Tags

, , , , , , , , , ,

5 sekawan boxsetJudul: Lima Sekawan

Penulis: Enid Blyton

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (cetak ulang cover baru, 2010-2011)

Harga: IDR 25k – IDR 30k

Usia kelayakan baca: 8 y.o and up!

Lima Sekawan, yaitu Julian, Dick, George, Anne dan Timmy, menjadi teman-teman pertamaku dari dunia buku. Perkenalanku yang pertama terjadi lebih dari 20 tahun lalu, saat seorang sepupu menghibahkan buku-buku dari serial ini kepadaku. Cetakan awal yang diterbitkan oleh Gramedia tersebut memiliki ciri khas cover dengan warna-warna solid, ilustrasi yang agak kuno, serta kesan yang sedikit gloomy. Namun mereka langsung menjadi favoritku: sekelompok anak-anak Inggris yang kerap kali terlibat dalam petualangan seru, selalu didampingi oleh anjing besar mereka yang setia.

Cover versi lama, pic from here

Cover versi lama, pic from here

Enid Blyton tampaknya tahu benar apa yang diinginkan pembacanya: petualangan di laut, di pulau, mencari harta terpendam, berkemah dan bertemu orang-orang ajaib dari kelompok sirkus atau karnaval, serta tak lupa: piknik dengan makanan super lezat!

Makanya ketika Gramedia menerbitkan ulang serial ini dengan cover baru, aku bertekad untuk mengumpulkannya. Tidak sekaligus tentu, karena cukup menguras kantong juga, meski akhirnya terbit versi boxset yang tetap bikin ngiler🙂 Setiap bulan aku memberikan jatah satu atau dua buku Lima Sekawan di kantong belanjaanku, dan setelah sekitar dua tahun, voila, lengkaplah sudah koleksiku. Cover baru dari Gramedia memiliki warna-warni pastel yang lebih ceria, dengan gambar seperti komik yang cukup imut. Namun ilustrasi di dalamnya masih mengikuti ilustrasi versi buku lama.

Inilah sedikit sinopsis dari setiap buku:

1. Di Pulau Harta

Julian dan kedua adiknya, Dick dan Anne pertama kali bertemu sepupu mereka, Georgina (yang hanya mau dipanggil George dan sangat tomboy) saat berlibur di Kirrin. Dari awal yang kurang menyenangkan, persahabatan mereka pun berkembang, terutama saat mereka menemukan petunjuk tentang adanya harta karun yang terpendam di Pulau Kirrin, pulau kepunyaan George.

2. Beraksi kembali

Lima Sekawan kembali ke Pondok Kirrin dalam liburan Natal, yang sayangnya sedikit rusak karena harus diisi oleh pelajaran tambahan. Namun minat mereka tergugah saat Pak Roland sang guru menunjukkan minat berlebih pada pekerjaan Paman Quentin (ayah George yang seorang ilmuwan) dan melakukan tindak-tanduk yang mencurigakan!

3. Minggat

Liburan musim panas Lima Sekawan di Pondok Kirrin berubah suram ketika Bibi Fanny, ibu George, sakit keras dan mereka harus ditinggal sendiri bersama pengurus rumah yang menyebalkan. Akhirnya mereka memutuskan untuk minggat ke Pulau Kirrin- namun terkejut mendapati ada orang lain di sana!

4. Ke Sarang Penyelundup

Lima Sekawan menghabiskan liburan Paskah mereka di rumah tua tempat tinggal teman mereka, si Hangus- yang bernama Sarang Penyelundup. Rumah itu terletak di puncak sebuah bukit di daerah berawa-rawa, yang dulu terkenal sebagai pusat penyelundupan. Petualangan mereka dimulai saat mereka memergoki adanya sinar-sinar aneh di tengah malam- masihkah ada penyelundup di jaman sekarang?

5. Berkelana

5 sekawan berkelanaPetualangan seru Lima Sekawan dimulai saat mereka berlibur dengan karavan melintasi daerah pedesaan Inggris- dan berkemah di dekat rombongan sirkus. Meski memiliki teman-teman baru, termasuk anak sirkus dengan simpansenya yang kocak, Lima Sekawan juga direcoki oleh beberapa anggota rombongan yang sepertinya memiliki niat jahat misterius!

 

6. Rahasia di Pulau Kirrin

Paman Quentin meminjam Pulau Kirrin untuk melakukan eksperimen penting dan super rahasia. Namun suatu hari, ia menghilang di pulau itu, menyebabkan Lima Sekawan bertekad untuk turun tangan.

7. Memburu Kereta Api Hantu

Yeay, Lima Sekawan pergi berkemah ke padang belantara! Namun liburan yang seharusnya menyenangkan, berubah mencekam saat mereka memergoki kereta api hantu yang sudah lama menjadi legenda di sekitar sana beroperasi kembali! Ada kejadian apa di baliknya?

8. Nyaris Terjebak

Lima Sekawan menghabiskan liburan mereka mengembara dengan sepeda. Namun sebuah insiden menyebabkan Dick diculik – dan Lima Sekawan mendadak terlibat dalam petualangan yang menegangkan.

9. Jo Anak Gelandangan

George dan Timmy menghilang saat Lima Sekawan ditinggalkan berlibur sendiri di Pondok Kirrin. Selain itu, ada pencuri yang membongkar ruang kerja Paman Quentin. Bagaimana Lima Sekawan bisa beraksi- padahal mereka tinggal bertiga?

10. Rahasia Harta Karun

5 sekawan harta karunSaat Lima Sekawan melakukan hiking di liburan singkat mereka, Dick dan Anne tersesat di sebuah pondok tua- dan malah tidak sengaja menerima pesan dari seorang narapidana yang sedang kabur! Pesan misterius itu merupakan petunjuk tempat terkuburnya harta curian, berhasilkan Lima Sekawan menemukannya?

 

11. Sarjana Misterius

Lima Sekawan kembali berlibur dengan karavan, kali ini berkemah dekat sebuah puri tua yang hampir runtuh. Liburan mereka berubah menjadi petualangan seru saat mereka menangkap bayangan seseorang di puri yang sudah terlantar itu. Mungkinkah ada hubungannya dengan para sarjana ilmuwan yang dikabarkan menghilang?

12. Dalam Lorong Pencoleng

Kali ini Lima Sekawan berlibur cukup jauh ke daerah pesisir Cornwall yang terpencil. Liburan yang seharusnya tenang dan menyenangkan terganggu saat mereka memergoki ada cahaya berkelap-kelip dari menara tua yang sudah tidak dihuni lagi. Masa sih, ada pencoleng yang kembali beraksi memasang suar palsu untuk menyesatkan kapal-kapal agar terdampar?

13. Rawa Rahasia

Lima Sekawan berkumpul kembali dan menghabiskan liburan dengan berkelana di Rawa Rahasia. Banyak kaum kelana berkeliaran di sana, melakukan kegiatan misterius mereka di tengah kabut misterius. Dan Lima Sekawan tak tahan untuk tidak ikut menyelidiki kegiatan kaum kelana, sampai akhirnya kabut pun membuat mereka tercerai-berai.

14. Menyamarkan Teman

Seorang ilmuwan teman Paman Quentin menitipkan anaknya di Pondok Kirrin, karena diancam oleh penculik. Lima Sekawan membantu menyamarkan teman baru mereka- dan segera terseret ke dalam petualangan penuh bahaya yang melibatkan penculik dan rahasia negara!

15. Melacak Jejak Rahasia

Karena Timmy sedang dalam masa penyembuhan, Lima Sekawan menyepi dan berkemah di taman tua dekat Pondok Kirrin. Namun cahaya menyeramkan dari rumah tua dekat kemah mereka membuat Lima Sekawan terlibat dalam petualangan seru melacak jejak misterius mencari harta tersembunyi!

16. Ke Bukit Billycock

Lima Sekawan berkemah di Bukit Billycock dan berkenalan dengan Jeff, seorang pilot pesawat tempur yang masih muda dan baik hati. Namun alangkah kagetnya Lima Sekawan ketika Jeff tiba-tiba menghilang dan dituduh membawa kabur rahasia negara!

17. Rahasia Logam Ajaib

Saat liburan musim dingin, Lima Sekawan yang baru sembuh dari wabah flu memulihkan kesehatan mereka di daerah Wales. Main ski dan kereta salju benar-benar menyenangkan, tapi ada sesuatu yang misterius di bangunan aneh yang terletak dekat pondok mereka. Seraut wajah menatap mereka dari balik jendela!

18. Memperjuangkan Harta Finniston

5 sekawan finnistonLiburan di rumah pertanian Keluarga Finniston berubah menjadi petualangan seru saat Lima Sekawan membantu keluarga ini mencari harta yang sudah terpendam berabad-abad, dan berlomba dengan peminat lainnya.

 

 

19. Karang Setan

Liburan di mercu suar tentu merupakan petualangan menarik bagi Lima Sekawan. Terutama ketika mereka dan si Utik, teman mereka si pemilik mercu suar, menemukan kepingan uang yang diduga berasal dari harta peninggalan bajak laut masa lampau!

20. Di Pulau Seram

Lima Sekawan tak sengaja terdampar di Pulau Seram, padahal tak seorang pun yang mendarat di sana akan kembali! Pulau itu menyimpan banyak misteri- termasuk patung menyeramkan dan pintu rahasia di dinding sumur.

21. Sirkus Misterius

Lima Sekawan kembali berjumpa dengan si Utik dan berkemah di lapangan dekat rumahnya. Ternyata, ada rombongan sirkus yang juga sedang berkemah di sana. Namun beberapa kejadian aneh membuat Lima Sekawan curiga bahwa sirkus itu bukanlah sirkus biasa!

 

My Thoughts and Highlights

Membaca ke-21 buku Lima Sekawan merupakan pengalaman menyenangkan, membawaku kembali ke masa kanak-kanak di mana buku menjadi sumber petualangan menarik dan tak pernah membosankan. Setelah membaca ulang di usia dewasa, ternyata kesan yang diperoleh tetap mendalam. Petualangannya tetap seru, karakternya menarik, dan settingnya itu lho – menggiurkan! Siapa sih yang nggak mau naik ke mercu suar, punya pulau sendiri, atau berkelana dengan karavan? *sigh*

Tapi, ada juga beberapa hal yang baru aku sadari ketika membaca ulang serial ini di usia ibu-ibu seperti sekarang. Ini beberapa di antaranya:

1. Character Development

Di buku-buku awal, terasa sekali dominasi karakter George di serial ini. George menjadi sentral cerita dengan karakternya sebagai anak tunggal yang keras kepala, tomboy, mau menang sendiri, namun juga berani dan setia kawan. Ketergantungannya pada Timmy juga terasa sangat berlebihan, mungkin karena ia anak tunggal sehingga cenderung kesepian. Blyton pernah mengakui kalau karakter George memang sedikit-banyak merupakan adaptasi karakternya di dunia nyata. Mungkin karena itu pula ia lebih mudah masuk ke dalam karakter George dan menjadikannya kurang lebih sebagai tokoh utama. Namun semakin ke belakang, Blyton membuat karakter-karakternya lebih seimbang. George dibuat lebih subtle di beberapa buku, lebih pengalah dan tidak terlalu menonjolkan diri. Bahkan di beberapa kisah, kunci keberhasilan mereka terletak di pundak Dick dan Anne, yang sebenarnya lebih jarang dibahas dibanding George atau Julain (yang merupakan tokoh tertua). Aku pribadi lebih suka saat kisah-kisah di buku ini sudah berimbang karakterisasinya, yang memang terjadi di separo buku-buku terakhir.

2. How Old Are They?

Di buku pertama, disebutkan kalau Julian berusia 12 tahun, Dick dan George yang sepantaran berusia 11 tahun, sedangkan Anne yang paling bontot berusia 10 tahun.  Namun semakin ke belakang, disebutkan juga kalau Julian sudah semakin dewasa, dan tanggung jawab yang diberikan padanya juga lebih besar. Misalnya saja, ia sudah dipercaya membawa sepupu dan adik-adiknya naik karavan atau bersepeda tanpa didampingi orang dewasa. Namun, tidak disebutkan hingga buku terakhir, berapa usia masing-masing anak. Dan kalau menghitung jumlah liburan musim panas yang sudah mereka lalui bersama-sama, harusnya sih petualangan mereka sudah mencakup 10 tahun lebih! Well, itulah keistimewaan buku fiksi dan cerita anak-anak. You can freeze the characters whenever you like🙂

3. Gender Issue

Enid Blyton secara tersembunyi juga banyak membahas issue gender di buku ini. Terutama melalui keinginan George untuk dianggap sebagai anak laki-laki. Menurut George, anak lelaki tidak perlu memasak, pergi ke dapur, dan mengurus rumah. Kontras sekali dengan Anne, yang merupakan cerminan perempuan ideal: suka masak, beres-beres rumah, dan mengurus perbekalan selama mereka bertualang. Anne juga digambarkan pengalah dan penurut, dan senang dilindungi oleh kakak-kakaknya. Sikap yang sama memang ditunjukkan oleh anak-anak lelaki dalam buku ini. Di beberapa buku, malah dikisahkan kalau anak-anak lelaki sengaja meninggalkan George dan Anne yang dianggap tidak pantas ikut melakukan pengintaian di malam hari, atau kegiatan sejenisnya. George sempat memberontak dan ingin membuktikan kalau ia sama beraninya dengan anak lelaki, namun di beberapa buku terakhir, dikisahkan perubahan sifat George yang sudah lebih “perempuan”, mau ditinggalkan di malam hari, ikut membantu Anne mencuci piring atau berbelanja.

4. Back Into The Days..

Blyton menulis serial Lima Sekawan antara tahun 1942-1962. Dan di beberapa buku, terasa juga pengaruh tahun-tahun saat penulisan serial ini. Misalnya saja, isu rahasia negara, mata-mata, dan penelitian rahasia, banyak disinggung sebagai bagian dari petualangan Lima Sekawan. Banyak kasus menyangkut penculikan dengan tebusan eksperimen atau rahasia penelitian, terutama yang dilakukan Paman Quentin. Ada juga kasus yang membahas tentang ilmuwan yang berkhianat, pilot yang dianggap mata-mata, atau pencurian surat-surat berharga berupa penelitian untuk negara. Tahun-tahun menjelang dan setelah Perang Dunia II terasa mewarnai buku-buku ini dengan isu-isu tersebut. Yang juga terasa adalah perbedaan kondisi tahun 40-an sampai 60-an, di mana pedesaan masih menonjol, dan keamanan masih terjaga baik. Terbukti dari mudahnya Lima Sekawan (yang relatif masih anak-anak) berlibur sendirian ke manapun mereka mau. Kalau di jaman sekarang sih, mana mungkin orang tua merelakan anaknya yang berusia 11 tahun berkelana naik karavan dan bergaul dengan rombongan sirkus, atau berkemah menumpang di lumbung pertanian? Ahh…those wonderful years🙂

5. Secret Passages and New Friends

Hampir di setiap buku, Blyton menghadirkan elemen favorit para pencinta petualangan: jalan rahasia! Kadang berupa lorong rahasia, atau tempat persembunyian rahasia semacam gua atau terowongan. Pokoknya jalan atau ruangan yang gelap dan biasanya berada di bawah tanah. Favoritku adalah lorong yang menyambungkan Pulau Kirrin dengan daratan – terowongan bawah laut! Imajinasi Blyton memang luar biasa. Satu elemen penting lain yang sering ditambahkan Blyton di serial ini adalah tokoh-tokoh baru, yang kebanyakan sepantaran Lima Sekawan. Beberapa awalnya menyebalkan, tapi akhirnya malah menjadi teman baik Lima Sekawan, dan muncul beberapa kali sepanjang seri ini, seperti Jo si anak gelandangan, atau si Utik dengan monyetnya yang bandel.

6. Food Galore!

Siapapun penggemar Enid Blyton pasti hafal dengan salah satu ciri khasnya, yaitu menyelipkan adegan makan yang serba menggiurkan! Yang paling sering itu adalah limun jahe (ginger ale gitu ya?), tomat dan telur rebus, daging asap, roti lapis isi daging, perkedel daging, dan kue buah. Yummy!! Bahkan, JK Rowling pernah berujar di salah satu interview, kalau ia terinspirasi dari Blyton dalam mendeskripsikan secara detail makanan yang ada di buku Harry Potter. Yep, you can’t get enough of those delicious food! Lidah kaleng dan sardencis, anyone?

7. Fantastic Titles

Aku juga baru sadar kalau judul Lima Sekawan versi terjemahan bahasa Indonesia ternyata jauh lebih menarik daripada judul asli dalam bahasa Inggris. Sebagai contoh, Memburu Kereta Api Hantu judul aslinya adalah Five Go Off to Camp. Lalu, Dalam Lorong Pencoleng, memiliki judul asli Five Go Down to the Sea. Sedangkan Sarjana Misterus, judul aslinya adalah Five Have a Wonderful Time. Zzzzz…kurang kreatif bikin judul yah, Ibu Enid ini😀

 

Overall, Lima Sekawan adalah serial klasik yang tak akan lekang oleh waktu. Selalu dapat dinikmati, dan menimbulkan kenangan manis yang berharga. I will totally recommend the series to my kid, when he’s old enough to read them. Dan memang, di tengah gempuran petualangan fantasi yang serba heboh, kembali ke serial old school kayak gini sangat menyegarkan. Misterinya tidak secerdas Trio Detektif atau semenggelitik Pasukan Mau Tahu, tapi Lima Sekawan tetap memiliki tempat tersendiri, terutama sebagai pionir kisah-kisah petualangan sepanjang masa.

Review ini disubmit juga untuk:

Come join the event!

Come join the event!

Read-A-Long Children