Tags

, , , , , ,

Judul: Negeri Para Bedebah

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2012)

Pages: 440p

Pinjam ke: Annisa Anggiana

 

 

“Di negeri para bedebah, kisah fiksi kalah seru dibanding kisah nyata.

Di negeri para bedebah, musang berbulu domba berkeliaran di halaman rumah.

Tetapi setidaknya, Kawan, di negeri para bedebah, petarung sejati tidak akan pernah berkhianat”.

 

Thomas adalah seorang konsultan keuangan yang terkenal sampai ke dunia internasional. Di usianya yang masih awal 30 tahun, Thomas termasuk ke dalam jajaran milyuner muda yang bisa menginap di hotel bintang 5 setiap hari, dan terbang di kelas bisnis ke seluruh dunia. Di Jakarta, Thomas tergabung dengan grup petarung rahasia, di mana puluhan eksekutif muda berkumpul untuk bertarung secara reguler.

Thomas menyembunyikan masa lalunya yang misterius hingga suatu hari kasus Bank Semesta mengemuka dan melibatkan Om Liem, pemilik bank yang adalah adik ayahnya. Ternyata Thomas masih memiliki secuil rasa kekeluargaan yang membuatnya nekat melarikan Om Liem dan menyembunyikannya dari kejaran polisi, sambil berusaha menguak siapa sebenarnya dalang di baling kerumitan kasus Bank Semesta yang sangat ingin menghancurkan keluarganya.

Sepanjang petualangannya, Thomas berulang kali dibantu oleh orang-orang terdekatnya, mulai dari Maggie sekretaris pribadinya, Julia wartawan perempuan yang cerdik dan ambisius, serta teman-temannya sesama petarung, yang menjunjung tinggi kesetiaan lebih daripada apapun.

Ini merupakan pengalaman pertamaku membaca Tere Liye. Terus terang, meski sering mendapati review yang memuja-muji karya penulis ini, aku belum tertarik sedikitpun menengok buku-bukunya. Sampai akhirnya BBI memutuskan untuk baca bareng karya penulis Indonesia yang masuk ke dalam daftar 10 besar KLA (Khatulistiwa Literary Award), akupun mencoba membaca Negeri Para Bedebah.

Dalam buku ini, Tere Liye bermain-main dengan isu yang mengingatkanku pada maraknya kasus Bank Century beberapa waktu lalu. Bahkan beberapa tokoh di dalamnya seolah diambil dari dunia nyata: menteri keuangan wanita yang tegas, tokoh politik muda anak pemimpin nomer 1 bangsa ini, serta beberapa petinggi negara yang secara samar mengingatkan pada tokoh-tokoh asli. Meski teori konspirasi yang diajukan Tere Liye di sini cukup menarik, entah kenapa penyampaiannya malah kurang meyakinkan. Mungkin karena tokoh pahlawan kita, Thomas yang dibuat terlalu menyerupai superhero? (Hint: lebih dari 24 jam tidak tidur, dan masih bisa menyetir mobil? Cmon! Even Jack Bauer needs some sleep!). Atau karena beberapa elemen yang dibuat terlalu menyerupai film Hollywood dan film action ala Hongkong? (Menerobos polisi dengan penyamaran seorang buron, kejar-kejaran di jalanan Jakarta yang jarak tempuh dan rutenya sepertinya kurang masuk akal).

Atau, mungkin juga karena aku kurang sreg dengan gaya bahasa yang digunakan, entah terlalu kaku atau kuno menurutku (oke, berapa sering sih orang normal mengucapkan kata bedebah atau kapiran? Orangnya seumuran denganku pula). Kalimat-kalimat yang terasa janggal misalnya “Apakah kamu dapat mengemudikan mobil?” Atau “Aku hendak meneleponmu tetapi urung”. Juga seluruh percakapan antar anggota petarung yang menggunakan kata ganti “aku” dan “kau” (Dua cowok dewasa yang ber-aku dan kau rasanya hanya ada di film drama jaman dulu). Rasanya seperti membaca terjemahan buku bahasa Inggris dengan gaya yang sedikit ketinggalan jaman.

Secara keseluruhan, buku ini oke, hanya saja aku belum menemukan faktor X yang membuat Tere Liye sangat digilai oleh para pembaca maupun juri-juri penghargaan. Mungkin satu kali lagi kesempatan? Buku yang mana ya enaknya?

Tere Liye merupakan nama pena dari penulis yang memiliki nama asli Darwis. Cukup misterius karena jarang menampilkan profil pribadi dalam buku-bukunya, nama Tere Liye (yang berasal dari Bahasa India) sepertinya justru membawa hoki, terbukti dari banyaknya buku-buku yang menjadi best seller, bahkan masuk daftar nominasi maupun pemenang berbagai penghargaan. Yang terakhir, Negeri Para Bedebah masuk ke dalam nominasi 10 besar Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2012 kategori prosa, meski akhirnya yang berhasil menyabet penghargaan bergengsi tersebut adalah Okky Madasari lewat bukunya, Maryam.

Daftar lengkap 10 besar nominasi KLA 2012 bisa dilihat di sini.