Tags

, , , , , ,

pearl earringJudul: Girl With a Pearl Earring

Penulis: Tracy Chevalier

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2003)

Pages: 352p

Bought from: Ferina (IDR25k).

Ketika sempat tinggal di Den Haag untuk studi S2, aku beruntung bisa berkunjung ke beberapa museum di Belanda dan melihat dengan mata kepala sendiri lukisan-lukisan terkenal yang sudah melegenda dan dibicarakan orang selama berabad-abad. Salah satunya adalah lukisan Vermeer yang menjadi judul novel ini, Girl With a Pearl Earring.

Sejujurnya, aku tidak mengerti apa yang bisa membuat sebuah lukisan menjadi begitu terkenal dibanding lukisan lainnya, termasuk si gadis beranting mutiara ini. Sederhana, dengan detail yang tidak sekuat lukisan-lukisan Rembrandt yang biasanya melibatkan lebih banyak objek. Tapi kenyataannya, lukisan ini sangat terkenal. Dan Tracy Chevalier memutuskan untuk membangun kisah menarik di balik lukisan misterius ini. Tambahan bahwa kehidupan Johanes Vermeer tidak diketahui banyak orang, menjadi bumbu kisah yang menggiurkan.

Griet adalah anak perempuan tertua di keluarganya yang tinggal di kota kecil Delft di Belanda pada tahun 1664. Karena ayahnya mengalami kecelakaan di tempat kerja, Griet terpaksa menyokong keluarganya dan bekerja sebagai pelayan di keluarga pelukis terkenal: Johanes Vermeer.

Vermeer memiliki banyak anak, sebagian di antaranya sangat nakal, istri yang pencemburu, serta ibu mertua yang misterius. Griet berusaha keras membuat majikan laki-lakinya terkesan padanya, dan semakin lama timbul rasa cinta yang tak terduga pada sang pelukis. Vermeer pun sepertinya balas menyukainya juga, hingga memutuskan untuk melukis Griet dan memintanya mengenakan anting-anting mutiara istrinya. Namun tentu saja ini beresiko besar untuk Griet apabila ia ketahuan. Apakah Griet rela mengorbankan pekerjaan dan kehidupannya demi permintaan laki-laki yang dikasihinya itu? Dan apakah Vermeer benar-benar mencintainya- atau memanfaatkannya untuk lukisan saja?

Dalam hal setting dan fakta sejarah, Tracy Chevalier memang jagonya. Tak terkecuali di buku ini, penggambaran Delft di masa lampau benar-benar memukau dan meyakinkan, seolah ia benar-benar pernah berada di sana. Namun kalau berurusan dengan karakter, entah mengapa Tracy tidak pernah berhasil memukauku melalui tokoh-tokoh di dalam bukunya. Memang karakter di buku ini tidak semenyebalkan tokoh-tokoh di Virgin Blue atau Lady and the Unicorn, tapi tidak bisa dibilang menyenangkan juga.

Karakter Griet yang harusnya bisa menjadi sangat lovable dan mengundang simpati, malah terkesan flat disini. Tidak ada alasan untuk menyukainya, dan bahkan tidak ada penjelasan mengapa Vermeer begitu dikaguminya- karena lukisan semata-mata? Atau sikap misteriusnya? Karakter lain pun dibuat terlalu satu dimensi- misalnya saja Catharina, istri Vermeer yang digambarkan selalu menyebalkan, menjengkelkan, tapi tanpa alasan yang jelas. Apa karena suaminya yang tak kunjung sukses? Atau karena ia hamil dan melahirkan terus-menerus nyaris tanpa jeda?

Membuat kisah berlatar belakang sejarah memang menantang, apalagi bila mengangkat kisah tokoh yang terkenal seperti Vermeer. Mungkin itu pula yang membuat Tracy seperti merasa dibatasi dalam mengembangkan karakter dan jalinan kisahnya, sehingga plotnya pun terasa lebih sederhana dibandingkan buku-bukunya yang lain. Namun, fakta sejarah dan detail-detail seni dalam buku ini masih memikatku, dan masih membuatku bertekad untuk mencari buku-buku Tracy lainnya- untuk menemukan satu saja yang bisa jadi favoritku!

Review ini adalah posting bersama BBI untuk buku dengan tema perempuan/ditulis oleh penulis perempuan