Tags

, , , ,

Judul: The Railway Children

Penulis: E.Nesbit

Penerbit: Wordsworth Classic (1993)

Halaman: 202p

Rental di: ReadingWalk

Membaca ulang buku klasik favorit masa kecil saat kita sudah dewasa dan menjadi orang tua memang memberikan kesan tersendiri. Hal-hal yang begitu menarik saat kecil, ternyata banyak menimbulkan pertanyaan benak dewasa kita. Oh, how I wish I could still have the free mind of a child!

Roberta, Peter dan Phyllis adalah kakak-beradik yang berasal dari keluarga berkecukupan. Mereka hidup bahagia dengan ibu dan ayah yang selalu penuh perhatian. Namun suatu malam, segalanya berubah saat dua orang pria membawa pergi ayah mereka. Tanpa penjelasan apapun, ketiga anak tersebut mengikuti ibu mereka pindah ke daerah pedesaan yang terpencil, tinggal di rumah mungil sederhana, dan hidup pas-pasan. “Playing poor”, begitu kata ibu mereka. Tidak ada pelayan, baju mewah dan makanan lezat. Ibu mereka pun sibuk menulis untuk mencari nafkah, sehingga tidak banyak waktu tersisa untuk bermain bersama anak-anak.

Hal ini membuat Roberta, Peter dan Phyllis mencari-cari kegiatan sendiri yang menarik di sekitar tempat tinggal baru mereka. Dan saat itulah mereka mulai jatuh cinta dengan rel kereta api yang melintasi padang di dekat rumah. Setiap hari ketiga anak ini melambaikan tangan pada kereta-kereta yang lewat, memberikan nama pada setiap kereta, bahkan menjalin pertemanan dengan salah seorang penumpang kereta, bapak tua yang baik hati.

Mereka juga berteman dengan orang-orang ramah di stasiun, penduduk desa yang beraneka ragam, serta para pekerja yang tinggal di tepi sungai. Berbagai petualangan mereka hadapi: menyelamatkan kereta dari tanah longsor, hingga menampung seorang pelarian dari Rusia. Hanya satu hal yang masih menghantui mereka: di mana Ayah, dan apakah ia akan kembali di tengah-tengah keluarga?

Membaca kembali The Railway Children membuatku mempertanyakan beberapa keputusan sang ibu dalam buku ini. Apakah tidak lebih baik bila ia menjelaskan semua sejak awal pada anak-anaknya, setidaknya Roberta yang sudah cukup dewasa, daripada menyimpan semua sendiri dan berusaha “melindungi” mereka? Begitu pula dengan harga diri Ibu yang terlalu tinggi, tidak mau menerima bantuan siapapun, bahkan marah besar saat anak-anaknya meminta bantuan orang lain.

Hal-hal ini mengingatkanku kalau kisah anak-anak kereta api memang ditulis di jaman dahulu, sehingga mungkin beberapa bagian terasa kurang relevan dengan jaman sekarang, termasuk kebetulan-kebetulannya yang begitu manis.Di masa kini, mana mungkin anak-anak mau mengikuti saja orangtuanya tanpa bertanya apapun saat ayah mereka tiba-tiba menghilang, apalagi mereka semakin kritis dan penuh keingintahuan.

Bagaimanapun, nostalgia memang selalu menyenangkan, dan The Railway Children berhasil membawaku kembali ke masa kecil yang hangat.

The Railway Children diterbitkan pertama kali tahun 1906, dan sudah diadaptasi ke dalam beberapa film maupun serial televisi. Namun di tahun 2011. Nesbit dituntut melakukan plagiat karena mengambil plot dan adegan dari buku The House by the Railway (Ada J. Graves), termasuk adegan terkenal saat anak-anak tersebut menghentikan kereta api saat terjadi tanah longsor, menggunakan pakaian berwarna merah.