyaknya kisah Holmes yang dibuat, kisah ini termasuk yang paling mendekati original dan banyak didukung, termasuk oleh keturunan Conan Doyle sendiri.

Kisahnya bersetting di London tahun 1890, dan masih merupakan narasi Watson, yang seolah-olah ditulisnya di masa tua dan baru disebarluaskan bertahun-tahun kemudian. Misteri diawali dengan kunjungan Edmund Carstairs, seorang kurator seni yang sedang dirundung masalah dan meminta bantuan Holmes. Seorang pria misterius membuntutinya terus dari Amerika hingga ke Inggris dengan sikap mengancam, dan Carstairs curiga sosok itu ada hubungannya dengan geng kriminal yang ia temui di Boston.

Penyelidikan Holmes baru dimulai ketika pembunuhan pertama terjadi, membawanya pada misteri demi misteri yang berlapis-lapis dan awalnya kelihatan tidak berhubungan. Dari mulai hilangnya salah seorang anak jalanan anggota geng Baker Street Irregulars yang sering membantunya, hingga ke suatu kelompok super rahasia bernama The House of Silk. Penyelidikan Holmes dan Watson semakin berbahaya saat mereka menyadari banyaknya pihak dari golongan terkemuka yang terlibat dalam misteri ini.

Anthony Horowitz sukses memukauku lewat gaya bertuturnya yang lancar, mengalir dan tidak membosankan. Ia berhasil memberikan nyawa pada narasi Watson, menambahkan sisi emosional yang terasa kurang di buku-buku Holmes yang original. Beberapa adegan dari buku asli yang direminisce oleh Watson membuat pembaca (terutama penggemar Sherlock) bisa merasa lebih relate dengan cerita di buku ini. Porsi Watson pun sedikit diperbesar, tidak hanya sebagai pengamat namun juga pendamping Holmes yang cukup signifikan.

Meski ending buku ini terlalu sensasional untuk ukuran kisah Sherlock Holmes, namun tak urung membuatku puas saat menutup halaman terakhir. Rasanya masih terbuka kemungkinan bagiku untuk bisa menjadi seorang Sherlockian ๐Ÿ™‚ But is it a bit ironic since I thought about that right after reading the non-original Sherlock’s novel instead of the original books?

Ps: Not a surprise, but Anthony Horowitz mentioned in his Twitter that he is currently writing the sequel of Holmes’s adventure. Super yeay!!!

Pps: Submitted for Mystery Challenge hosted by Hobby Buku ๐Ÿ™‚

Advertisements