Tags

, , , , , , , ,

Judul: My Century

Penulis: Gunter Grass

Penerbit: Harcourt Inc (1999)

Halaman:280p

Beli di: Bookfestijn Utrecht, 2005

Aku belum pernah membaca buku karya penerima Nobel. Ketika BBI mempunyai project baca bareng buku karya penulis pemenang Nobel, aku memutuskan untuk ikut. Perluas cakrawala kan? =) Kebetulan ada satu buku yang belum disentuh sejak 7 tahun yang lalu, dibeli saat aku berkunjung ke pasar buku di Utrecht, Belanda. Beberapa kali hampir menjual buku ini tapi nggak jadi, so now it’s really the time to read it!

My Century merupakan kumpulan 100 kisah pendek bersetting Jerman yang masing-masing mewakili satu tahun dari abad ke- 20. Diawali dengan bab 1900 yang bercerita tentang seorang tentara Jerman di Cina yang menghadapi Pemberontakan Boxer, dan ditutup oleh bab 1999, dengan narator seorang wanita lanjut usia yang  merayakan ulang tahun ke-103 sambil mengenang abad yang akan berlalu.

Sarat dengan sejarah, intrik politik, serta jatuh bangunnya Jerman dalam menghadapi berbagai peristiwa: kalah dalam dua Perang Dunia, inflasi, perpecahan Jerman Barat dan Jerman Timur, bersatunya kembali kedua bagian negara tersebut, sampai membersihkan namanya (sebagai penjahat perang) di kancah internasional. Masing-masing cerita dibawakan oleh narator yang berbeda, mulai dari tentara Nazi yang memuja Hitler, ibu-ibu yang kehilangan anak dalam perang, mata-mata perang, hingga lelaki yang bingung memihak siapa saat Jerman Barat dan Jerman Timur berhadapan dalam Piala Dunia.

Meski setiap babnya hanya terdiri dari dua sampai tiga halaman, buku ini terasa sangat padat. Sebagian besar kisahnya masih menarik untuk disimak, namun sebagian lagi cukup membosankan dan terlalu kering, seperti membaca buku sejarah atau berita di surat kabar rasanya. Beberapa kisah dibawakan oleh sosok Gunter Grass sendiri, yang dengan tidak ragu-ragu mengungkapkan pandangan politik pribadi tentang negaranya. Tahun-tahun ketika Perang Dunia II dan Hitler berkuasa, diceritakan dengan cerdas melalui sudut pandang netral para wartawan perang- tidak memojokkan namun tidak juga membela diri.

Beberapa cerita sangat kental nuansa Jermannya, sehingga bagi aku yang tidak terlalu familiar dengan sejarah bangsa ini, cukup sering merasa lost dan sulit mengikuti jalan cerita. Namun Gunter Grass juga menyelipkan unsur budaya yang membuat buku ini terasa lebih hidup: masuknya televisi sebagai bagian dari pop culture Jerman, perkembangan fashion di awal abad ke-20, perang otomotif dan kecintaan warga Jerman terhadap produk mobil mereka, kisah-kisah olahraga yang menyentuh dan menciptakan sejarah tersendiri.

Beberapa kisah favoritku justru merupakan bab yang mengangkat cerita hidup sehari-hari warga Jerman, seperti:

1928– Kisah seorang ibu yang anak-anaknya memiliki aliran politik yang berbeda-beda,sosial demokrat, komunis dan nazi. Makan malam menjadi ajang perang tersendiri di rumah mereka.

1936- Seorang Jerman keturunan Yahudi di kamp konsentrasi harus menahan dirinya bersorak-sorai merayakan kemenangan Jerman di olimpiade- meski dikhianati bangsanya, kebanggaannya sebagai warga Jerman tidak bisa dihilangkan- very heartbreaking.

1961: Cerita tentang seorang pemuda yang pekerjaannya membuat paspor palsu dan menyelundupkan penduduk Jerman Timur supaya bisa menyeberang ke Jerman Barat.

1973: Usaha seorang ibu untuk melepaskan kecanduan para menantunya terhadap mobil mereka- dengan merancang piknik dan hiking di tengah musim hujan.

Membaca buku ini juga mengingatkanku pada kenanganku tentang Jerman, mencicipi Berlin di musim panas dan Bonn di musim dingin. Karakter kedua belahan negara yang sarat dengan sejarah itu digambarkan dengan sangat indah oleh Gunter Grass. My Century merupakan persembahan Gunter Grass terhadap negaranya yang kompleks, penuh konflik namun tetap dicintainya. And I wish we had a writer like him, who could capture our nation history in such a beautiful way.

Günter Wilhelm Grass (lahir 16 October 1927) adalah seorang novelis, pujangga, penulis naskah, ilustrator, artis grafis dan pematung yang menerima hadiah Nobel Kesusastraan tahun 1999. Sampai sekarang, Grass disebut-sebut sebagai salah satu penulis dari Jerman yang paling terkenal. Datang ke Jerman sebagai pengungsi dari Polandia, Grass menjejakkan kakinya di dunia sastra melalui novel pertamanya yang beraliran realisme magis, The Tin Drum (1959). Grass adalah pendukung Partai Sosialis Demokrat Jerman, dan tak ragu untuk mengungkapkan pandangan politiknya dalam novel dan buku-bukunya. Grass juga aktif menulis puisi, salah satunya di bulan April 2012, yang mengkritik kebijakan Eropa dalam memperlakukan Yunani saat mengalami krisis.