Tags

, , , , ,

heretics daughterJudul: The Heretic’s Daughter

Penulis: Kathleen Kent

Penerbit: Matahati (2011)

Pages: 282p

Beli di: Pesta Buku Jakarta 2012 (IDR 25k)

Salah satu peristiwa sejarah yang paling dikenal dan membangkitkan rasa ingin tahu di era awal Amerika Serikat adalah The Salem Witch Trial, atau pengadilan penyihir di Salem. Hal inilah yang diangkat juga oleh Kathleen Kent lewat novel pertamanya, The Heretic’s Daughter.

Kathleen yang merupakan keturunan dari Martha Carrier, salah satu perempuan yang diadili di pengadilan tersebut, menggambarkan situasi yang terjadi berdasarkan kisah-kisah yang sudah didengarnya turun-temurun. Buku ini ditulis menggunakan sudut pandang Sarah Carrier, anak perempuan Martha, ketika mereka baru pindah ke desa kecil Andover di Massachussets akhir tahun 1690.

Saat itu, agama merupakan tolok ukur terpenting dari kehidupan para warga. Kebaktian hari Minggu wajib dihadiri, demikian juga berbagai aturan ketat yang harus dipatuhi seperti berhenti bekerja di hari Sabat dan dilarang mempercayai takhayul. Di tengah situasi suram inilah Sarah tumbuh dewasa, berusaha akur dengan ibunya yang keras kepala, mencoba mengerti ayahnya yang berasal dari Wales dan ditakuti warga sekitar, serta hidup bersama kakak-kakak lelaki dan adik perempuan satu-satunya yang masih bayi.

Di periode ini, gereja yang keras seringkali menghukum orang-orang yang dianggap tidak taat, dan sebuah peristiwa di Salem (tak jauh dari Andover) menyulut kehebohan yang berujung pada penangkapan warga yang dicurigai memiliki kekuatan ilmu sihir dan pengikut aliran sesat. Beberapa insiden, ditambah dengan sifat Martha Carrier yang keras, akhirnya membuat namanya ikut terseret ke dalam rangkaian nama tertuduh. Martha pun ditangkap, dan tak lama kemudian disusul oleh anak-anaknya, termasuk Sarah. Di penjara, Sarah merenungi kehidupannya, menghadapi ketidakadilan yang menimpanya, dan berusaha mengerti kehidupan ibunya serta prinsip-prinsip yang dipertahankan keluarganya.

Buku ini mengalir lambat, memaparkan kisah dengan fakta-fakta sejarah yang dibuat cukup akurat dan detail. Kathleen Kent seakan ingin menekankan novel ini pada kebenaran yang terjadi, sebagai pengingat akan peristiwa yang menimpa leluhurnya, dan bukannya dipenuhi oleh bumbu-bumbu drama yang memang tidak banyak ia tambahkan.

Namun bukan berarti alur cerita menjadi datar, karena Kathleen mampu menerjemahkan perasaan Sarah dengan sangat baik: kegetirannya, keputusasaannya memahami sang ibu, ketidakmengertiannya terhadap apa yang menimpa keluarganya, siapa yang bisa dipercaya untuk menolong keluarganya. Pengadilan Salem Witch sendiri dikisahkan tidak terlalu detail, namun keabsurdan yang terjadi mampu membuat geleng-geleng kepala. Tuduhan para perempuan kesurupan bahwa para warga (yang bahkan tidak mengenal mereka!) telah menggunakan sihir pada mereka, terasa konyol dan tidak masuk akal bila dilihat isudut pandang hukum modern. Puluhan oanrg dihukum mati karena tuduhan tak beralasan ini, bahkan tanpa setitik bukti.

Kathleen berhasil menanamkan simpati dalam hati para pembacanya, dan rasa syukur bahwa kita tidak hidup di masa itu. Satu pertanyaan adalah mampukah Kathleen menulis novel berikutnya yang sama kuat dan personalnya? We’ll have to wait and see.

Salem witch trials berlangsung antara Februari 1692- Mei 1693, setidaknya ada 28 orang yang dinyatakan bersalah dan menerima hukuman mati. Tak kurang dari 50 orang lainnya ditahan di penjara dalam kondisi mengenaskan. Banyak ahli masa kini mengajukan teori “kesurupan” yang dialami oleh para perempuan yang menyalahkan ilmu sihir dan guna-guna, sebenarnya disebabkan oleh histeria massal akibat hidup yang terlalu terisolasi dan kehidupan religius yang terlalu ekstrim.