Tags

, , ,

Judul: The Naked Traveler 4

Penulis: Trinity

Penerbit: B first (2013)

Halaman:262 p

Beli di: Gramedia Central Park (IDR 55k)

Baruuuu saja aku memuji-muji Trinity di The Naked Traveler 3 yang lucu dan fresh, ehhh…ternyata lain lagi kesan yang kuperoleh dari bukunya yang terbaru (Dan baru sadar juga ternyata setiap tahun Trinity mengeluarkan satu buku The Naked Traveler, mungkin itu juga salah satu alasan unek-unekku di bawah ini).

Anyway, semakin tinggi jam terbang menulis seseorang, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi: karya-karyanya semakin meningkat, dengan teknik menulis yang lebih canggih dan ciri khas yang kian tajam; atauuu….justru karya-karyanya semakin monoton, dengan teknik penulisan yang gitu-gitu aja, dan cenderung mengambil cara aman untuk menjaga fans bukunya tetap berada dalam jangkauan.

Terus terang, setelah membaca The Naked Traveler (TNT) buku ke-3, harapanku pada Trinity sebenarnya lebih ke arah yang pertama…apalagi karena pengalaman-pengalamannya bertualang menjelajah dunia memang semakin seru dan menarik. Tentu sangat disayangkan kalau kisah-kisah itu diramu dengan cara menulis yang…hmmm…kurang nendang. TNT 3 memenuhi harapanku sebagai seorang pembaca yang juga suka traveling, dari segi kisah yang dimasukkan ke dalam buku, cara bercerita Trinity yang dipenuhi humor segar, dan yang terpenting, masih berkesan humble. Susah lho, menulis tentang traveling tanpa sedikit memasukkan unsur “pamer”.

Sayangnya, penilaianku berubah lagi saat membaca TNT 4, yang sebenarnya kunanti dengan penuh semangat. Beberapa alasan mengapa buku ini cukup mengecewakanku:

  • Tidak ada sesuatu yang baru yang ditawarkan oleh buku ini. Hampir seluruh kisahnya sudah ada di blog, bahkan tanpa tambahan foto atau kalimat pelengkap yang menarik. Setelah setia dengan 4 buah buku TNT, rasanya nggak salah kalau sebagai pembaca aku berharap sesuatu yang lebih, bukan sekadar pengulangan formula lama belaka.
  • Pengaturan bab yang nggak jelas. Setelah cukup kagum dengan buku ke-3 yang termasuk rapi pengaturan babnya, buku ke-4 menurutku terbilang berantakan. Bab tentang Indonesia kurang banyak, sementara bab lainnya agak kurang pas..seperti bab yang menyinggung makanan, tapi nggak semua membahas hal itu. Lalu ada pula cerita singkat tentang Trinity dan passion traveling-nya yang kurang pas dipasang di salah satu bab. Yang paling menarik tentu bab tentang perjalanannya ke Afrika, namun sayangnya, sudah pernah tayang di blog.
  • Cara menulis Trinity semakin lama semakin “nyolot”. Tidak ada lagi humor segar yang “menertawakan diri sendiri” seperti di buku-buku sebelumnya (terutama buku ketiga yang lucu banget). Yang ada, nadanya kok semakin sinis dan banyak komplen? Bukan blak-blakan yang enak untuk disimak. Beberapa contohnya:

Wreck diving pertama saya di Kepulauan Seribu, tepatnya di situs bernama Papa Theo, bersama instruktur saya dan seorang cowok yang baru bisa diving, tapi sombongnya minta ampun (p 134) –> Kemudian diteruskan dengan cerita si cowok sombong itu terkena serangan panic attack pas ngeliat bangkai kapal. Kayaknya ngga penting ya?

Tapi ya gitu deh, tempat populer pasti ramai dengan diver dari segala level sertifikasi sampai saya pengen nabok-nabokin diver yang kebanyakan gerak karena dapat membahayakan saya (p 135) –> Nabok-nabokin? Really?

Ketika saya lagi asyik-asyiknya diving, tiba-tiba ada segerombolan diver di bawah saya lewat sambil berenang gubrak gubruk dengan buoyancy turun naik dan fins mereka menabrak-nabrak karang. Oalah, rupakanya diver-diver itu adalah teman sekapal sendiri yang gerakannya persis bebek kena potas! *tutup mata* …. Ternyata, diving dengan grup kecil dan bersama diver berpengalaman, saya baru merasa enjoy (p 144) –> Memangnya dulu nggak pernah jadi beginner diver kah?

  • Becandaan yang cukup basi mengenai betapa “tuwir” nya Trinity, dan seringnya ia menyinggung “cowok-cowok ganteng”, lama-lama bikin males dan bosenin. Sekali dua kali sih lucu, tapi kalo diulang-ulang terus rasanya kok nggak asyik ya..

Anyway, ini bukan berarti aku kapok membaca cerita Trinity, karena sejujurnya Trinity memiliki pengalaman traveling yang masih jauh lebih menarik dibanding beberapa penulis travel lain di Indonesia. Bukunya pun masih terbilang menyenangkan dibanding buku-buku travel sejenis (apalagi yang berembel-embel “traveling 3 juta keliling blablabla”). Justru, aku berharap mutu bukunya semakin meningkat, apalagi karena Trinity saat ini sedang mengadakan perjalanan keliling dunia selama satu tahun, yang pastinya akan menjadi materi menyegarkan untuk buku selanjutnya. Semoga pengalaman tersebut dapat ditulis dengan lebih fresh, menarik, dan…humble!