Tags

, , , , ,

HaveALittleFinalJudul: Have a Little Faith

Penulis: Mitch Albom

Penerbit: Hyperion (2009)

Pages: 249p

Gift from @rayosouisa =)

Anniversary gift from my guy two years ago and I just read it now? Ter-la-lu =D

Sometimes I almost forgot why I love Mitch Albom’s works in the first place. Aku jatuh cinta pada Tuesdays with Morrie (yang belum pernah direview di blog ini!) dan menobatkannya sebagai salah satu buku terbaik sepanjang masa. Albom langsung masuk ke dalam list penulis yang buku-bukunya wajib kubeli dan kukoleksi, kalau bisa edisi bahasa Inggrisnya sekalian.

Namun beberapa buku terakhir aku merasa sedikit stagnan, tidak ada yang terlalu istimewa, warna ceritanya selalu mirip. Dan meski dihiasi kalimat-kalimat indah yang menjadi ciri khasnya, beberapa cerita tidak meninggalkan kesan sekuat yang kuharapkan, termasuk The Time Keeper, buku terakhirnya yang mengangkat tema waktu.

Karenanya aku tidak berharap banyak saat membuka Have a Little Faith, buku nonfiksi Albom yang pertama setelah Morrie. But just like people said, when you expect the least- you’ll get more than what you expected, that’s exactly what happened with me after I read this book.

Buku ini bercerita tentang pencarian Albom terhadap makna iman dan Tuhan, melalui dua sosok yang sangat berbeda namun sama-sama merupakan hamba Tuhan. Albom dibesarkan dalam lingkungan keluarga Yahudi, meski semakin dewasa (dan menjadi sukses seperti sekarang), pandangannya terhadap agama makin meluntur. Di sinagoga lingkungan tempatnya tinggal dulu, ada seorang rabi yang sangat berpengaruh dan dicintai, biasa dipanggil Reb. Meski tidak terlalu dekat dengan Reb yang selalu membuatnya segan (terutama setelah Albom menikah dengan perempuan non-Yahudi), suatu hari Albom dikejutkan dengan permintaan Reb. Reb ingin agar Albom-lah yang menulis dan membacakan euloginya saat ia meninggal.

Permintaan ini akhirnya membuat Albom dan Reb menjadi begitu dekat, dan Albom berusaha mencari tahu siapa sesungguhnya Reb yang sosoknya begitu dihormati semua orang. Lewat hubungan ini, Albom belajar banyak tentang arti agamanya, arti iman dan kepercayaan pada Tuhan, dan hal-hal yang berharga dalam hidup. Pandangan Reb sangat manusiawi namun tidak meninggalkan ke-Tuhanannya. Baginya, hubungan dengan sesama (regardless the religions) sama pentingnya dengan hubungan vertikal dengan Tuhan.

Saat yang bersamaan, Albom seolah ditantang untuk mempraktekkan apa yang sdh ia dapatkan dari Reb dalam hidup nyata, ketika ia bertemu dengan Henry Covington, pendeta kulit hitam di sebuah gereja miskin di Detroit, tempat tinggalnya sekarang. Dengan masa lalu suram, pendeta ini mengajarkan Albom tentang kesempatan kedua, dan bahwa Tuhan sebenarnya sama – menginginkan umatNya saling menolong- regardless your religion.

Have a Little Faith mengingatkanku kembali mengapa aku jatuh cinta pada karya Mitch Albom. Tema yang sangat dalam ini- hubungan vertikal dengan Tuhan dan horisontal dengan sesama- ditulis Albom dengan ringan, mengalir dan penuh kata-kata indah. Dan karena tokoh-tokohnya adalah para hamba Tuhan, kesan preachy yang terdapat di beberapa buku Albom sebelumnya malah terasa sangat pas di sini. Apalagi para hamba Tuhan ini digambarkan sangat lovable, very human, dan jauh dari kesan “sok suci”.

Menurutku kekuatan Albom adalah menulis memoar dan nonfiksi sejenis ini, dan karyanya membuat pembaca benar-benar ingin bertemu dengan orang-orang yang ada dalam buku-bukunya. I hope he would write more memoirs like this in the future, instead of writing too many fables and fairy tales-alike.

“In the beginning, there was a question. In the end, the question gets answered. God sings, we hum along, and there are many melodies, but it’s all one song- one same, wonderful, human song. I am in love with hope” (p 249)