Tags

, , , , , , , ,

THE CHILD THIEFJudul: The Child Thief

Penulis: Brom

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2012)

Halaman: 936p

Gift from: @GramediaFantasi

Plot:

Nick berada dalam masalah besar. Ia dikejar-kejar geng narkoba yang menyewa kamar di rumahnya. Pertemuannya dengan Peter, seorang anak misterius, sepertinya menjadi jalan keluar yang sempurna. Nick pun memutuskan ikut dengan Peter ke sebuah negeri aneh berselimut sihir, di mana anak-anak liar yang menyebut diri mereka “iblis” berusaha memenangkan peperangan melawan kelompok “pemakan daging”. Namun dunia ini pun ternyata tidak lepas dari masalah- iri hati dan dengki, keinginan untuk menjadi penguasa, dan pertempuran tanpa akhir yang tidak jelas juntrungannya, membuat Nick mulai menyesali keberadaannya di sana. Apalagi, sepertinya sihir tidak bekerja dengan baik di dunia yang sedang sekarat tersebut, dan Nick menyadari keputusannya ikut dengan Peter mungkin adalah kesalahan yang sangat besar – apalagi saat ia semakin mengenal siapa Peter sebenarnya. Si Pencuri Anak- apakah benar?

My thoughts:

Membaca buku setebal hampir 1000 halaman ini ternyata tidak semengerikan yang aku bayangkan sebelumnya. Ukuran fontnya yang agak besar, ditambah spasi yang lebar dan alur yang mengalir cepat, membuat buku ini bisa ditamatkan dalam waktu singkat. Kisah yang merupakan retelling selalu menarik untukku, tapi banyak di antara retelling tersebut yang kurang original, atau justru terlalu mengada-ada.

Child Thief adalah interpretasi Brom terhadap kisah legendaris Peter Pan. Brom mengaku sangat tertarik dengan Peter si anak yang tidak pernah dewasa, dan memang banyak faktor cukup “gelap” yang bisa digali dari kehidupan misterius Peter, sangat cocok dengan gaya menulis serta ilustrasi yang digambar oleh Brom.

Peter, the Child Thief. Pic from here.

Peter, the Child Thief. Pic from here.

Kenapa Peter tidak ingin dewasa? Ada kekecewaan apa di masa kecilnya yang membuat ia tidak ingin tumbuh dewasa, dan bahkan membenci manusia dewasa secara umum? Dan siapakah para Lost Boys- anak-anak pengikut setianya, yang dlm buku ini dikenal sebagai para Iblis, yang selalu menyertai petualangannya dan memuja Peter sang pemimpin sedemikian hebatnya? Lalu, bagaimana asal mula permusuhan abadi Peter dengan Captain Hook- yang di buku ini diwakili oleh sosok Sang Kapten dari kelompok pemakan daging?

Brom meramu kisah anak-anak Peter Pan menjadi dongeng orang dewasa yang penuh kekerasan, pertumpahan darah, kekecewaan dan kenyataan hidup yang pahit. Apakah perbuatan Peter merekrut anak-anak dari dunia nyata merupakan pertolongan bagi mereka dan menjadikannya sosok pujaan anak-anak itu? Atau justru merenggut anak-anak tersebut dari kehidupan yang seharusnya mereka jalani di dunia nyata?

Dilema ini diwakili dengan sempurna lewat sosok Nick, yang awalnya mengikuti Peter untuk melarikan diri dari hidupnya yang menyedihkan di New York, tapi setelah tiba di dunia Peter, Nick menyadari kalau hal terbaik adalah menghadapi hidup, dan bukan melarikan diri dari hadapannya. Nick melihat sosok Peter dari kacamata lain- bukan sekadar pahlawan yang dipuja-puja oleh pengikutnya, melainkan sosok egois yang memaksa anak-anak ikut berjuang dalam peperangan pribadinya demi mengembalikan dunia ajaib yang dicintainya- tanpa peduli apa yang dikorbankan anak-anak tersebut untuknya.

Yang aku suka dari Brom adalah kepiawaiannya meramu kisah fantasi dengan bumbu makhluk-makhluk menakjubkan seperti faery dan para penyihir, dengan kisah sejarah termasuk perang agama, konflik misionaris dan pencarian terhadap dunia baru alias benua Amerika. Dengan jeli Brom menelaah tiap karakternya sehingga pembaca juga bisa memahami masing-masing dilema mereka, termasuk Sang Kapten dengan kisah hidupnya yang penuh tragedi. Tidak ada tokoh yg 100 persen baik dan 100 persen jahat disini, yang ada hanyalah orang-orang yang ingin memperjuangkan kebahagiaan mereka masing-masing, seberat dan sepahit apapun hal-hal yang harus mereka korbankan.

Tapi di samping segala point positif di atas, ada dua hal yang kurang aku sukai dalam buku ini:

1. Beberapa bagian dalam terjemahan. Secara keseluruhan terjemahan buku ini bisa dibilang baik, alur yang cepat tidak terganggu oleh hasil penerjemahannya. Namun ada beberapa bagian, khususnya kata-kata umpatan yang cukup banyak bertebaran dalam buku ini, yang diterjemahkan dengan agak “maksa”. Kata “anjrit” misalnya, yang sering sekali diucapkan disini, terasa kurang sreg buatku. Apakah berasal dr kata “f*ck” dalam bahasa Inggrisnya? Hal ini mengingatkanku saat membaca Motherless Brooklyn dulu, di mana kata umpatan yang sama diterjemahkan menjadi “dancuk” berkali-kali. Terasa mengganggu dan kurang pas. Apa ya kata Indonesia yang tepat sebagai padanan umpatan ini?

2. Ending yang agak dipaksakan. Klimaks di bagian akhir buku sebenarnya sudah sangat seru, mewakili peperangan terakhir antara dua kubu. Namun ketika gerombolan dunia mereka memindahkan pertempuran ke New York, apalagi dengan kematian salah satu tokoh yang sebenarnya tidak perlu, semuanya terasa semakin di luar kendali. Serasa menonton film Jurrasic Park 2 yang endingnya anti klimaks.

 

Gerald Brom (lahir 9 Maret, 1965 di Albany, Georgia), dikenal sebagai Brom, merupakan artis dan ilustrator gothic fantasy yang karya-karyanya meliputi role-playing games, novel, dan komik. Brom kini tinggal di Seattle, Washington, bersama istri dan kedua anak laki-lakinya.