Tags

, , , , , ,

Judul: Kepiting Bercapit Emas

Penulis: Herge

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2012)

Pages: 62p

Rental dari: ReadingWalk

Tintin selalu terlibat petualangan di manapun dia berada. Kali ini, petualangan dimulai hanya karena Milo anjingnya mengorek-ngorek tempat sampah dan menemukan kaleng dengan logo kepiting bercapit emas, yang ternyata menjadi petunjuk dalam kasus mayat misterius yang ditemukan terdampar di pantai. Kaleng yang sama membawa Tintin ke kapal Karaboudjan, yang dicurigainya memiliki kaitan dengan misteri tersebut. Tak disangka, Tintin tiba-tiba berada di tengah penyelundupan obat bius, ditawan di kapal dan terdampar di Gurun Sahara sambil berusaha mengungkap dalang di balik kejahatan ini.

Yang juga seru di buku ini adalah cerita tentang pertemuan pertama Tintin dengan Kapten Haddock yang kelak akan menjadi sahabat sekaligus sidekicknya. Kapten Haddock adalah kapten kapal Karaboudjan yang lebih banyak bermabuk-mabukan sehingga tidak sadar kapalnya digunakan oleh para penyelundup opium. Setelah bertemu Tintin,ia berusaha menghilangkan kecanduannya pada alkohol meski dengan susah payah, dan seringkali kelemahannya ini menjadi perintang dalam petualangan mereka.

Kapten Haddock adalah salah satu alasan mengapa aku sangat menyukai petualangan Tintin. Sumpah serapahnya yang amat terkenal menjadi bumbu penyedap yang mengasyikkan dalam petualangan ini, dan berhasil diterjemahkan dengan pas oleh sang penerjemah. “Dendam kesumat!” “Kuda nil!” “Buaya darat” dan yang palig lucu “vegetarian!” Hahaha, kenapa juga vegetarian masuk ke dalam kategori sumpah serapah 😀

Tintin selalu menghibur dengan petualangan yang mengangkat isu berat (seperti komplotan pedagang obat bius di buku ini) yang disajikan dengan ringan, penuh humor, dan tentu saja setting lokasi eksotis dengan warna dan detail yang solid dan menakjubkan. Yang mungkin agak membuatku kagok membaca versi Gramedia adalah beberapa nama yang mengalami penyesuaian dan berbeda dari terbitan Indira sebelumnya. Snowy menjadi Milo, Thomson dan Thompson menjadi Dupont dan Dupond. Memang kenangan masa kecil melekat erat dan susah untuk dihilangkan, ya.

Background Story (taken from tintin.com)

On May 10, 1940, the German invasion of Belgium put an end to Le Petit Vingtième, and the publication of Tintin was put on hold. In order to continue publishing his tales and avoid censorship, Hergé set them in exotic lands, far from the tragedies of war. Stories about expeditions to the Sahara were popular during the 1930s, so Hergé sent Tintin to Morocco and surrounded him with camels, elephants, a cranky Captain Haddock and, of course, menacing criminals.

Trivia:

-Nama-nama yang digunakan dalam versi terjemahan GPU mengikuti versi bahasa Perancis Tintin, sementara nama-nama di terbitan Indira dulu adalah nama versi bahasa Inggris petualangan Tintin.

-Tintin ditulis oleh Georges Remi (Herge), penulis berkebangsaan Belgia, sehingga setting ceritanya kebanyakan di Brussels. Waktu aku berkunjung ke Brussels tahun 2006 lalu, ternyata Tintin memang menjadi salah satu kebanggaan kota tersebut. Ada Museum Tintin/Herge (yang sayangnya nggak sempat aku kunjungi), juga Tintin Store yang berisi segala pernak-pernik Tintin (tempat aku membeli boneka Snowy yang super cute), dan billboard bergambar Tintin di mana-mana.

-Kapten Haddock merupakan karakter paling favorit di dalam serial Tintin (yeay!). Mau tahu sebagian sumpah serapahnya dalam bahasa Inggris? “Swine!….Jellyfish!….Tramps!….Troglodytes!….Toffee-noses!….Savages!….Aztecs!….Toads!….Carpet-sellers!…. Iconoclasts!….Rats!…. Ectoplasms!…. Freshwater swabs!….Bashibazouks!….Cannibals!…. Caterpillars!…. Cowards!….Baboons!….Parasites!…. Pockmarks!”

Kudos to penerjemah yang bisa menerjemahkan tanpa kehilangan maknanya =)

Advertisements