Tags

, , , , , ,

dickens-ghost-stories 1Judul: Charles Dickens’ Ghost Stories

Penulis: Charles Dickens

Penerbit: Mediakita (2013)

Pages: 256p

Gift from Mediakita πŸ™‚

Ada tiga kisah hantu dalam buku ini. Tapi untuk yang penakut seperti aku, berbahagialah karena ternyata kisah-kisah ini bukan merupakan cerita horor yang mengerikan, melainkan kisah tentang refleksi, penyangkalan diri dan pertobatan.

Cerita pertama, Kidung Natal (terjemahan dari A Christmas Carol), sudah tidak asing lagi untuk kebanyakan orang, karena telah diadaptasi berulang kali dalam film atau media lainnya. Berkisah tentang Ebenezer Scrooge, si tua kikir yang hidupnya tidak bahagia karena tidak mencintai seorang pun. Hantu masa lalu, masa kini dan masa depan mengubah hidupnya, ketika datang di malam Natal dan mengingatkannya akan hal-hal penting dalam hidup. Meski sudah pernah menonton beberapa versi filmnya, ini adalah pertama kalinya aku membaca Christmas Carol. Dan ternyata tetap mengesankan.

Kisah kedua, Anak Yang Memimpikan Bintang, sangat singkat namun menyentuh, tentang kematian dan kehidupan yang menanti kita selanjutnya. Ini adalah kisah yang menghibur orang-orang yang berduka dan harapan untuk bertemu kembali dengan kekasih-kekasih yang sudah meninggalkan mereka lebih dahulu.

Sedangkan kisah terakhir berjudul Lelaki Yang Dihantui & Penawaran Sang Hantu. Masih bercerita tentang penyesalan dan kesalahan di masa lalu, kali ini tokohnya bernama Redlaw, profesor penyendiri yang tidak bisa bahagia akibat ingatan-ingatan mengerikan tentang masa lalunya. Sesosok hantu datang padanya di malam Natal, menawarkan kesepakatan yang sekaligus merupakan kutukan. Apakah Redlaw akan menerimanya – demi melupakan kenangan buruknya di masa lalu?

Dickens menempatkan malam Natal sebagai setting dari sebagian besar kisah dalam buku ini, mungkin untuk melambangkan saat yang tepat bagi kita berefleksi dan bertobat. Salah satu contohnya adalah Scrooge, yang tadinya membenci Natal, di akhir cerita malah seolah menjelma menjadi Bapak Natal sendiri. Begitu pula dengan setting bangunan gelap, sepi dan dingin, tempat menetap tokoh-tokoh yang kaya namun tidak bahagia, seperti di kisah pertama dan terakhir, sangat kontras dengan rumah yang kecil namun hangat, diramaikan dengan keluarga yang miskin tapi penuh berkat. Pesannya jelas, kekayaan tidak membawa kebahagiaan, tanpa adanya cinta kasih dan keluarga yang akan membawa kedamaian. A nice little treat for Christmas time, I guess!

Versi terjemahan buku ini cukup baik, bisa menggambarkan cerita keseluruhan secara jelas di antara kalimat-kalimat Dickens yang kadang berbelit-belit dan panjang lebar. Namun beberapa typo yang berulang mungkin dapat diperbaiki untuk edisi selanjutnya. Misalnya saja kata “menggigil” yang sangat sering ditulis “mengigil”, lalu “merubah” yang harusnya “mengubah”.

Thanks to @Mediakita and @gila_buku for this book!

Advertisements