Tags

, , , , ,

julietJudul: Juliet

Penulis: Anne Fortier

Penerbit: Qanita (2012)

Halaman: 705p

Rental di: ReadingWalk

Pernah membaca buku dengan premise menjanjikan dan review mengesankan, tapi kecewa dengan hasilnya? Yap, pengalaman itulah yang aku peroleh saat membaca Juliet.

 
Premis menjanjikan

Ternyata, kisah romantis sepanjang masa karya Shakespeare, Romeo & Juliet, benar-benar pernah terjadi tahun 1340 di Siena, Italia. Tragedi tersebut melibatkan cinta terlarang antara Giulietta Tolomei dan Romeo Marescotti, dengan bayang-bayang jahat keluarga Salimbeni.

Kini, di abad 21, Julie Jacobs yang baru kehilangan bibinya akhirnya mengetahui kalau ia adalah keturunan langsung dari Giulietta Tolomei. Berbekal surat-surat dari masa lalu serta kunci misterius peninggalan ibunya, Julie pun berangkat ke Siena, bertekad ingin mengetahui lebih banyak tentang keluarganya, serta memecahkan misteri kutukan yang melanda mereka selama berabad-abad. Namun ia tidak mempersiapkan dirinya untuk menghadapi komplotan penjahat yang mengincar harta masa lalu, ditambah titisan Romeo yang terus menghantuinya.

 
Kecewa

Terus terang, membaca buku setebal 700-an halaman ini adalah penderitaan buatku. Dialognya kaku, entah karena ingin bergaya sastra ala Shakespeare, atau karena penulisnya berasal dari Denmark, yang jelas banyak percakapan kurang penting yang terkesan dipaksakan. Adegan-adegannya juga tidak believable.

Salah satu contohnya: Julie selalu tidak akur dengan saudara kembarnya, Janice. Janice selalu culas dan ingin “lebih” dalam segala hal. Ia mendapat peran Juliet dalam drama di SMA mereka, sementara Julie hanya berperan sebagai pohon. COME ON. Mana ada sih drama SMA di Amerika yang menggunakan siswa sebagai pohon?? Memangnya mereka nggak punya backdrop panggung??

Complaint lainnya adalah tentang karakter dalam buku ini, yang tidak likable sama sekali, termasuk Julie si tokoh utama. Tidak jelas apa yang membuat Julie pantas menyandang gelar heroine di buku ini. Karakternya lemah, pathetic, dan berada di bawah bayang-bayang Janice tidak membuat pembaca bersimpati padanya, justru membuat kita merutuki kebodohannya. Adegan kejar-kejaran dengan sepatu hak tinggi yang diulang berkali-kali dengan hasil yang sama konyolnya, tidak membantu jalan cerita lebih menarik. Chemistry-nya dengan sang Romeo masa kini juga terasa tidak believable. Tidak jelas apa yang membuat mereka sangat perlu untuk menjadi sepasang kekasih, kecuali kenyataan bahwa mereka adalah keturunan Romeo dan Juliet di masa lalu. Yang mereka bicarakan juga itu-itu saja, konflik keluarga, kutukan turun temurun, dan saling tidak percaya satu sama lain. Benar-benar bukan dasar yang meyakinkan untuk membangun sebuah hubungan!

Plot yang ada juga terasa sangat dipaksakan, segala jenis kutukan yang dibesar-besarkan, misteri yang dibuat-buat dan ternyata penyelesaiannya sangat sederhana. Menjengkelkan dan tidak perlu.

 
Yang Menarik?

Untunglah buku ini sedikit terselamatkan dengan setting Siena yang begitu memukau. I gave credit to the writer for her well done research. Terutama penggambaran Siena yang begitu detail. Kisah Romeo dan Giulietta masa lalu juga cukup memikat, konfliknya jauh lebih terpercaya dibanding kisah Romeo-Juliet abad 21. Saranku,kalau sudah tidak tahan menghadapi kisah Julie yg bertele-tele, skip saja bagian tersebut dan bacalah kisah sejarahnya saja🙂

 
Contrada Siena

Yang sangat menarik dari Siena adalah pembagian kota menjadi beberapa distrik yang diwakili oleh simbol binatang. Sejak jaman dahulu, setiap distrik akan bertanding dalam suatu perlombaan yang dikenal sebagai Palio. Dalam kisah Juliet, contrada yang banyak disebut adalah Burung Hantu (mewakili keluarga Tolomei) dan Elang (keluarga Marescotti).

Lambang Contrada di Siena. Pic from here.

Lambang Contrada di Siena. Pic from here.